Demonstran Myanmar: Turun Diktator Militer, Jangan Arahkan Senjata ke Rakyat

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 13 Feb 2021 07:51 WIB
Demonstran memegang poster bertuliskan, "Saya tak ingin kediktatoran". (Reuters)
Naypyitaw -

"Saya sudah bersiap untuk yang terburuk."

Demikian kata-kata Tayzar San, seorang aktivis yang telah memimpin demonstrasi di jalanan Myanmar untuk menentang kudeta militer sejak awal.

Aktivis lain sambil terisak berteriak, "Mengapa Anda menyerang rakyat? Kami berdaerah. Apakah Anda polisi rakyat?"

Massa kemudian berteriak, "Turun diktator militer. Bebaskan pemimpin kami. Anda tak diajarkan untuk mengarahkan senjata ke rakyat."

Militer menguasai Myanmar pada 1 Februari, seraya menuduh adanya kecurangan dalam pemilu November lalu yang dimenangkan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi.

Suu Kyi ditempatkan dalam tahanan rumah dan banyak pejabat NLD lainnya juga telah ditahan.

Tetapi tidak seperti kebanyakan orang di Myanmar yang setuju untuk berbicara kepada wartawan dengan syarat identitasnya tidak dipublikasikan, San bersedia namanya disebutkan - meski dia sedang dalam pelarian.

Polisi tahu siapa dia dan mereka mencarinya di pusat kota Mandalay, tempat tinggalnya.

Petugas polisi anti huru-hara dan truk meriam air dikerahkan dalam unjuk rasa melawan kudeta militer di Yangon, Myanmar.

Polisi menggunakan peluru karet, meriam air, dan peluru tajam untuk membubarkan pengunjuk rasa pada hari Selasa (09/02). (EPA)

San mengaku paham risiko memperjuangkan demokrasi di negaranya.

"Saya pikir saya bahkan harus mengorbankan hidup saya untuk menentang kudeta militer dan kediktatoran ini," katanya kepada program Newsday BBC. "Jadi saya membahasnya dengan keluarga dan teman-teman dekat saya dan memutuskan untuk memimpin protes."

Demonstrasi

Bendera NLD

Puluhan ribu orang menentang larangan demonstrasi dari pemerintah dan kembali turun ke jalan untuk hari kelima pada hari Rabu (10/02). (Getty Images)

Puluhan ribu orang kembali ke jalan pada hari kelima, Rabu (10/02), untuk berdemonstrasi dan menentang larangan pemerintah.

Ada beragam kelompok pengunjuk rasa - dari pegawai negeri dan dokter, hingga pelajar, binaragawan, dan perempuan dengan gaun pesta. Di negara bagian Kayah, Myanmar timur, puluhan polisi tampak telah bergabung dan melakukan demonstrasi mereka sendiri.

Namun kepolisian Myanmar tak tinggal diam. Mereka mulai menggunakan taktik tangan besi, dengan mengerahkan peluru karet, meriam air, dan peluru tajam untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Para pengunjuk rasa menggunakan selimut plastik untuk melindungi diri mereka dari meriam air pada Selasa (09/02).

Para pengunjuk rasa menggunakan selimut plastik untuk melindungi diri mereka dari meriam air pada Selasa (09/02). (Reuters)

Seorang perempuan ditembak di bagian kepala saat berdemonstrasi di ibu kota, Nay Pyi Taw, pada Selasa (09/02), dan dalam kondisi kritis.

Ada laporan cedera serius tetapi sejauh ini tidak ada korban jiwa.

"Kami tahu [bahwa militer terorganisir] tetapi kami, orang-orang di Myanmar, membenci kediktatoran militer, terutama generasi muda: kami menyebutnya 'Generasi Z'," kata San.

"Saya percaya kekuatan rakyat kami, kekuatan orang-orang yang tak berdaya."

'Gerakan protes tanpa pemimpin'

Binaragawan ikut berunjuk rasa di Myanmar

San berkata unjuk rasa berjalan spontan dan 'tidak ada pemimpin besar'. (AFP)

Kudeta itu dilakukan ketika sidang parlemen akan dibuka.

Angkatan bersenjata mendukung kelompok oposisi dalam pemilu dan menuduh pemerintah menolak untuk bertindak atas tuduhan kecurangan.

Komisi pemilihan mengatakan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Pada Selasa malam (09/02), markas besar NLD di kota terbesar negara itu, Yangon, digerebek.

Menurut pantauan BBC Burma, pasukan keamanan mendobrak pintu secara paksa. Tidak ada anggota partai yang hadir di dalam gedung pada saat itu. Tayangan kantor berita AFP menunjukkan kondisi kantor pusat NLD, ketika server-server komputer rusak dan lemari-lemari baru digeledah.

A protestor wearing a Spiderman costume gives the three-finger salute as he rallies against the military coup and to demand the release of elected leader Aung San Suu Kyi, in Yangon, Myanmar, February 10, 2021.

Reuters

San berpikir orang-orang di Myanmar harus bangkit melawan militer, bahkan jika mereka ditangkap.

"Bahkan (bila) saya ditangkap, atau pemimpin lain ditangkap, masih banyak orang yang bisa memimpin demonstrasi ini dan ini memperjuangkan demokrasi," kata San.

"Saya bukan pemimpin besar dalam gerakan protes ini. Saya hanya orang biasa dan warga negara bertanggung jawab yang menentang kediktatoran militer. Kami menggunakan kepemimpinan kolektif. Setiap warga negara adalah pemimpin diri mereka sendiri."

Myanmar women in wedding gowns holds up placards during a demonstration

Getty Images

Dia menyatakan yakin bahwa demokrasi akan menang di Myanmar.

"Di Mandalay, seluruh kota sekarang memprotes kudeta militer, kediktatoran militer. Tapi kami berdemonstrasi dengan sangat damai, tanpa kekerasan," kata San.

"Pasukan keamanan sekarang menggunakan kekuatan untuk melawan kami ... tapi kami akan terus berjuang untuk demokrasi."

(nvc/nvc)