Ketika Vaksinasi Monyet Dapat Menghentikan Pandemi

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 19:16 WIB
Getty Images
Jakarta -

Demam kuning membunuh sekitar 15% dari mereka yang terinfeksi, namun dapat dicegah dengan vaksin yang efektif. Hambatan dalam vaksinasi manusia membuat para ilmuwan beralih pada alternatif mengejutkan: vaksinasi monyet.

Pada suatu pagi yang mendung di bulan Oktober, sekelompok ilmuwan berangkat ke Hutan Atlantik Brasil, mencari monyet.

Seorang pria membawa apa yang tampak seperti antena TV tua dan parang. Perempuan di sampingnya memegang jebakan berwujud sangkar logam kecil dan dua kantong pisang.

Misi mereka: menghentikan wabah demam kuning pada monyet sebelum menyebar ke manusia.

Brasil sedang mengatasi tingkat kematian Covid-19 tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Namun para ilmuwan khawatir penyakit lain yang lebih mematikan kembali muncul.

Setiap tahun demam kuning menginfeksi sekitar 200.000 orang dan membunuh 30.000 di antaranya. Lebih banyak dari korban serangan teroris dan kecelakaan pesawat digabung menjadi satu.

Penyakit ini disebut demam kuning karena membuat kulit pasien menguning.

Penyebabnya adalah virus yang menyebar antara manusia dan primata melalui nyamuk, dengan gejala antara lain demam parah, sakit kepala, dan pada beberapa pasien, penyakit kuning.

Kasus yang parah dapat menyebabkan perdarahan internal dan gagal hati.

Sekitar 15% orang yang menderita demam kuning akan meninggal, jika tidak divaksinasi. Ini adalah angka kematian yang jauh lebih tinggi daripada Covid-19.

Dalam beberapa tahun terakhir, Brasil mengalami lebih banyak kasus demam kuning daripada negara lain.

Pada bulan Desember 2016, wabah dimulai di Minas Gerais dan menyebar ke kota tetangga, Esprito Santo, keduanya berada di tengah Hutan Atlantik.

Pada saat itu, sekitar 40 juta orang Brasil yang berisiko terkena demam kuning tidak mendapatkan vaksinasi.

Pada Mei 2017, virus telah menyebar ke seluruh Brasil, dengan kawasan terparah di negara bagian tetangga Rio de Janeiro dan Minas Gerais.

Tapi dengan wabah juga menyebar hingga negara bagian utara Par, yang berjarak hampir 4.800 km.

Ini adalah wabah terburuk dalam lebih dari 80 tahun. Lebih dari 3.000 orang terinfeksi. Hampir 400 orang tewas dalam hitungan bulan.

"Ketika ada primata yang terperangkap di hutan kecil dengan kepadatan tinggi... setiap orang mudah terinfeksi," kata Carlos Ramon Ruiz-Miranda, ahli biologi konservasi dari Universitas Negeri Rio de Janeiro Utara.

Di hutan Brasil yang dipenuhi nyamuk, penyakit ini sepertinya cepat berpindah antara monyet tamarin singa emas dan manusia.

Meskipun nyamuk adalah pembawa, manusialah yang memperburuk situasi. Ketika manusia semakin merambah hutan, keanekaragaman hayati berkurang sehingga manusia pun menjadi lebih dekat dengan primata lainnya.

Tren ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat, yang artinya wabah berikutnya mungkin akan lebih mematikan.

Tantangan vaksin

Hanya 80 km dari petak hutan tempat para ilmuwan berburu monyet, adalah kota Rio de Janeiro, wilayah metropolitan terbesar keenam di Amerika.

Enam jam perjalanan ke utara sepanjang pantai Atlantik Brasil ada So Paulo, kota metropolis terbesar di belahan bumi barat.

Hutan yang sangat dekat dengan daerah perkotaan yang padat ini menciptakan kondisi sempurna untuk epidemi dalam skala yang belum pernah terjadi sejak vaksin demam kuning ditemukan, hampir seabad yang lalu.

Epidemi itu tetap berisiko terjadi meskipun demam kuning memiliki vaksin yang "sangat efektif", kata kolega Ruiz-Miranda di Universitas di Rio, peneliti primata dan genetika berusia 33 tahun bernama Mirela D'Arc.

Pada 2018, Menteri Kesehatan Brasil mengumumkan kampanye melawan Demam Kuning, dengan memvaksinasi hampir 80 juta dari 210 juta orang Brasil.

Di beberapa kota, 95% warganya telah divaksinasi. Tetapi di kota-kota terbesar Brasil, angka tersebut hampir tidak mencapai 50%.

Banyak orang Brasil tidak percaya arahan pemerintah dalam hal kesehatan masyarakat. Korupsi di Brasil merajalela dan meskipun vaksin gratis, banyak orang Brasil beranggapan bahwa mereka divaksinasi agar ada yang bisa mengambil keuntungan.

Ketidakpercayaan ini menghambat usaha memvaksinasi 23 juta orang yang tinggal di dan sekitar So Paulo dan Rio.

Setelah wabah 2016-2017, antrean panjang untuk vaksin ditambah berita palsu menyebar di aplikasi bahwa vaksin tak efektif, membuat banyak orang jadi enggan divaksin.

Apalagi, ada kemungkinan jumlah vaksinnya tidak cukup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta produsen farmasi untuk meningkatkan produksi, tetapi vaksin "tetap dibatasi karena kapasitas produksi yang terbatas", kata Unicef.

Akibatnya, penduduk Rio yang divaksinasi demam kuning hanya kurang dari setengahnya.

Tapi mungkin ada cara lain. Ada 7,8 miliar orang di dunia, dan hanya ada 2.500 tamarin singa emas.

Jadi, menghentikan wabah menyebar di antara manusia pada masa depan bisa dilakukan dengan pendekatan baru: memvaksinasi saudara-saudara kita yang berbulu dan menyukai pisang.

"Salah satu cara menghentikan penyebaran penyakit ini adalah dengan memvaksinasi manusia dan monyet tamarin singa emas," kata D'Arc.

"Jika monyet divaksin, akan ada lebih sedikit individu yang membawa penyakit," kata Ruiz-Miranda.

"Artinya, kekebalan kawanan."

Sekilas, monyet tamarin singa emas tampak aneh: mereka seperti buntelan bulu berwarna oranye dengan latar belakang rimbunnya hutan hijau.

Jika diberi kumis dan dicabut ekornya, monyet-monyet ini akan nampak sangat mirip dengan Lorax dalam buku anak-anak tahun 1971.

Dalam buku Dr Seuss itu, makhluk berbulu melindungi hutannya dari manusia yang datang untuk menebang semua pohon. Lorax diambil dari lingkungan alaminya, dipaksa meninggalkan hutan.

Hal yang sama terjadi pada monyet tamarin singa emas Brasil.

Tamarin pernah menguasai petak yang cukup besar di Hutan Atlantik tenggara Brasil. Pada tahun 1970-an, penebangan hutan memangkas habitat mereka menjadi potongan-potongan kecil.

Pada 1971, hanya kurang dari 400 monyet yang tersisa di alam liar, menjadikannya spesies yang sangat terancam punah.

Untuk menyelamatkan mereka dari kepunahan, manusia mengambil satu halaman dari buku Dr Seuss: konservasionis mengambil puluhan monyet dari habitat mereka yang terus berkurang dan memasukkan mereka ke cagar alam di luar kota Rio.

Intervensi berhasil. Pada 2014, populasi monyet tamarin telah pulih menjadi sekitar 1.700-2.400 monyet, menurut Ruiz-Miranda. Sebagian besar hidup di beberapa hutan yang tersisa di Lembah Sungai So Joo.

Ketahanan mereka cukup kuat sehingga klasifikasinya yang semula "sangat terancam punah" berhasil ditingkatnya menjadi "terancam punah". Sepertinya monyet tamarin akan bertahan.

Sampai kemudian wabah demam kuning 2017 melanda.

"Sangat jarang orang menemukan monyet mati di pinggir jalan, itu tidak pernah terjadi," kata Ruiz-Miranda.

Itu sebabnya dia sangat terkejut dengan apa yang terjadi di awal 2017.

Seorang petani membawa timnya ke tamarin yang mati di hutan. Monyet itu dinyatakan positif terkena demam kuning. Mereka menemukan lima lagi monyet mati.

Pada saat berakhir, wabah demam kuning tahun 2017 telah membunuh lebih dari 4.000 monyet. Di antara beberapa kelompok monyet howler, tingkat kematian mencapai 80-90%.

Tamarin yang sudah rentan juga sangat terpengaruh.

"Secara keseluruhan kami kehilangan 30% populasi, dari 3.700 monyet menjadi 2.600 monyet, dalam waktu kurang dari setahun," kata Ruiz-Miranda.

Setelah kejadian itu, tim Ruiz-Miranda mulai melakukan pengambilan sampel rutin di daerah-daerah di mana tamarin mati.

Di mana pun mereka mengambil sampel, katanya, setidaknya satu atau dua monyet dinyatakan positif demam kuning.

Epidemi 2017 menunjukkan bahwa tidak hanya manusia, tetapi tamarin juga bisa rentan terhadap penyakit umum.

"Satwa liar sama-sama menjadi korban penyakit, sebanyak populasi manusia," kata Ruiz-Miranda.

Brasil adalah rumah bagi spesies primata, lebih banyak daripada negara mana pun di Bumi. Untuk menyelamatkan manusia, sekarang kita mungkin harus menyelamatkan monyet tamarin.

Dengan jebakan dan pisang di tangan, itulah yang akan dilakukan D'Arc pada suatu pagi yang mendung di bulan Oktober.

Menangkap monyet

Dalam perjalanan D'Arc dari Rio ke tepi Cagar Biologi Poo das Antas, dia terus melewati tanda-tanda perambahan manusia ke hutan asli: jalan raya, sistem pengairan, pertanian pisang, padang rumput ternak.

"Ada padang rumput ternak sampai ke hutan yang kualitasnya relatif baik," kata Ruiz-Miranda. "Ada jalan raya yang membelah lanskap dan memisahkan cagar alam dari hutan lain."

Tim memasuki hutan melalui celah di pagar kawat. Tidak lama kemudian mereka menemukan apa yang mereka cari.

Dengan bulu oranyenya, monyet tamarin betina dewasa yang dikenal dengan nomor F16 duduk di dahan pohon sempit. Ketika melihat para ilmuwan, dia tidak lari.

Dia bergerak ke arah mereka, penasaran, ekor merah panjangnya terkulai ke bawah.

"Umumnya, hewan takut pada manusia," kata D'Arc.

"Tapi di sini, di pecahan ini, tamarin singa emas sudah akrab dengan kita."

Dipimpin oleh Andreia Martins, tim dari Golden Lion Tamarin Association, sebuah kelompok konservasi nirlaba, mulai bekerja.

Seorang peneliti menggunakan perangkat GPS kecil untuk merekam lokasi monyet, melacak pergerakannya di seluruh hutan. Yang lainnya meletakkan dua jebakan berisi pisang di atas platform kayu buatan tangan di atas lantai hutan.

Para peneliti mengamati saat seekor monyet mendekati kandang, lalu monyet lainnya. Monyet pertama waspada, melompat ke pohon terdekat untuk melihat monyet kedua memasuki kandang untuk mengambil pisang.

Pintu kandang dengan cepat menutup, menjebak tamarin di dalamnya. Monyet ketiga, seekor marmoset, kerabat dekat, memasuki kandang kedua tanpa ragu-ragu dan tertangkap.

Monyet melihat, monyet melakukan.

Begitu mereka berhasil menjebak cukup banyak tamarin, D'Arc dan timnya kembali ke laboratorium.

Mereka lalu mengenakan baju luar pelindung, sarung tangan lateks, dan masker wajah. Untuk memastikan agar monyet tidak merasakan apapun, para peneliti membius mereka.

Kesehatan monyet diperiksa secara keseluruhan, berat badan dan suhu tubuh diukur, serta mengambil sampel feses, darah dan oral. D'Arc memasukkan kapas ke dalam mulut monyet, dengan hati-hati mengusapkannya di sekitar gigi kecilnya.

Lalu datanglah vaksin. Anggota tim dengan lembut mencukur sebagian rambut dari perut bagian bawah monyet. Jarum suntuk masuk ke dalam botol berisi cairan bening, lalu disuntikkan ke monyet.

Setelah semua divaksin, monyet dikembalikan ke perangkap dan dibawa kembali ke hutan sebelum mereka bangun.

Dengan baik hati, atau mungkin sebagai permintaan maaf, Mirela meletakkan seikat pisang di sampingnya.

Pada penghujung hari, tim telah menangkap, mengangkut, mengetes, memvaksinasi, dan mengembalikan delapan tamarin dari tiga kelompok keluarga yang berbeda.

Tetapi pekerjaan mereka baru saja dimulai. Selama dua tahun, kata Ruiz-Miranda, mereka berencana untuk memvaksinasi 500 tamarin singa emas.

Kemudian, mereka akan memindahkan lima kelompok ke Cagar Biologi Poo das Antas, salah satu tempat yang kehilangan banyak monyetnya pada epidemi tahun 2017.

Masalah manusia

Seperti Covid-19, demam kuning mungkin memang dimulai pada hewan. Tapi kemudian manusia menyebarkannya ke seluruh dunia.

"Demam kuning adalah penyakit yang lahir di Afrika. Penyakit ini tidak ada di sini sebelum perdagangan budak," kata Jlio Cesar Bicca-Marques, seorang profesor antropologi di Pontifcia Universidade Catlica do Rio Grande do Sul dan Sekretaris Jenderal International Primatological Society, yang mempelajari demam kuning di antara monyet howler di Brazil.

Penyakit itu dibawa ke Amerika sekitar tiga sampai empat abad lalu, katanya. Amerika tidak siap.

"Primata di Afrika jauh lebih kebal terhadap demam kuning, karena mereka berevolusi bersama virus," kata Bicca-Marques. Tidak demikian halnya dengan monyet Amerika Selatan, seperti tamarin dan howler.

"Primata kita tidak memiliki sejarah, tidak ada perlindungan evolusioner terhadap virus. Maka, beberapa dari mereka jauh lebih rentan terhadap virus dan bisa mati dengan sangat mudah."

Demam kuning menyebar ketika nyamuk betina menggigit manusia atau primata lain yang terinfeksi penyakit, kemudian menggigit dan menginfeksi orang/primata lain.

"Begitu epidemi dimulai, spesies primata memiliki waktu sekitar empat hingga enam hari di mana mereka menjadi viremik, yang berarti virus aktif, dan nyamuk yang menggigit mereka dapat terinfeksi," kata Ruiz-Miranda.

Monyet kemudian menjadi "penguat" penyakit yang dibawa nyamuk.

Saat ini, mereka memperbesar risiko menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Penyebabnya sebagian besar karena penggundulan hutan habitat mereka oleh manusia.

Hutan Atlantik Brasil mencakup sekitar 100.000 km persegi, lebih besar dari seluruh pulau Irlandia.

Tapi hutan itu pernah 12 kali lebih besar. Sebagian besar telah ditebang, terutama dalam lima abad terakhir sejak Portugis datang untuk menjajah Brasil.

Saat hutan dihancurkan, primata dipaksa masuk ke area yang lebih kecil dengan kepadatan yang lebih tinggi.

Hewan jadi punya risiko lebih tinggi untuk menularkan infeksi di antara mereka. Dengan perambahan manusia ke area yang sama, risiko hewan-hewan itu menularkan patogen ke manusia juga meningkat.

Dalam beberapa dekade terakhir, deforestasi didorong permintaan global akan kayu Amazon dan kayu khusus lainnya dari pepohonan Brasil.

Saat ini, penyebab utamanya adalah daging. Sekitar 200 juta sapi sekarang merumput di kawasan Amazon Brasil, hampir satu sapi untuk setiap orang Brasil.

Delapan puluh persen penggundulan hutan yang terjadi di Amazon saat ini dilakukan untuk menebangi hutan dan memberi ruang bagi sapi-sapi ini untuk merumput, dan "perusahaan peternakan kini menempati hampir 75% dari wilayah yang gundul di Amazonia", menurut Bank Dunia.

Penggembala sapi "mengambil area yang luas di Amazon dan membakarnya", kata Bicca-Marques.

"Mereka membakar segalanya."

Tapi yang salah bukan hanya orang Brasil. Sebagian besar daging sapi Brasil diekspor ke negara-negara penghasil daging berpenghasilan tinggi seperti Amerika Serikat.

Pada 2018, Brasil menghasilkan satu dari setiap lima hamburger di dunia.

Hasilnya adalah lanskap yang terkoyak menjadi beberapa bagian. Beberapa kilometer persegi di sini, beberapa di sana, dengan manusia yang tinggal di antaranya.

Terlebih lagi, deforestasi telah mengurangi jumlah spesies berbeda yang hidup di hutan. Itu berbahaya bukan hanya bagi satwa liar, tapi juga manusia.

"Keanekaragaman hayati bertindak sebagai penyangga" terhadap penyakit, kata Ruiz-Miranda.

"Jika Anda menganggap epidemi sebagai spesies invasif, semakin rusak lingkungannya, semakin mudah penyakit untuk menetap," katanya.

Terkurung di fragmen makin mengecil di Hutan Atlantik, monyet dipaksa untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Mereka terpapar risiko infeksi yang lebih besar saat lewat dalam kawasan yang sejangkauan nyamuk dari manusia.

"Monyet dan manusia hidup bersama tepat di sebelah wilayah pertanian," kata Ruiz-Miranda.

"Jadi, ada banyak interaksi antara manusia dan monyet."

Itu adalah resep sempurna terjadinya wabah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tepian Hutan Atlantik bersinggungan dengan pinggiran Rio de Janeiro, rumah bagi lebih dari 12 juta orang (sekitar enam juta di antaranya divaksinasi).

Secara keseluruhan, lebih dari 148 juta orang, sepertiga dari populasi Amerika Selatan, hidup di dalam kawasan ekologis Hutan Atlantik Brasil, menjadikannya 25 kali lebih padat dari Amazon.

Artinya ketika wabah terjadi, demam kuning bisa menyebar dengan cepat.

Kebanyakan tamarin bermigrasi hanya dalam hitungan mil dalam masa hidup mereka. Tetapi manusia dapat menempuh jarak yang sangat jauh dalam hitungan menit atau jam.

Para peneliti mengatakan wabah di Brasil tahun 2017 adalah peringatan, yang menggambarkan seberapa cepat manusia dapat menyebarkan demam kuning dari satu bagian negara ke bagian lain.

Saat manusia terus merambah Hutan Atlantik, wabah demam kuning berikutnya mungkin hanya masalah waktu.

Garis depan hutan

Satu hal yang dapat dilakukan manusia untuk mencegah wabah mematikan demam kuning berikutnya adalah memvaksinasi sebanyak mungkin orang, kata para profesional kesehatan.

Tetapi ahli primata percaya cara lain adalah dengan menghentikan perusakan hutan Brasil dan melestarikan serta menumbuhkan keanekaragaman hayati yang tersisa.

Namun melakukannya adalah perjuangan berat bagi para petani dan penggembala yang tinggal di garis depan hutan.

"Sejak saya masih kecil, enam atau tujuh tahun, deforestasi [normal] di sini," kata Mardone Castro Rodrigues, yang memiliki pertanian keluarga kecil di sepanjang tepi hutan.

Para petani membuka hutan untuk bercocok tanam, katanya. Jika panen terlalu sedikit, mereka akan mengubahnya menjadi padang rumput untuk digembalakan sapi, membuka lebih banyak hutan dan melakukannya lagi.

Saat ini, Rodrigues berusaha menerapkan teknik agroforestri untuk bertani dengan cara yang tidak menguras hutan.

Tetapi dengan seorang istri dan dua anak yang harus diberi makan, katanya, tak banyak yang dapat dia lakukan.

Ana Beatriz Cordero, perempuan berusia 53 tahun yang bekerja di ekowisata, mengatakan ada harapan karena urbanisasi meningkat.

"Orang tidak ingin tinggal di daerah pedesaan, jadi mereka meninggalkannya. Daerah tersebut beregenerasi saat mereka menuju ke kota," katanya.

Cordero bergerak ke arah yang berlawanan, dia meninggalkan kota Rio menuju kota sisi hutan yang bernama Silva Jardim.

Dia menanam anggrek, menanam bibit asli di petak-petak yang habis dihutankan kembali, dan membuat tur untuk anak-anak dan orang dewasa dari kota.

Saat ini, katanya, ada lebih banyak fauna daripada yang dia lihat 15 tahun lalu, termasuk tamarin singa emas.

Dia bilang itu pertanda bahwa manusia bisa menjadi penjaga keanekaragaman hayati, jika kita mau mencoba.

"Tamarin singa emas dicintai di sini. Mereka hewan yang cantik," kata Cordero.

Tapi tidak semuanya suka tamarin, Selama wabah 2017, puluhan monyet di seluruh Brasil dilempari batu, ditembak atau dibakar oleh orang-orang yang khawatir mereka adalah penyebab maut.

"Dulu ketika ada wabah di Brasil selatan, reaksi pemerintah setempat adalah membunuh monyet," kata Ruiz-Miranda.

"Pada titik tertentu, Kementerian Kesehatan menyebut demam kuning sebagai 'penyakit monyet'."

"Tapi monyet adalah penjaga kita. Mereka menunjukkan paea kita saat demam kuning telah tiba."

Ketika epidemi berlanjut, Ruiz-Miranda mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya memohon kepada mereka yang tinggal di dekat hutan: "Jangan keluar dan bunuh monyet!"

"Beberapa orang menganggapnya cantik dan mengagumkan. Yang lain takut karena penyakitnya," kata Rodrigues, sang petani.

"Tapi pikiran orang berubah. Mereka menjadi sadar bahwa monyet adalah korban penyakit demam kuning, seperti halnya manusia."

Pejabat kesehatan memperingatkan wabah demam kuning akan semakin parah, jika manusia dan monyet tak divaksin.

Diperkirakan, Brasil akan membutuhkan 226 juta dosis vaksin manusia pada tahun 2026.

Tidak seperti Covid-19, kita berada di posisi yang lebih menguntungkan dalam hal demam kuning, karena vaksin tersedia secara luas dan efektif.

Dengan pendanaan dan dukungan yang tepat, para ilmuwan mengatakan, kita dapat menghentikan wabah demam kuning berikutnya di Brasil, sebelum wabah itu dimulai.

Anda dapat membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini, How vaccinating monkeys could stop a pandemic, di laman BBC Future

(ita/ita)