Situs Malaysiakini Dinyatakan Bersalah Atas Kasus Penghinaan

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 15:37 WIB
Seorang jurnalis mengenakan kaos bergambar Steven Gan (Getty Images)
Jakarta -

Terselip di kawasan niaga yang biasa-biasa saja di distrik pinggiran ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, adalah markas besar eksperimen jurnalisme yang luar biasa. Namun, media yang berkantor di sana saat ini sedang diserang.

Pada hari Jumat (19/02) situs berita independen Malaysiakini dinyatakan bersalah atas kasus penghinaan. Media itu harus harus membayar denda yang cukup besar senilai RM500.000, atau sekitar Rp1,7 miliar.

Pemimpin redaksi dan salah satu pendirinya, Steven Gan, lolos dari hukuman penjara setelah ia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan serupa.

Jaksa Agung mengajukan dakwaan tahun lalu berdasarkan komentar kritis pembaca tentang peradilan yang diterbitkan di situs Malaysiakini, dan kemudian menghapus unggahan tersebut, sebuah langkah dengan implikasi yang mengkhawatirkan untuk semua media berita.

Keberhasilan Malaysiakini untuk bertahan sejauh ini, menjadi lebih luar biasa di negara di mana semua media berita pernah berada di bawah kendali pemerintah, dan di wilayah di mana jurnalisme yang benar-benar independen dan berkualitas sulit ditemukan, berisiko bahaya dan sering terpinggirkan.

Malaysian news site Malaysiakini's editor-in-chief Steven Gan gestures as he arrives at the Federal Court in Putrajaya on July 13, 2020

Steven Gan dinyatakan tidak bersalah atas kasus penghinaan has been found not guilty of contempt (Getty Images)

Pada 1999, Steven Gan dan Pramesh Chandran menemukan kesempatan untuk menciptakan media daring pertama di Asia.

Keduanya adalah mantan pelajar aktivis yang bekerja di surat kabar Malaysia, The Sun.

Kala itu mereka frustrasi oleh sensor negara yang mensyaratkan media harus memiliki izin untuk menerbitkan berita, dan kelompok pro-pemerintah yang menguasai kepemilikan outlet media arus utama.

"Saya percaya pada kebebasan media, namun kami melihat batasannya di Malaysia setiap hari kami bekerja sebagai jurnalis", katanya kepada BBC dalam wawancara sebelum putusan.

Pada September 1998, terjadi pemecatan dramatis dan kemudian penangkapan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim, seorang tokoh populer yang hingga saat itu dipandang sebagai pengganti Perdana Menteri Mahathir Mohamad, yang telah menjabat selama 17 tahun dan mendominasi politik Malaysia.

Itu adalah awal dari pertarungan epik memperebutkan kekuasaan antara kedua pria yang akan berlangsung selama bertahun-tahun.

Steven ingat bahwa beberapa jurnalis berdiskusi menggunakan media baru internet untuk melaporkan apa yang tidak dilakukan media lain.

Steven Gan (R), one of the founder of a news website Malaysiakini, works on a story in his office in Kuala Lumpur on November 20, 2008.

Steven Gan pada 2008 (Getty Images)

"Kami menyadari bahwa kami dapat melakukannya dengan biaya yang cukup rendah, tidak seperti media cetak, kami tidak memerlukan izin, dan Mahathir telah berjanji kepada investor asing bahwa ia tidak akan menyensor internet," katanya.

"Internet sangat baru pada saat itu - Anda tahu, kami menggunakan modem 56k, sangat lambat.

"Orang-orang tertarik dengan isu politik saat itu karena pemecatan Anwar Ibrahim dan kami mengikuti gelombang kebangkitan politik itu. Media arus utama tidak memberitakan apa yang terjadi di lapangan, terutama jika ada sesuatu seperti unjuk rasa di Kuala Lumpur, jadi mereka beralih internet."

Berbasis di pinggiran kota Petaling Jaya, Malaysiakini memulai aktivitasnya hanya dengan tiga jurnalis.

Mereka awalnya berharap untuk mendanai bisnis mereka sendiri melalui kemitraan dengan warung internet, namun kemudian mendapat iklan dari start-up internet selama apa yang kemudian menjadi ledakan dotcom.

Media itu kemudian mendapat hibah US$100.000, atau sekitar Rp1,4 miliar dari Aliansi Pers Asia Tenggara yang berbasis di Bangkok.

Malaysiakini selamat dari kegagalan warung internet, kehancuran dotcom, dan permusuhan langsung dari pemerintah, dengan Perdana Menteri menuduh jurnalis Malaysia pada tahun 2001 berperilaku seperti pengkhianat, dan melarang mereka menghadiri konferensi pers resmi.

Selama bertahun-tahun media itu juga telah mengalami beberapa penggerebekan polisi, menghadapi ancaman tuntutan pidana dan penuntutan. Sepanjang itu terjadi, kata Steven Gan, mereka bersikeras wartawan mereka menjaga standar tinggi jurnalisme.

"Kami adalah media baru tetapi kami menerapkan aturan media lama," katanya.

Tapi mungkin keputusan yang paling penting adalah fokus awal untuk menemukan model bisnis yang layak untuk situs tersebut, jauh sebelum media arus utama lainnya mulai mempertanyakan bisnis mereka di era digital.

"Kami tahu kami perlu menawarkan sebuah situs dengan informasi yang dapat diandalkan, dan kami perlu membuat dampak politik," kata dia.

"Tapi yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki model bisnis yang baik. Anda harus memiliki pemimpin redaksi yang baik, dan juga CEO yang baik yang dapat menjaga sisi bisnis.

"Pendirinya, saya dan Pramesh Chandra, dapat bekerja sama untuk memastikan kami menghasilkan konten yang baik, dan bahwa kami memperoleh penghasilan yang cukup untuk menjaga bisnis tetap berjalan. "

Pada tahun 2002 Malaysiakini adalah salah satu situs berita pertama di mana pun yang beralih ke model berlangganan, pada saat sebagian besar pemirsa berharap mendapatkan berita online secara gratis.

Cara itu membawa keuntungan hampir setiap tahun, dengan pendapatan langganan sering kali menyamai pendapatan dari iklan.

Cara ini juga telah menginspirasi jurnalis Malaysia lainnya, seperti Jahabar Siddique, mantan karyawan Reuters, yang mendirikan situs berita independen lain, The Malaysian Insider.

"Ini memungkinkan jurnalis untuk mempertimbangkan opsi di luar media yang diberangus yang tersedia saat itu. Juga memungkinkan orang seperti saya yang bekerja untuk agensi media internasional untuk mempertimbangkan kembali ke kancah media lokal dan memperluas ruang kosong yang tersedia untuk memberi informasi kepada orang Malaysia dan lainnya tentang Malaysia. "

Maria Ressa talks to members of the media after attending a court hearing in Manila on July 22, 2020, on charges of tax evasion

Maria Ressa memuji Malaysiakini karena telah menunjukkan bahwa organisasi berita independen dapat berhasil di wilayah tersebut (Getty Images)

Maria Ressa, mantan jurnalis CNN dan ABS-CBN yang mendirikan situs Rappler di Filipina pada 2012, dan sekarang menjadi sasaran beberapa tuntutan pidana di bawah iklim media yang tidak bersahabat dari pemerintahan Presiden Duterte, memuji Malaysiakini karena menunjukkan bahwa organisasi media yang kecil dan independen bisa sukses di Asia Tenggara.

"Mereka adalah yang pertama menggunakan platform digital, dan yang pertama muncul dengan model bisnis yang bisa diterapkan untuk berita online. Apa yang hebat tentang Malaysiakini adalah bahwa sejak awal mereka menetapkan standar jurnalisme yang tinggi, dan ketika dihadapkan pada tekanan dari pemerintah, mereka tidak menyerah. Mereka tidak pernah menyerah. "

Pada hari pembebasannya dari hukuman kedua di penjara pada tahun 2018, Anwar Ibrahim berterima kasih kepada Malaysiakini karena memastikan suara-suara yang tidak setuju terdengar.

"Anda telah melakukan pekerjaan luar biasa. Pada saat kita mengalami pembatasan besar-besaran, di mana media hanyalah propaganda yang tak henti-hentinya, Malaysiakini ada di sana."

Malaysian politician Anwar Ibrahim waves to his supporters outside the headquarter of People's Justice Party (PKR) on March 1, 2020 in Kuala Lumpur, Malaysia

Anwar Ibrahim berterima kasih kepada Malaysiakini karena memastikan suara-suara yang tidak setuju terdengar. (Getty Images)

Malaysiakini disukai oleh lingkungan yang tidak terlalu represif dibandingkan di banyak negara tetangga, dan lingkungan ekonomi yang lebih menguntungkan.

Ada kelas menengah yang besar dan terpelajar di Malaysia, yang tidak hanya tertarik untuk membaca pandangan alternatif tetapi juga untuk membayar langganan, atau menyumbang, seperti yang mereka lakukan ketika situs berita membutuhkan kantor baru tujuh tahun lalu.

Mereka memberi RM 1.000, atau sekitar Rp3,4 juta untuk sebongkah batu bata.

Bisnis anak usahanya juga sukses, seperti unit periklanannya yang pendapatannya terus meningkat.

Namun pencapaian sebenarnya, kata Profesor Zaharom dari Malaysia Campus di Nottingham University, adalah memperluas debat politik di masyarakat Malaysia.

"Saya yakin, hal itu telah memberi orang Malaysia cara berbeda untuk menafsirkan politik Malaysia. Itu juga membuka jalan bagi portal berita lain untuk muncul dan berkembang. Bahkan telah membuat media arus utama pindah ke platform lain, memanfaatkan internet, untuk menyebarkan pesan mereka," katanya.

"Selain memberikan berita yang berbeda pendapat, Malaysiakini telah menunjukkan kepada banyak orang Malaysia bahwa ada lebih dari satu sudut pandang, dan bahwa sah untuk mempertanyakan otoritas."

Prime Minister of Malaysia Muhyiddin Yassin in the House of Parliament Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia on July 13, 2020

Pemerintahan Muhyiddin Yassin terbukti kurang toleran dengan laporan media yang kritis (Getty Images)

Saat ini, Steven Gan tidak sendirian mendapati dirinya menjadi subjek investigasi kriminal.

Tahun lalu enam jurnalis dari Al Jazeera diinterogasi oleh polisi atas laporan dugaan penganiayaan terhadap migran di Malaysia selama Covid-19, atas dugaan melanggar tiga undang-undang. Dua jurnalis lainnya juga diperiksa untuk pemberitaan mereka.

Menyusul runtuhnya pemerintahan reformis yang dipimpin oleh Mahathir Mohamad setelah kembali pada pemilu 2018, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin sekarang memimpin koalisi yang dibentuk Maret lalu.

Pemerintah Muhyiddin terbukti kurang toleran terhadap pelaporan kritis daripada pendahulunya dalam iklim politik yang sekarang lebih panas dan kurang dapat diprediksi.

(ita/ita)