WHO: Sangat Tidak Mungkin Corona Berasal dari Laboratorium China

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 09:36 WIB
Jakarta -

Tim pakar internasional yang menyelidiki asal-usul Covid-19 menolak anggapan bahwa virus corona tersebut berasal dari laboratorium di China.

Peter Ben Embarek, kepala misi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan "sangat tidak mungkin" virus itu adalah bocoran dari laboratorium di kota Wuhan.

Dia mengatakan perlu penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber virus.

Penyelidikan sekarang bisa fokus di Asia Tenggara, kata seorang pakar kesehatan.

Tim WHO saat ini dalam tahap akhir misi investigasi mereka.

Wuhan, yang terletak di Provinsi Hubei, adalah tempat virus Covid-19 pertama kali dideteksi pada 2019. Sejak itu, lebih dari 106 juta kasus dan 2,3 juta kematian telah dilaporkan di seluruh dunia.

Dr Embarek mengatakan dalam konferensi pers bahwa penyelidikan telah mengungkap informasi baru, namun tidak secara dramatis mengubah gambaran tentang wabah tersebut.

Para para pakar percaya bahwa virus kemungkinan besar berasal dari hewan sebelum menyebar ke manusia, tapi mereka belum yakin bagaimana caranya.

Dr Embarek mengatakan penyelidikan untuk mengidentifikasi asal-usul Covid-19 mengarah pada kelelawar sebagai "reservoir alami", tetapi ini mungkin tidak terjadi di Wuhan.

Dia berkata identifikasi jalur penyebaran melalui hewan adalah "pekerjaan yang sedang berlangsung", namun virus tersebut "kemungkinan besar" telah berpindah ke manusia dari spesies perantara.

Para ahli juga mengatakan "tidak ada indikasi" bahwa virus tersebut beredar di Wuhan sebelum kasus pertama resmi tercatat di sana pada Desember 2019.

Liang Wannian, seorang pakar di Komisi Kesehatan China, mengatakan Covid-19 mungkin berada di wilayah lain sebelum terdeteksi di Wuhan.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoPasar seafood Huanan di Wuhan ditutup pada 1 Januari 2020 (AFP)

Tim WHO meminta penyelidikan lebih lanjut tentang kemungkinan penularan melalui "rantai dingin", merujuk pada pengangkutan dan perdagangan makanan beku.

Dr Peter Daszak, anggota tim WHO, mengatakan fokus pada asal usul penyebab Covid-19 dapat dialihkan ke Asia Tenggara.

"Kami telah melakukan banyak penyelidikan di China dan jika Anda memetakannya kembali, ia mulai mengarah ke perbatasan dan kami tahu bahwa sangat sedikit pengawasan di sisi luarnya, di seluruh wilayah Asia Tenggara," katanya kepada Wartawan BBC John Sudworth di Wuhan.

"China adalah tempat yang sangat besar dan Asia Tenggara adalah tempat yang sangat besar. Rantai pasokan ke pasar makanan laut Huanan sangat luas, mereka datang dari negara lain, mereka datang dari berbagai bagian China, jadi untuk benar-benar menelusuri semua itu akan perlu upaya keras. "

Dia menambahkan bahwa sekarang fokus penyelidikan seharusnya pada rantai pasokan tersebut.

Misi WHO dimulai pada Januari, menyusul berbulan-bulan negosiasi dengan Beijing. Kunjungan para ahli diawasi secara ketat oleh otoritas Tiongkok.

Tugas yang rumit

Analisis Michelle Roberts, editor kesehatan BBC News

Tidak mungkin bahwa kelompok ahli, dalam misinya yang bermuatan politik, dapat memastikan sumber pandemi di China setahun setelah wabah dimulai. Akan tetapi, setelah mengunjungi Institut Virologi Wuhan, mereka menutup teori kontroversial bahwa virus Covid-19 berasal dari kebocoran di laboratorium atau dibuat oleh para ilmuwan.

Mereka mencari petunjuk hingga ke "pasar basah" yang sekarang terkenal di Huanan - menjual ikan, daging, dan hewan liar hidup - yang dikaitkan dengan beberapa kasus pertama pada manusia.

Tim tersebut mengatakan virus corona mungkin telah berpindah dari hewan ke manusia, tetapi mereka belum punya buktinya.

Kemungkinan pembawa virus termasuk kelelawar dan trenggiling, tetapi tes sejauh ini belum menemukan bukti yang meyakinkan untuk ini. Hal lain yang diselidiki ialah apakah virus itu bisa menyebar melalui makanan beku impor. Penyelidikan asal-usul ini akan terus berlanjut.

Teori laboratorium

Spekulasi tentang Institut Virologi Wuhan - salah satu laboratorium penelitian virus top di China - dimulai tahun lalu dan disebarkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Pada bulan April, pesan dari Departemen Luar Negeri AS yang terungkap ke publik menunjukkan bahwa pejabat kedutaan khawatir akan keamanan hayati di sana.

Kantor direktur intelijen nasional AS pada saat itu mengatakan bahwa walaupun virus tersebut bukan buatan manusia atau hasil rekayasa genetika, pihak berwenang menyelidiki apakah wabah dimulai melalui kontak dengan hewan atau melalui kecelakaan laboratorium.

Tetapi Dr Embarek mengatakan kunjungan ke laboratorium selama misi menunjukkan "sangat tidak mungkin" ada yang bocor.

Dia mengatakan teori laboratorium "tidak ada dalam hipotesis yang akan kami sarankan untuk penelitian di masa depan".

(ita/ita)