Unilever Hapus Kata 'Normal' dari 200 Produk Kecantikan, Kenapa?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 11:46 WIB
Getty Images
Jakarta -

Unilever akan menghapus kata "normal" dari produk kecantikannya dan melarang pengeditan foto model secara berlebihan dalam upaya untuk menjadi lebih inklusif.

Perusahaan pemilik merek Dove itu mengatakan larangan pengeditan akan berlaku untuk "bentuk tubuh, ukuran, proporsi dan warna kulit" dan kata "normal" akan dihapus dari 200 produk.

Bos Unilever mengatakan ingin menciptakan "definisi kecantikan yang lebih inklusif".

Perusahaan tersebut sebelumnya menghadapi tuduhan bahwa mereka mempromosikan stereotip seputar warna kulit gelap.

Perusahaan yang berbasis di London, yang juga memiliki merek kecantikan Simple and Sure, akan melakukan perubahan selama setahun ke depan.

Larangan pengeditan akan mencakup foto yang diambil dari model serta influencer media sosial.

Mengenai perubahan pada strategi pemasarannya, presiden perusahaan untuk produk kecantikan dan perawatan pribadi, Sunny Jain, berkata, "Kami tahu bahwa sekadar menghapus 'normal' dari produk dan kemasan kami tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi ini adalah langkah maju yang penting."

Kata "normal" biasanya digunakan pada kemasan sampo, kondisioner, dan produk wajah, seperti untuk "kulit normal atau berminyak".

Tetapi Roshida Khanom dari firma riset pasar Mintel mengatakan, "'Normal' adalah istilah yang ambigu karena mengindikasikan adanya 'abnormal' dan tidak benar-benar menjelaskan apa pun, jadi sudah saatnya istilah tersebut dihentikan."

"Kaum mudalah yang khususnya mengubah percakapan, gagasan tradisional tentang kecantikan tak lagi berlaku untuk Generasi Z, yang memandang kecantikan sebagai menerima ketidaksempurnaan Anda," katanya.

Unilever mengatakan pada hari Selasa (09/03) bahwa pihaknya juga akan mengambil sejumlah langkah lain dalam upaya untuk mempromosikan "era baru kecantikan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan".

Perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan jumlah iklan yang menggambarkan orang-orang dari kelompok yang kurang terwakili dan menggunakan bahan yang lebih alami dan mudah terurai (biodegradable) di seluruh rangkaian produknya.

Memanfaatkan kesadaran konsumen?

Jain menambahkan bahwa konsumen semakin "menghargai merek" yang mengambil tindakan dalam masalah lingkungan dan sosial. Dia mengatakan kampanye kecantikan pribadi akan membuat Unilever menjadi "bisnis yang lebih sukses".

Namun, perusahaan itu pernah dikritik atas iklan-iklannya dan tuduhan bahwa beberapa produk mempromosikan stereotip negatif seputar warna kulit gelap.

Produk 'Fair & Lovely'

Unilever mengubah nama merek "Fair and Lovely" setelah gerakan Black Lives Matter mendorong perusahaan untuk meninjau kembali pemasarannya. (Getty Images)

Tahun lalu, mereka mengganti nama krim pencerah kulit yang dijual di seluruh Asia dari "Fair and Lovely" menjadi "Glow and Lovely", namun produk tersebut masih terus dijual meskipun ada petisi yang meminta perusahaan tersebut untuk menghentikan produksinya.

"Produk ini bukan dan tidak pernah menjadi krim pemutih kulit," kata Unilever di situsnya.

Perusahaan juga meminta maaf setelah menjalankan kampanye iklan Facebook pada tahun 2017 untuk body lotion Dove yang menunjukkan seorang perempuan kulit hitam melepas kausnya untuk memperlihatkan seorang perempuan kulit putih di bawah kulitnya, kemudian perempuan kulit putih itu membuka baju untuk memperlihatkan seorang perempuan Asia.

Sophie Lund-Yates, analis ekuitas di Hargreaves Lansdown, mengatakan, "Basis konsumen dunia menjadi semakin sadar akan masalah sosial, dan ancaman boikot dan serangan balik berarti raksasa seperti Unilever benar untuk mencoba dan menghindari masalah Humas."

Kejatuhan semacam itu dapat memiliki konsekuensi negatif seperti memukul penjualan atau merusak merek, katanya.

Namun dia berpendapat bahwa mengingat skala Unilever yang sangat besar, dengan sekitar 400 merek, "perubahan kecil seperti ini tidak mungkin berpengaruh pada level operasi".

"Apa yang ditunjukkannya, adalah kesadaran yang meningkat akan masalah yang penting bagi konsumen, dan pendekatan proaktif menunjukkan bahwa manajemen mempedulikannya," imbuhnya.

Unilever telah mengambil sejumlah langkah lain untuk mengatasi masalah sosial.

Pada bulan Januari, perusahaan itu mengatakan akan meluncurkan Crown Fund UK, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk menghentikan diskriminasi seputar gaya rambut hitam, sementara merek es krim Ben & Jerry's telah menyuarakan dukungan untuk protes Black Lives Matter.

(ita/ita)