WHO: Tak Ada Alasan Tangguhkan Vaksin AstraZeneca Usai Kasus Pembekuan Darah

ADVERTISEMENT

WHO: Tak Ada Alasan Tangguhkan Vaksin AstraZeneca Usai Kasus Pembekuan Darah

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 07:51 WIB
Bulgaria telah memberikan sekitar 300.000 dosis vaksin AstraZeneca. (Reuters)
Jenewa -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan vaksin virus Corona buatan AstraZeneca.

Pernyataan WHO dikeluarkan tidak lama sesudah Bulgaria dan Thailand mengikuti langkah tiga negara Skandinavia untuk menghentikan sementara penggunaan AstraZeneca dalam program vaksinasi virus Corona.

Langkah itu ditempuh menyusul kematian sejumlah orang di Eropa akibat pembekuan darah, walau belum ada bukti sahih bahwa kematian dipicu vaksin tersebut.

Juru bicara WHO Margaret Harris mengatakan vaksin AstraZeneca aman digunakan.

"Amatlah penting dipahami bahwa pihak berwenang di sejumlah negara itu mengatakan manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya, dan itu sangat penting. Sekarang, satu-satunya alasan penangguhan di sejumlah negara adalah karena mereka meneliti sinyal-sinyal keamanan itu."

"AstraZeneca adalah vaksin yang unggul, sama seperti vaksin-vaksin lain yang sedang digunakan, dan seperti yang saya katakan, kami telah mengkaji data kematian, sejauh ini tidak ada kematian yang diakibatkan oleh vaksinasi," tegasnya.

Pemerintah Indonesia, yang baru saja menerima 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca melalui skema COVAX, mengatakan akan tetap menggunakan vaksin tersebut karena "sudah dikaji terkait keamanannya".

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin ini pada 22 Februari.

"BPOM sudah bahas bersama ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) dan para ahli di bidangnya juga," kata juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmidzi, dalam pesan singkat kepada BBC News Indonesia.

Thailand tunda AstraZeneca

Sebelumnya, Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-Cha, dan para anggota kabinetnya mendadak batal disuntik vaksin AstraZeneca, 30 menit sebelum sesi penyuntikan berlangsung Jumat pagi (12/3), sebagaimana dilaporkan BBC Thailand.

Thailand, vaksin

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha batal disuntik vaksin AstraZeneca. (EPA/RUNGROJ YONGRIT)

Pembatalan acara itu terkait dengan laporan adanya kasus penggumpalan darah yang dialami penerima vaksin tersebut di tiga negara Skandinavia, yakni Denmark, Norwegia, dan Islandia, dan kemudian disusul Bulgaria.

Pemerintah Thailand selanjutnya menyatakan bahwa mereka akan menunggu hasil investigasi sebelum menentukan apakah vaksinasi dengan AstraZeneca tetap berlanjut. Kloter pertama 117.300 vaksin AstraZeneca tiba di Thailand pada 24 Februari dan PM Chan-o-Cha dijadwalkan menjadi yang pertama menerima vaksin tersebut.

Prasit Watanapa, Dekat Fakultas Pengobatan di Rumah Sakit Siriraj, memastikan bahwa program imunisasi dengan AstraZeneca itu ditunda setelah ada kabar penangguhan atas vaksin itu.

"AstraZeneca masih merupakan vaksin yang bagus. Namun, terkait apa yang telah terjadi...kementerian kesehatan berdasarkan pertimbangannya menunda untuk sementara waktu penggunaan AstraZeneca," kata Kiattiphum Wongjit, pejabat senior Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, seperti yang dikabarkan Reuters.

The AstraZeneca vaccines are stored and prepared for vaccination at the Region Hovedstaden

Denmark, Norwegia, dan Islandia menghentikan sementara pemberian vaksin AstraZeneca. (EPA)

Di Filipina, pemerintah setempat menyatakan tidak alasan untuk menangguhkan vaksinasi AstraZeneca di negara itu. Namun lembaga-lembaga terkait tengah berkoordinasi dan memantau masalah tersebut, demikian yang dikabarkan kontributor BBC di Filipina.

Uni Eropa klaim tidak ada indikasi

Sebelumnya, Regulator Obat-obatan Uni Eropa (EMA) menyebut jumlah kasus pembekuan darah pada penerima vaksin Oxford-AstraZeneca tidak lebih tinggi dibandingkan kasus yang terjadi di populasi umum.

EMA mengeluarkan pernyataan tersebut setelah sejumlah negara seperti Denmark dan Norwegia menangguhkan pemberian vaksin itu kepada warga mereka.

Penangguhan itu diputuskan usai muncul laporan bahwa sejumlah orang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Ada juga laporan bahwa seorang laki-laki berusia 50 tahun yang baru menerima vaksin itu meninggal setelah mengalami deep vein thrombosis (DVT) atau penggumpalan darah pada satu atau lebih pembuluh darah vena dalam.

"Saat ini tidak ada indikasi bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi itu, yang tidak terdaftar sebagai efek samping dari vaksin ini," demikian pernyataan EMA, Kamis (11/03).

"Manfaat vaksin ini terus-menerus melebihi risikonya dan vaksin dapat terus diberikan di saat penyelidikan kasus penggumpalan daerah berlangsung," tulis mereka.

Hingga saat ini disebut terjadi 30 kasus trombosis dari total lima juta orang di Eropa yang telah menerima vaksin itu.

AstraZeneca menyebut sudah meneliti keamanan obat secara ekstensif dalam tahap uji klinis.

"Regulator memiliki standar kemanjuran dan keamanan yang jelas serta ketat untuk persetujuan obat baru," kata seorang juru bicara perusahaan bio farmasi itu.

Di Inggris, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) menyatakan tidak ada bukti bahwa vaksin itu memicu persoalan. Mereka menyebut setiap orang harus tetap menjalani vaksinasi sesuai jadwal yang ditetapkan untuk setiap individu.

"Penggumpalan darah dapat terjadi secara alami dan tidak jarang. Lebih dari 11 juta dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca sekarang telah diberikan di seluruh Inggris," kata Phil Bryan, pimpinan bidang keamanan vaksin di MHRA.

vaksin

Vaksin Oxford-AstraZeneca diproduksi secara lokal oleh Serum Institute of India. (Getty Images)

Keputusan menghentikan sementara pemberian vaksin AstraZeneca menjadi kemunduran dalam program vaksinasi di Eropa yang terhenti, antara lain karena penundaan pengiriman obat.

Namun, Kamis kemarin muncul perkembangan positif saat EMA menyetujui penggunaan vaksin dosis tunggal buatan Johnson & Johnson.

"Vaksin yang lebih aman dan efektif tersedia ke pasar," kata Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, dalam akun Twitter miliknya.

Namun beberapa laporan memperkirakan bahwa pengiriman vaksin Johnson & Johnson tidak akan bergulir hingga April mendatang.

Kamis kemarin, sebuah penelitian juga mengungkap bahwa vaksin yang diproduksi perusahaan Amerika Serikat, Novavax, 96% efektif dalam mencegah bentuk awal COVID-19 dan 86% efektif melawan mutasi terbarunya yang muncul pertama kali di Inggris.

Merujuk kantor berita AFP, Novavax berencana mengajukan persetujuan penggunaan vaksin mereka ke pemerintah Inggris selama kuartal kedua tahun 2021.

Negara mana yang tidak menggunakan vaksin AstraZeneca?

Denmark, Norwegia, dan Islandia untuk sementara menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Sementara itu, Italia dan Austria menghentikan pemberian jenis tertentu dari vaksin itu sebagai tindakan pencegahan.

Penangguhan di Italia dan Austria dilakukan terhadap sejumlah vaksin AstraZeneca yang berbeda.

Estonia, Latvia, Lituania, dan Luksemburg menangguhkan penggunaan kelompok vaksin yang sama dengan Austria.

Adapun Rumania menangguhkan penggunaan 4.200 dosis dari kelompok vaksin yang sama dengan Italia.

Dalam pernyataan sebelumnya, EMA menyebut keputusan Denmark merupakan pencegahan yang diambil saat penyelidikan atas laporan pembekuan darah berlangsung.

EMA menyatakan, penelitian itu juga mencakup satu kasus kematian seorang warga Denmark yang baru saja menerima vaksin AstraZeneca.

Otoritas Pengawas Obat Italia menyebut keputusan mereka adalah upaya pencegahan. Meski begitu, hingga kini mereka belum menemukan hubungan antara vaksin AstraZeneca dengan efek samping serius lainnya.

Dua warga Italia dilaporkan meninggal setelah menerima vaksin AstraZeneca.

Sumber yang tidak disebutkan namanya berkata kepada kantor berita Reuters bahwa kematian itulah yang mendorong penangguhan pemberian vaksin untuk sementara waktu. Regulator obat-obatan Uni Eropa (EMA) menyatakan tidak ada indikasi bahwa vaksin COVID-19 yang diproduksi Universitas Oxford dan AstraZeneca dapat meningkatkan risiko pembekuan darah.

Austria, sementara itu, mengambil keputusannya setelah seorang perempuan meninggal 10 hari setelah menerima vaksin AstraZeneca. Dia disebut meninggal karena "masalah pembekuan darah yang parah".

Dosis vaksin yang diberikan Austria kepada masyarakatnya adalah bagian dari satu juta dosis AstraZeneca, yang diidentifikasi sebagai ABV5300. Jenis vaksin ini dikirim ke 17 negara Eropa.

Apa yang dipelajari orang Eropa dari satu tahun COVID-19?

EMA menyebut komite keamanannya sedang meninjau kasus kematian di Austria. Namun mereka menyebut bahwa "tidak ada indikasi bahwa vaksinasi adalah penyebab kematian itu".

Tidak ada rincian kematian yang terjadi di Denmark, tapi pejabat kesehatan setempat menyebut bahwa mereka menghentikan penggunaan vaksin itu selama 14 hari ke depan.

Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke, menyebut keputusan itu sebagai tindakan pencegahan.

Walau belum ada hubungan yang dipastikan antara vaksin AstraZeneca dan kematian tersebut, Henicke berkata mereka harus menanggapi kejadian itu tepat waktu dan secara berhati-hati, sampai kesimpulan nantinya dicapai.

Lembaga kesehatan masyarakat Norwegia menyatakan akan mengikuti langkah Denmark untuk menghentikan semua penggunaan vaksin sampai kasus Denmark diselidiki.

"Kami menunggu informasi lebih lanjut untuk melihat apakah ada kaitan antara vaksin dan kasus pembekuan darah ini," kata Geir Bukholm, petinggi Institut Kesehatan Nasional Denmark.

Islandia juga menangguhkan penggunaan vaksin tersebut. Kepala ahli epidemiologi negara itu berkata kepada lembaga penyiaran publik, Ruv, tentang lebih baik berhati-hati daripada membuat kesalahan.

Di sisi lain, Prancis dan Jerman menyatakan akan terus menggunakan vaksin AstraZeneca. "Manfaatnya lebih tinggi daripada risikonya," kata Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran.

Seberapa signifikankah masalah kesehatan yang terjadi?

Analisis oleh Michelle Roberts, editor BBC untuk isu kesehatan

Para pejabat terkait mengatakan telah menerima laporan pembekuan darah yang fatal atau mengancam jiwa pada sejumlah kecil orang yang baru-baru ini menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Kejadian itu mungkin terdengar mengkhawatirkan, tapi belum diketahui apakah ada hubungan antara kedua hal tersebut.

Investigasi lengkap terhadap kualitas vaksin itu kini sedang berlangsung. Namun klaim bahwa vaksin itu sama sekali cacat dianggap tidak mungkin dikeluarkan.

Secara keseluruhan, 30 kasus pembekuan daerah telah dilaporkan dari total lima juta orang yang menerima vaksin AstraZeneca di sejumlah negara Wilayah Ekonomi Eropa.

Setiap pengobatan yang disetujui, termasuk vaksin, membawa risiko efek samping bagi sebagian orang. Meski begitu, dampak yang muncul biasanya ringan.

Perlu juga dicatat bahwa pembekuan darah dapat terjadi secara alami dan kondisi itu kerap terjadi. Kondisi itu diyakini dialami sekitar satu dari setiap seribu orang di Inggris setiap tahun.

Tonton video 'Ada Isu Pembekuan Darah, WHO: Vaksin AstraZeneca Sangat Baik':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT