Cerita WNI Terdampak Mati Listrik dan Cuaca Dingin Ekstrem di Texas

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 19:22 WIB
Rumah-rumah tanpa listrik di tengah udara ekstrem. (Reuters)
Jakarta -

Sekitar tujuh juta orang di negara bagian Texas diminta untuk merebus air keran sebelum dikonsumsi di tengah cuaca ekstrem yang menyebabkan mati listrik.

Gelombang cuaca ekstrem di wilayah selatan Amerika Serikat itu menyebabkan paling tidak 21 orang meninggal dan jutaan lainnya mengalami mati listrik di tengah cuaca membeku.

Mati listrik terjadi di sebagian besar Texas dan dari jutaan orang yang terdampak termasuk sejumlah warga negara Indonesia, yang bercerita mereka "menyalakan lilin" dan mengenakan jaket tebal.

Cuaca membeku juga menyebabkan pipa air bocor.

Pembangkit tenaga listrik kewalahan dalam memenuhi kebutuhan listrik untuk lampu dan pemanas di tengah suhu paling dingin dalam lebih 30 tahun lalu, dengan suhu terdingin sampai -18C pekan ini,

Cuaca ekstrem ini akan berlanjut sampai akhir pekan.

Kematian warga disebabkan oleh badai salju yang terjadi di Texas, Louisiana, Kentucky, North Carolina dan Missouri.

Cerita WNI yang terdampak

Eka Clarawati yang tinggal di Houston bersama keluarganya termasuk satu di antara jutaan orang di Texas yang terdampak.

Eka tinggal di apartemen dan mengalami mati listrik selama beberapa hari dan "terpaksa menggunakan lilin", tanpa pemanas, dan mengenakan jaket tebal.

"Dari Minggu malam sudah sangat dingin, Senin pagi listrik mati, tak ada aliran gas, tak ada lampu, tak bisa menyalakan heater (penghangat) tapi air masih bisa, pagi-pagi keluar cari makan, semuanya tutup, yang buka hanya pompa bensin," cerita Eka kepada BBC News Indonesia.

"Akhirnya kami di rumah dan malam kami menggunakan lilin untuk penerangan. Baru pertama kami mengalami mati listrik sejak tinggal di Texas pada 2003.

"Mati lampu dan tak bisa masak karena semua tergantung listrik, mobil sempat dua hari lalu masih bisa distater, tapi mau coba pergi sudah mati," cerita Eka kepada BBC News Indonesia.

"Teman-teman lain juga kena giliran. Dua hari lalu, aku ke rumah teman yang masih nyala, sehari setelah itu, tempat dia giliran mati listrik, apartemen aku sekarang sudah nyala," tambahnya.

Eka Kristanto, ketua masyarakat Muslim Indonesia di Houston, sempat berkeliling kota dan menyaksikan "begitu banyaknya rumah-rumah yang mati listrik. Seperti kota mati."

"Ada beberapa gerai fast food yang buka, antreannya luar biasa," kata Eka.

Eka Kristanto tak mengalami mati listrik namun mengatakan, "Banyak teman WNI yang mati listrik (rumahnya). Dari cerita teman teman yang tidak ada listrik, mereeka pakai baju berlapis lapis. Rata-rata tidak mau ke hotel karena Covid-19. Hotel juga banyak yang mati lampu, pompa bensin banyak tutup."

"Baru kali ini ekstrem dinginnya. Biasanya cuma maksimum 0 derajat Celcius, itupun cuma sehari," tambah Eka yang sudah 11 tahun tinggal di Houston.

Sampai Rabu sore (17/02) waktu setempat, badan cuaca AS, National Weather Service (NWS) mengatakan badai terburuk telah melalui Texas namun lebih dari 100 juta warga Amerika masih diperingatkan akan cuaca sangat dingin.

NWS mengatakan cuaca sangat dingin akan berlaku sampai beberapa hari lagi dan lebih dari 71% wilayah AS tertutup salju.

Badai salju ini juga melanda bagian tengah dan pusat Meksiko, dan jutaan orang mengalami mati listrik secara bergiliran.

Di bawah ini, foto-foto di Texas.

Antrean di toko-toko.

Antrean di toko-toko. (Getty Images) Image shows temperatures in US BBC Banyak hotel penuh karena orang memilih menginap di hotel karena lampu mati. EPA Banyak hotel penuh karena orang memilih menginap di hotel karena lampu mati. Kecelakaan karena jalan licin di Pierce, Texas.

Kecelakaan karena jalan licin di Pierce, Texas (Getty Images)

Simak video 'Cuaca Ekstrim di Texas Tewaskan 21 orang':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)