Ekspedisi Challenger, Pelayaran 150 Tahun Lalu Temukan Ribuan Spesies Baru

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 18:58 WIB
Getty Images
Jakarta -

150 tahun lalu, ekspedisi HMS Challenger menghabiskan waktu tiga setengah tahun untuk mempelajari samudra yang masih bebas plastik. Mereka menemukan Palung Mariana dan ribuan spesies baru. Pelayaran terobosan ini masih berdampak hingga hari ini.

Dulunya rumah pribadi, kini struktur batu megah di Boswall Road, Edinburgh itu adalah bagian dari rumah perawatan paliatif.

Bangunan ini memiliki nama yang sama dengan salah satu bagian terdalam lautan dan dua pesawat ruang angkasa NASA: Challenger.

Challenger Lodge pernah dimiliki oleh John Murray, pelopor oseanografi terkenal yang perjalanannya membawanya sejauh mungkin dari Edinburgh, meski masih berada di Planet Bumi.

Kapal yang dia tinggali selama tiga tahun pada 1870-an adalah penghubung antara rumah itu, bagian terdalam jurang laut kita, dan pesawat ruang angkasa NASA.

HMS Challenger adalah kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang dibangun pada tahun 1850-an. Kapal itu dicatat dalam sejarah bukan karena karier peperangannya, tetapi karena prestasi yang diperoleh dengan susah payah.

Prestasi itu adalah pelayaran selama tiga tahun melintasi dunia sejauh 68.000 mil laut (125.900 km), demi melakukan pengamatan ilmiah, dan bukan proyeksi kekuatan angkatan laut.

Pelayaran ini mengubah cara kita memandang lautan. Di sepanjang jalan, mereka menemukan spesies yang hidup di kedalaman gelap bawah laut. Bukan hanya ratusan, tapi ribuan.

***

Lautan adalah jalan raya pada akhir abad ke-19. Pesawat jet pengangkut barang baru akan ditemukan seabad kemudian, dan rel kereta api belum melintasi sebagian besar dunia, sehingga sebagian besar perdagangan dunia bergantung pada kapal. Meskipun sangat penting dalam perdagangan dan kekuasaan kolonial, samudra dalam bagaikan berada di planet lain.

Romawi dan Yunani kuno telah dengan susah payah memetakan garis pantai Laut Mediterania dengan cukup akurat. Tetapi kartografi hanya memetakan garis pantai, sementara lautan di sekitarnya masih dianggap sebagai dunia ular raksasa dan monster pemangsa kapal.

Ketika orang Yunani Kuno pertama kali mulai menjelajahi ke luar Mediterania sekitar 2.900 tahun yang lalu, penemuan arus utara ke selatan yang kuat membuat mereka yakin bahwa mereka telah menemukan sungai besar. Dari bahasa Yunani okeanos yang berarti sungai, muncullah kata samudra.

BACA JUGA

Selama berabad-abad, oseanografi relatif tak berkembang. Garis pantai dipetakan, spesies yang bisa diangkut dengan jaring ditarik dan diteliti, dan kedalaman dicatat. Tetapi sebagian besar lautan tetap menjadi misteri, terutama pada palungnya yang dingin dan tak terlihat.

Setelah zaman eksplorasi dan kolonisasi Eropa yang penuh kekerasan, perhatian mulai beralih pada apa yang ada di bawah permukaan laut. Upaya awal ini bersifat sporadis, dan hanya menjelajahi sebagian kecil lautan pada waktu tertentu.

Baru pada tahun 1760-an ada misi oseanografi khusus pertama, yaitu ekspedisi Denmark ke laut di sekitar Mesir di Semenanjung Arab yang mengumpulkan spesimen dengan jaring dan peralatan pengerukan sederhana.

Pada abad ke-19 barulah oseanografi bisa disebut memasuki usia dewasa. Ekspedisi yang lebih kecil dan tidak ambisius dalam beberapa dekade sebelum tahun 1870-an berperan penting dalam pelayaran Challenger, kata Helen Rozwadowski, pendiri program studi maritim di University of Connecticut. Perlahan tapi pasti, ekspedisi kecil itu menjadi pondasi untuk eksplorasi seambisius Challenger.

"Anda tidak begitu saja melakukan perjalanan pelayaran selama tiga setengah tahun," kata Helen. "Ada dua hal yang mendahuluinya, salah satunya adalah pekerjaan hidrografi yang dilakukan ahli hidrografi Inggris dan Amerika."

AS membuka jalan dalam riset laut dalam sampai tahun 1860-an. Setelah itu Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang tidak lagi harus berperang di Crimea, mengisi kekosongan ketika AS jatuh ke dalam perang saudara.

Memahami lebih banyak tentang topografi lautan menjadi lebih mendesak ketika telegraf makin meluas, kata Rozwadowski. Satu-satunya cara telegraf dapat menghubungkan Amerika Utara dengan Inggris, misalnya, adalah melalui kabel yang diletakkan di sepanjang dasar laut.

"Sebenarnya ada dua pelayaran sebelum Challenger, pertama, HMS Lightning dan kemudian HMS Porcupine. Pelayaran itu diatur antara Royal Society dan Angkatan Laut, dan semula Challenger juga akan seperti itu karena isinya orang-orang yang sama. Lightning dan Porcupine dikirim untuk melihat apakah pemeruman (pengukuran kedalaman laut) dan pengerukan bisa dilakukan untuk melihat apa yang mungkin ditemukan."

Setelah dua misi eksplorasi ini tercapai, misi Challenger disetujui oleh pemerintah Inggris pada tahun 1870. Angkatan Laut Kerajaan diminta untuk menyediakan kapal. Sama seperti perlombaan luar angkasa seabad kemudian, salah satu alasan ekspedisi tersebut dilakuan adalah karena kebanggaan nasional, kata Penelope Hardy, profesor sejarah di Universitas Wisconsin La Crosse.

"Mereka juga merespons misi Skandinavia yang menemukan crinoid hidup-hidup, padahal makhluk ini sebelumnya hanya dikenal sebagai fosil. Salah satu alasan mengapa Challenger terlihat begitu inovatif adalah karena misi ini mencapai titik di mana teknologi memungkinkan mereka untuk menyelam lebih dalam daripada yang pernah dilakukan siapa pun sebelumnya.

"Tapi salah satu kunci utamanya adalah mereka mengklaim sebagai pihak yang memulai oseanografi, jadi semua orang percaya," kata Hardy.

"Ahli kelautan Amerika, Matthew Maury adalah orang pertama yang menggunakan istilah oseanografi dalam bahasa Inggris. Dan yang penting tentang dia adalah bahwa dia benar-benar melihat lautan sebagai sistem yang perlu dipelajari bersama. Itulah yang kita pikirkan tentang oseanografi, kan? Bukan tempat tertentu, tapi sebuah pendekatan."

Rozwadowski mengatakan bahwa temuan Challenger menjadi lebih penting hanya karena kita sekarang memahami dampak aktivitas manusia terhadap lautan.

"Menurut saya, perjalanan Challenger adalah puncak dari teknologi, pengorganisiran, dan pertanyaan tentang alam selama puluhan tahun," kata dia. Menurutnya, laporan ilmiah yang muncul dari perjalanan itu kemudian menjadi "dasar untuk ilmu oseanografi modern".

Ketika Challenger dipilih oleh angkatan laut untuk ekspedisi, usianya sudah lebih dari satu dekade, setelah menjalani karir yang solid namun biasa-biasa saja. Bukan perang, tapi ilmu pengetahuanlah yang membuat namanya tetap hidup.

"Senjata diturunkan dari kapal, tapi pelayaran tetap dilakukan di bawah bendera angkatan laut," kata Mills. "Mereka sangat yakin tidak akan diserang, dan bisa mendarat di seluruh dunia, di pelabuhan mana pun yang mereka pilih."

Perjalanan Challenger keliling dunia akan berlangsung selama 1.250 hari. Di abad 21 pun itu akan sulit, apalagi di tahun 1870-an. Meskipun ada mesin uap kecil, mesin ini lebih sering dipakai untuk menggerakkan platform pengerukan atau untuk menjaga kapal agar tidak hanyut saat sedang mengukur kedalaman. Sebagian besar perjalanan epik kapal itu dilakukan dengan layar.

Mills memiliki pengalaman pelayaran oseanografi. Pada 1990-an, di awal karirnya, dia ikut serta dalam ekspedisi ke Atlantik Tengah dengan kapal ilmiah Rusia. Meskipun bedanya 120 tahun, ada beberapa kesamaan. "Kehidupan di kapal Rusia terkadang tidak nyaman," katanya. "Memang tidak ada yang terkena penyakit kudis, tapi makanan kami bukanlah makanan yang seimbang."

Challenger angkat sauh pada Desember 1872 dari Portsmouth, pada sebuah musim dingin Inggris yang sangat dingin. Kapal itu menuju selatan ke arah Portugal, di mana ahli kimia John Buchanan mengklaim bahwa kapal tersebut telah memulai bidang sains yang sama sekali baru.

"Buchanan mengatakan dalam tulisannya nantinya, 'ilmu oseanografi lahir di laut', dengan tanggal dan garis lintang dan bujur, saat Challenger melakukan pengerukan yang sangat dalam di lepas pantai Portugal," kata Hardy.

Challenger dipimpin oleh kapten angkatan laut George Nares dan kepala ilmuwan Charles Wyville Thomson, yang kemudian diberi gelar kebangsawanan karena pekerjaannya dalam ekspedisi itu.

Thomson-lah yang telah membujuk Angkatan Laut Kerajaan untuk meminjamkan HMS Lightning dan Porcupine untuk operasi pengerukan sebelumnya di laut dalam di lepas pantai Norwegia.

Munculnya crinoid membuat Thomson bersemangat. Begitu pula keragaman hewan lain dari laut yang sangat dalam. Thomson ingin tahu apa yang mungkin ditemukan dalam perjalanan yang lebih lama dan lebih ambisius di tempat-tempat yang jauh di seluruh dunia.

Kapal itu membawa tim yang terdiri dari lima ilmuwan, seorang prosector (yang memotong tubuh untuk dibedah) dan seorang seniman, bersama dengan 21 perwira angkatan laut dan 216 awak.

"Sungguh menakjubkan membayangkan bahwa semua orang ini terikat selama tiga setengah tahun perjalanan berlayar di seluruh dunia," kata Judith Wolf, ilmuwan di National Oceanography Center Liverpool yang juga anggota Challenger Society.

Challenger diisi dengan peralatan untuk peran barunya, dari toples spesimen kaca dan pengawet alkohol hingga barometer, peralatan pengerukan, termometer air, dan wadah khusus untuk mengambil hewan dan puing dari dasar laut untuk dibawa kembali ke permukaan.

"Semua ilmuwan sudah di kapal, sibuk menyimpan peralatan mereka," tulis asisten pramugara Joe Matkin kepada sepupunya tidak lama sebelum pelayaran dimulai. "Ada ribuan botol kecil kedap udara, dan kotak kecil seukuran kotak Valentine yang dikemas dalam tangki besi untuk menyimpan spesimen, serangga, kupu-kupu, lumut, tanaman, dll. Ada ruang foto di dek utama, juga ruang bedah untuk beruang, paus, dll."

Ada tali juga, banyak sekali tali. Saat berlayar, Challenger membawa lebih dari 291 km tali rami Italia, cukup untuk dibentangkan dari London ke Kepulauan Channel.

Menurut Challenger Society, setiap pengukuran kedalaman lebih dari sekadar pengukuran kedalaman sederhana menggunakan tali berbobot. Ini juga adalah proses pengamatan ilmiah: Kedalaman yang tepat diukur, sampel lumpur dan air dibawa dari dasar, suhu dicatat pada serangkaian kedalaman, serta pengeruk dan penarik jaring mengumpulkan fauna.

"Challenger melakukan 362 sounding selama perjalanannya," kata Wolf. "Setiap kali mereka harus melakukannya, pengeruk juga akan diturunakn untuk menarik apa pun yang bisa diambil."

Kapal keruk itu akan menumpahkan banyak sekali lumpur ke dek kapal. Sebagiannya adalah sisa-sisa kehidupan laut yang sudah lama mati. "Sangat membosankan," kata Wolf.

Meskipun termometer ketika itu tidak setepat yang digunakan saat ini, metode yang digunakan untuk menandai suhu tinggi dan rendah di air dapat digunakan oleh para ilmuwan bahkan hingga hari ini, kata Mills.

"Pembacaannya mungkin tidak terlalu akurat tetapi tepat, jadi para ilmuwan saat ini dapat menyesuaikannya ... perbedaan antara suhu atas dan bawah sangat tepat. Itu saja pun sudah sangat berguna bagi para ilmuwan saat ini."

Pertama, Challenger berlayar ke Kepulauan Canary sebelum menyeberangi Atlantik ke Bermuda dan menyeberang lagi ke Cape Verde, sambil teralih ke Kanada. Dari Cape Verde dia menyeberangi Atlantik lagi, menyusuri pantai Brasil hingga mencapai Tristan De Cunha dekat Tanjung Harapan pada bulan Oktober 1873.

Dari sana, Challenger melintasi hamparan luas samudra Pasifik dan Hindia bagian selatan yang kosong, jauh ke selatan hingga menemukan gunung es.

Pada Maret 1874 mereka berada di Australia, Selandia Baru beberapa bulan kemudian, lalu berlayar ke pulau-pulau Polinesia yang tersebar dan melakukan perjalanan memutar mengelilingi Asia Tenggara.

Hampir setahun kemudian kapal itu berlabuh di Yokohama di Jepang. Challenger kemudian mengelilingi pulau-pulau di seberang Pasifik dan perairan pesisir Amerika Selatan sebelum berlayar di sekitar Cape Horn pada Januari 1876. Setelah lima bulan menjelajahi berbagai bagian Atlantik, mereka kembali ke rumah pada Mei 1876.

Mereka tiba, dengan hanya sekitar 140 awaknya. Kematian dan desersi telah memakan korban.

Kru Challenger sesumbar bahwa mereka telah mengunjungi setiap benua kecuali Antartika. Suhu dan kondisi laut yang ekstrim menjadi ujian, bahkan sampai hari ini.

"Saya mencoba membayangkan bagaimana orang-orang ini bisa berhasil tanpa kain berteknologi tinggi dan hal-hal lain untuk menghangatkan badan," kata Hardy, veteran Angkatan Laut AS.

"Personel angkatan laut seringkali mencandai para ilmuwan, yang beberapa di antaranya memang pernah berlayar, tetapi sisanya tidak punya banyak pengalaman. Para pelaut mengolok-olok ilmuwan karena tidak tahu istilah untuk barang-barang di kapal. Segera setelah meninggalkan pelabuhan, cuaca buruk datang. Perwira angkatan laut berkata 'Oh bagus ini untuk memastikan semuanya sudah siap', tapi semua ilmuwan berlindung di kamar dan tidak muncul lagi sampai cuaca membaik."

Para pria ilmuwan dan perwira angkatan laut mendominasi catatan. Jauh lebih sulit menemukan suara para pelaut biasa, kata Hardy. Surat asisten pelayan, Matkin, mungkin merupakan catatan terbaik.

"Dia banyak menceritakan anekdot yang menunjukkan bahwa para kru kurang tertarik dengan pelayaran ini," katanya. "Coba, orang-orang ini mengeruk banyak sekali lumpur dari dasar laut dan membuangnya ke dek. Lalu para pelaut harus melakukan semua pekerjaan manual dan kemudian membersihkan semuanya."

Pada bulan Maret 1875, penemuan paling mengagetkan terjadi secara tidak sengaja. Di dekat Guam, kru melakukan sounding rutin. Kapal itu kebetulan berada di atas apa yang sekarang kita sebut sebagai Palung Mariana, saluran luas di antara dua lempeng tektonik yang membentang hampir 2.560 km.

Challenger berhasil menemukannya secara tidak sengaja, sesuatu yang digambarkan Mills sebagai "benar-benar kebetulan".

Kedalaman suara tersebut mencapai 4.475 depa (8,1 km) dan merupakan bagian terdalam dari lautan yang belum pernah ditemukan. Hari ini bagian terdalam palung dikenal sebagai Challenger Deep.

challenger

Awak Challenger dilaporkan terobsesi menangkap hiu selama perjalanan. (Getty Images)

Pekerjaan Challenger sangat melelahkan, namun hasilnya sangat meningkatkan pengetahuan manusia tentang apa yang hidup jauh di bawah laut. Spesies-spesies baru ditemukan dengan kecepatan yang luar biasa. "Di mana pun mereka berhenti, mereka akan mengirim peti spesimen sesering mungkin," kata Wolf.

Kerang kecil hingga hiu laut besar, spesimen yang dikumpulkan Challenger dikirim kembali ke Inggris, dan disebarkan di antara lembaga ilmiah di seluruh dunia.

"Mereka memutuskan agar kelompok taksonomi dipelajari oleh siapa pun yang ahli di bidang itu. Mau mereka orang Jerman atau Amerika atau siapa pun," kata Rozwadowski.

"Itulah salah satu alasan mengapa laporan itu punya kekuatan abadi hingga kini. Laporan itu ditulis oleh para ahli, tidak peduli siapa mereka atau dari mana, dan ditulis oleh orang-orang yang dianggap punya otoritas di bidangnya."

"Pembangunan jaringan dan distribusi hasil ekspedisi ini juga bisa dikatakan menjadi dasar bagi pembentukan suatu bidang [studi ilmiah]," kata Hardy.

Perjalanan panjang Challenger tidak seberapa jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyusun semua yang mereka temukan.

Perlu 23 tahun untuk menyelesaikannya. Charles Wyville Thomson meninggal beberapa tahun setelah perjalanan, tampaknya karena kelelahan berurusan dengan para penerbit.

"Laporannya berkembang menjadi 50 volume," kata Wolf. "Dan setiap jilidnya setebal Alkitab."

Ribuan spesimen yang diawetkan oleh Challenger masih ada, sebagian besar disimpan di Museum Sejarah Alam London, dan sebagian lain disimpan dalam arsip institusi di seluruh dunia.

Ada dorongan baru untuk menyelidikinya, untuk memberikan informasi baru dan penting bagi para ilmuwan saat ini, kata Mills.

Meningkatnya jumlah karbondioksida di atmosfer akibat aktivitas manusia, sedikit demi sedikit menyebabkan lautan menjadi lebih asam. Sampel hewan dari pelayaran itu masih digunakan untuk memahami bagaimana lautan berubah sejak saat itu.

"Jika Anda mempelajari kerang tertentu, dan Anda akan tahu bahwa cangkangnya menjadi lebih tipis karena meningkatnya keasaman laut. Kami punya catatan ukuran kerang itu 150 tahun yang lalu, berkat Challenger," kata Mills.

Perlu diingat juga bahwa saat Challenger mengarungi samudra di dunia, tidak ada plastik. Ribuan hewan yang dikumpulkan kru, dan setiap sampel air yang diambil, bebas dari partikel plastik.

Seratus lima puluh tahun setelah berlayar, kerja keras Challenger membuka mata kita untuk melihat bagaimana samudra berubah, jauh di luar pandangan kita.

Versi asli artikel ini dapat Anda baca di BBC Future dengan judul The quest that discovered thousands of new species.

Simak video 'Yuk Ikuti Lagi Ekspedisi Tapal Batas Terbaru!':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)