Dipindah ke Pulau Rawan Topan di Bangladesh, Rohingya: Kami Terjebak

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 09:53 WIB
bbc
Bangladesh berencana merelokasi hingga 100.000 pengungsi ke kamp pulau. (Getty Images)
Jakarta -

Sehari setelah tiba di Pulau Bhasan Char, menjelang tengah malam, Halima, yang sedang hamil tua, mulai merasakan sakit menjelang persalinan.

Dia dan keluarganya termasuk di antara pengungsi Rohingya yang baru saja pindah ke pulau itu, yang disediakan pemerintah Bangladesh bagi para pengungsi Rohingya untuk memulai hidup baru.

"Saya takut dan merasa tidak berdaya. Saya meminta belas kasihan Allah," katanya kepada BBC.

Pihak berwenang Bangladesh tidak mengizinkan badan bantuan internasional, kelompok hak asasi manusia, maupun jurnalis masuk ke ke pulau itu.

Tetapi BBC telah melakukan percakapan telepon dengan beberapa pengungsi yang tinggal di kamp yang baru dibangun di pulau tersebut, yang letaknya di lepas pantai Bangladesh.

Wawancara ini menunjukkan kemarahan para pengungsi karena kurangnya fasilitas dasar dan kesempatan kerja.

Pengungsi Rohingya, BangladeshGetty ImagesPengungsi dibawa secara berkelompok ke fasilitas pengungsi di pulau.

Ketika Halima tiba, hari sudah gelap dan cuaca terasa dingin di Bhasan Char. Dia tahu tidak bisa langsung menemukan dokter atau perawat.

"Saya pernah melahirkan sebelumnya, tapi kali ini yang terburuk. Saya tidak bisa memberitahu Anda betapa sakitnya."

Suaminya, Enayet, bergegas mencari seorang perempuan Rohingya yang tinggal di blok yang sama, yang memiliki pengalaman dan pelatihan sebagai bidan.

"Tuhan membantu saya," kata Halima. Dia melahirkan seorang anak perempuan dan menamainya Fathima.

Pengungsi Rohingya, BangladeshGetty ImagesBangladesh mengatakan telah menghabiskan $ 350 juta untuk membangun tempat tinggal baru di pulau itu.

Penganiayaan di Myanmar

Kelompok Rohingya diusir secara paksa dari rumah mereka di Myanmar setelah tentara menyapu negara bagian Rakhine dan membakar banyak desa.

Sekitar satu juta warga Muslim Rohingya berlindung di Bangladesh, yang sebagian besar berakhir di kamp Kutupalong yang penuh sesak di distrik Cox's Bazar.

Bangladesh mencoba, tapi gagal memulangkan pengungsi Rohingya. Sekarang mereka berencana untuk memindahkan 100.000 orang ke Pulau Bhasan Char untuk "membuat kamp tak begitu sesak".

"Saya bertanya-tanya bagaimana kita bisa bertahan di sini," kata Halima, saat mengenang kedatangan mereka ke pulau itu pada awal Desember 2020.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charGetty ImagesPulau ini baru terbentuk pada tahun 2006 dan terletak di daerah rawan topan

"Tempat ini sangat terpencil. Selain kami, tidak ada yang tinggal di sini."

Suaminya diam-diam mendaftar untuk pergi ke Bhasan Char tanpa memberitahunya.

Enayet mengatakan dia mendaftar untuk memindahkan keluarganya dengan harapan kehidupan yang lebih baik.

"Mereka [pejabat Bangladesh] menjanjikan kami banyak hal, seperti sebidang tanah untuk setiap keluarga, sapi, kerbau, dan pinjaman untuk memulai bisnis," katanya kepada BBC.

Pulau yang baru terbentuk

Pulau Bhasan Char muncul dari laut 15 tahun lalu, sekitar 60 km dari pantai Bangladesh.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charBBCPengungsian ini dilengkapi dengan gas untuk memasak, dan Halima mengatakan dia sangat menghargainya

Pulau itu seluas empat puluh kilometer persegi, tidak sampai dua meter di atas permukaan laut, dan seluruhnya terbentuk dari lumpur, yang terbawa arus dari Himalaya ke sungai dan berujung ke laut.

Nelayan lokal menggunakannya sebagai tempat peristirahatan, tetapi belum pernah ada pemukiman manusia di pulau itu sebelumnya.

Pemerintah Bangladesh menghabiskan hampir $350 juta (Rp4,9 triliun) untuk membangun kompleks besar di pulau itu.

Topan

"Standar PBB adalah menyediakan 3,5 meter persegi ruang per orang, tetapi di kamp ini kami menyediakan 3,9 meter persegi," kata Komodor Abdullah Al Mamun Chowdhury.

Dia mengawasi pembangunan tempat penampungan pengungsi di Bhasan Char.

Halima mengaku senang bisa menikmati air yang mengalir, tempat tidur susun, kompor gas, dan toilet bersama di pulau itu.

Tapi, dia pun takut pada topan.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charGetty ImagesWilayah pesisir Bangladesh rentan terhadap angin topan yang merusak

Perserikatan Bangsa Bangsa dan badan bantuan internasional lainnya telah menentang proyek di pulau tersebut, karena rentan terhadap angin topan dan gelombang pasang.

Wilayah ini telah dilanda beberapa topan paling mematikan di dunia dalam sejarah.

Hampir setengah juta orang tewas pada tahun 1970 ketika seluruh garis pantai dilanda topan.

Pada tahun 1985, topan lain menyebabkan kematian hampir 140.000 orang dan Urir Char, sebuah pulau tidak jauh dari Bhasan Char, kehilangan hampir seluruh populasinya.

Tempat penampungan

Orang Rohingya terbiasa dengan topan. Tetapi di rumah baru di pulau itu, mereka merasa takut.

Para pejabat Bangladesh merespons ketakutan itu.

"Kompleks pulau terlindungi dengan baik dengan tanggul setinggi 2,7m dan kami tidak mengalami masalah pada musim hujan terakhir," kata Komodor Abdullah Al Mamun Chowdhury.

"Kami juga memiliki kapasitas untuk menyediakan tempat berlindung bagi 120.000 orang di tempat pengungsian untuk korban topan."

Pengungsi di Bhasan Char disediakan kebutuhan pokok, seperti beras, lentil, dan minyak goreng.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charBBCBeberapa toko telah dibuka tetapi sangat sedikit orang yang punya uang untuk membeli barang

Tetapi para pengungsi perlu membeli barang-barang lain, seperti sayuran, ikan, dan daging.

Tidak ada pasar, tetapi beberapa warga Bangladesh telah mendirikan toko di pulau itu.

"Kami orang miskin," kata Halima, "Kami tidak punya penghasilan untuk membeli makanan dan barang lainnya."

Keluarga itu pun dirundung masalah kesehatan. Halima terbaring di tempat tidur selama tujuh hari setelah melahirkan.

"Saya menyusui bayi saya selama dua minggu. Kemudian ASI saya mengering."

Dokter di klinik pulau menyarankannya untuk memberikan susu formula bayi, tapi tidak tersedia.

Bayi Halima diberi susu kaleng, yang sebetulnya diperuntukkan untuk anak yang lebih dewasa. Tapi anaknya tidak bisa mencerna susu itu dengan baik.

Yang mengkhawatirkan, Halima juga tidak dapat memberi putrinya vaksin wajib.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charGetty ImagesPejabat Bangladesh mengatakan pulau itu memberikan standar hidup yang jauh lebih baik daripada kamp-kamp padat di Cox's Bazar

Suaminya, Enayet, sementara itu menderita asma.

Halima menelepon kakaknya, Noor, yang tinggal di kamp Kutupalong, untuk meminta bantuan mendapat obat untuk dia dan suaminya.

Namun, Noor tidak bisa mengirim obat itu; satu-satunya pilihan adalah membawanya sendiri.

"Saya mendaftarkan nama saya untuk datang ke sini, agar saya bisa membawakan mereka obat yang mereka butuhkan," kata Noor.

Perjalanan satu arah

Tapi, setelah dia mengirimkan barang, Noor tidak bisa kembali.

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charGetty ImagesPara pejabat mengatakan ada 120 tempat pengungsian untuk warga yang terkena topan, yang masing-masing mampu menampung 1000 orang

Semua pengungsi dibawa ke pulau di bawah pengawasan Angkatan Laut dan tidak ada layanan kapal feri yang bisa membawa mereka ke daratan.

Pemerintah Bangladesh belum menjelaskan bagaimana para pengungsi dapat melakukan perjalanan dari pulau itu.

Protes pengungsi

Karena posisi pulau yang terpencil dan kurangnya layanan, para pengungsi tidak melihat prospek pendapatan yang berkelanjutan tanpa dukungan pemerintah.

Perselisihan tentang porsi makanan yang diberikan berubah menjadi protes pertama di pulau itu, selama minggu kedua Februari.

BBC telah melihat video protes itu, yang menunjukkan sejumlah perempuan dan pria Rohingya yang gelisah berlari dengan tongkat dan berteriak.

Pejabat setempat tak menanggap peristiwa itu sebagai hal yang serius.

"Itu bukan protes," kata Shah Rezwan Hayat, Ketua Komisi Bantuan dan Pemulangan Pengungsi (RRRC).

Pengungsi Rohingya, Bangladesh, bhasan charBBCTidak mungkin bagi para pengungsi untuk kembali setelah mereka ditempatkan di kamp pulau

"Mereka biasanya datang berkelompok untuk menerima jatah bulanan, kemudian mereka menyuarakan masalah terkait mata pencaharian mereka."

Pemerintah mengatakan skema yang akan memberi pemasukan bagi pengungsi akan segera diluncurkan. Lebih dari 40 LSM lokal telah mengajukan izin untuk bekerja dengan para pengungsi.

Kembali ke Halima, ia mengaku lelah menunggu situasi menjadi lebih baik dan kampung halamannya sekarang tampak seperti kenangan yang jauh.

"Orang-orang bilang pemerintah Myanmar tidak akan pernah mengizinkan kami kembali. Tapi saya tidak peduli, saya tidak ingin pergi ke sana," katanya.

Penjara terbuka

Namun, jika ada tempat yang ingin dia tinggali, itu bukanlah Bhasan Char.

"Saya tidak pernah tinggal di tempat seperti ini, dikelilingi oleh laut. Kami terjebak di sini. Kami tidak bisa pergi kemana-mana."

Faktanya, semua pengungsi yang berbicara dengan BBC melalui telepon mengatakan jika diberi pilihan, mereka akan kembali ke Cox's Bazar di daratan.

"Jika Anda ingin tinggal di penjara besar bersama keluarga Anda," kata Enayet, "inilah tempatnya."

Nama-nama telah diubah dalam artikel ini untuk melindungi identitas kontributor.

Tonton video 'Bangladesh Kirim Ribuan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)