Setelah AS, Parlemen Kanada Sebut China Lakukan Genosida pada Uighur

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 12:06 WIB
Ottawa -

Security guards stand at the gates of what is officially known as a vocational skills education centre in Huocheng County in Xinjiang Uighur Autonomous Region, China September 3, 2018

Penjaga keamanan berdiri di gerbang bangunan, yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Kabupaten Huocheng di Xinjiang (Reuters)

Majelis Rendah Kanada menyatakan perlakuan China terhadap populasi minoritas Uighur sebagai genosida. Sebelumnya pemerintah AS telah menyatakan pernyataan senada.

Pernyataan diberikan setelah dilakukan pemungutan suara, yang hasilnya 266-0. Semua partai oposisi mendukung mosi itu, juga beberapa anggota Partai Liberal yang memerintah.

Perdana Menteri Justin Trudeau dan sebagian besar anggota kabinetnya abstain.

Mosi tersebut menjadikan Kanada sebagai negara kedua setelah Amerika Serikat yang mengakui tindakan China sebagai genosida.

Anggota parlemen juga memilih untuk meloloskan amandemen yang meminta Kanada untuk mendesak Komite Olimpiade Internasional memindahkan Olimpiade Musim Dingin 2022 dari Beijing "jika pemerintah China melanjutkan genosida ini".

Trudeau sejauh ini ragu-ragu untuk menyebut tindakan China terhadap minoritas Uighur di Xinjiang sebagai genosida dan mengatakan pemeriksaan lebih lanjut diperlukan sebelum keputusan dapat dibuat.

Hanya satu anggota kabinetnya, Menteri Luar Negeri, Marc Garneau, yang muncul di parlemen untuk pemungutan suara. Garneau mengatakan dia abstain "atas nama pemerintah Kanada".

China mengatakan fasilitas untuk Uighur adalah untuk pendidikan ketrampilan. (Foto arsip)

China mengatakan fasilitas untuk Uighur adalah untuk pendidikan ketrampilan. (Reuters)

Menjelang pemungutan suara, pemimpin oposisi Erin O'Toole mengatakan langkah itu perlu untuk mengirimkan "sinyal yang jelas dan tegas bahwa kami akan membela hak asasi manusia dan martabat hak asasi manusia, bahkan jika itu berarti mengorbankan beberapa peluang ekonomi".

Dalam sebuah surat terbuka kepada Trudeau awal bulan ini yang memintanya untuk "membela China", O'Toole mencatat pelarangan BBC World News baru-baru ini di China - menyusul laporan BBC yang menuduh pemerkosaan sistematis, pelecehan seksual dan penyiksaan di kamp "re-edukasi" China di Xinjiang.

Mosi pada hari Senin itu menandai eskalasi terbaru dalam hubungan Kanada-China, yang telah memburuk selama beberapa tahun terakhir.

Pada akhir pekan, Duta Besar China untuk Kanada, Cong Peiwu, mengatakan kepada Canadian Press bahwa mosi itu "mencampuri urusan dalam negeri [China]".

"Kami dengan tegas menentang itu karena bertentangan dengan fakta," ujarnya. "Tidak ada sama sekali sesuatu yang seperti genosida yang terjadi di Xinjiang."

'Saya yakin bahwa genosida berlangsung'

Sebelumnya, Menteri luar negeri yang ditunjuk Presiden Joe Biden, Antony Blinken, mengatakan ia sepakat dengan temuan yang disebutkan oleh Menlu di bawah Trump, Mike Pompeo bahwa China melakukan genosida dalam tindakan represif terhadap warga Uighur dan Muslim lain.

Sejumlah kelompok hak asasi mengatakan China menahan sekitar satu juta orang Uighur dalam beberapa tahun terakhir dalam program yang disebut negara itu sebagai "kamp pendidikan kembali."

Penyelidikan BBC menunjukkan warga Uighur digunakan sebagai tenaga kerja paksa.

Ketegangan dengan China menjadi salah satu isu selama pemerintahan Trump. Masalah lain termasuk kebijakan perdagangan dan juga isu pandemi virus Corona.

"Saya yakin bahwa genosida berlangsung, dan kami menyaksikan upaya sistematis untuk menghancurkan Uighur oleh China," kata Pompeo dalam pernyataan yang dibuat pada hari terakhirnya sebagai bagian dari pemerintahan Trump.

Pernyataan itu berisi tekanan kepada China namun tidak menyebutkan sanksi baru.

Saat ditanya apakah Blinken sepakat dengan pernyataan Pompeo, ia menjawab, "Itu penilaian saya juga."

Ia menambahkan, "Terkait Uighur, saya rasa kami sama-sama sangat sepakat. Dan paksaan terhadap pria, perempuan dan anak-anak ke kamp konsentrasi, dengan mendidik mereka kembali untuk menyepakati ideologi Partai Komunis China, semua itu mengacu pada upaya melakukan genosida."

Tim Biden mengeluarkan tuduhan serupa Agustus lalu dengan mengatakan warga Uighur mengalami penderitaan "penekanan yang sulit dijelaskan...di tangah pemerintah otoriter China."

Tekanan pada China dan Biden

Analisis oleh BBC China

Pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan hadiah terakhir kepada China, dalam bentuk kecaman.

Pernyataan ini merupakan kecaman paling keras terkait langkah China di Xinjiang.

Uni Eropa, Inggris dan Australia berulang kali mengkritik situasi hak asasi manusia di Xinjiang dan banyak yang mempertimbangkan untuk melakukan langkah yang sama.

Langkah seperti ini dapat mengarah ke tekanan internasional, namun apakah dapat mengubah sikap China?

Beijing tengah melakukan konsolidasi kekuatan politik, pertumbuhan ekonomi positif di tengah pandemi, sementara Washington mengalami kekacauan politik.

Media resmi China segera membalas dan menyebut AS "melakukan genosida" orang Amerika dalam menangani pandemi.

Bagi banyak negara, termasuk AS, hubungan ekonomi dengan China terlalu penting untuk diputus. Namun menyeimbangkan hak asasi dan kepentingan ekonomi semakin sulit.

Walaupun tim Biden mengacu pada penekanan terhadap Uighur sebagai "genosida", Xinjiang mungkin tak menjadi isu prioritas. Namun pemerintahan baru AS akan mengumumkan kebijakan konkret terkait Xinjiang.

Jelas bahwa masalah antara Beijing dan Washington tak akan selesai setelah Trump angkat kaki dari Gedung Putih.

Seperti apa situasi di Xinjiang

China mengatakan negara itu menghadapi "tiga kekuatan setan", separatisme, terorisme dan ekstremisme di kawasan Xinjiang, tempat sebagian besar dari 11 juta Muslim Uighur tinggal. China mengatakan "langkah pelatihan" di Xinjiang diperlukan untuk memerangi masalah itu.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, Xinjiang menyaksikan aliran para pemukim dari mayoritas Han. Sentimen anti-Han dan separatis mulai muncul di daerah itu pada 1990an, dan menimbulkan kekerasan.

Para aktivis mengatakan China mencoba menghilangkan budaya Muslim Uighur dengan memaksa mereka makan babi dan minum minuman beralkohol.

AS saat masih di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump melarang impor kapas dan produk tomat dari Xinjiang, tempat mayoritas Uighur tinggal.

AS pun memperkirakan Xinjiang menghasilkan produk kapas kelima dunia.

China banyak dituduh menggunakan kamp penahanan di Xinjiang untuk para pekerja paksa, khususnya dalam industri kapas.

Penyelidikan BBC pada 2019 menunjukkan, anak-anak di Xinjiang banyak yang dipisah dari keluarga mereka dalam upaya mengisolasi mereka dari komunitas Muslim.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan perempuan Uighur dipaksa menggunakan alat kontrasepsi untuk menekan tingkat kelahiran.

China menyanggah menggunakan sterilisasi paksa di Xinjiang.

(nvc/nvc)