Lima Hari 'Kritis' di Wuhan yang Tentukan Penyebaran Corona Sedunia

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 04 Feb 2021 14:15 WIB
Jakarta -

Setahun lalu, pemerintah China mengunci kota Wuhan. Padahal berminggu-minggu sebelumnya, para pejabat menyatakan wabah itu dapat dikendalikan - hanya beberapa puluh kasus yang terkait dengan pasar hewan. Nyatanya virus itu telah menyebar ke seluruh kota serta wilayah-wilayah lain di China.

Ini adalah kilas balik lima hari kritis yang menentukan pada masa awal pandemi.

Short presentational grey lineBBC

Pada 30 Desember 2019, sejumlah orang dibawa ke rumah sakit di pusat Kota Wuhan karena menderita demam tinggi dan pneumonia.

Kasus pertama yang diketahui adalah seorang pria berusia 70 tahun. Dia jatuh sakit pada 1 Desember. Banyak di antara pasien-pasien ini terkait dengan pasar hewan hidup, Pasar Seafood Hunan, sehingga para dokter mulai mencurigai bahwa penyakit yang diidap pasien-pasien ini bukanlah pneumonia biasa.

Berbagai sampel dari paru-paru yang terinfeksi dikirim ke perusahan pengurutan genetika untuk mengidentifikasi penyebab penyakit yang diderita pasien-pasien ini. Hasil awalnya menunjukkan adanya virus baru corona yang mirip dengan Sars.

Informasi ini disampaikan ke pejabat kesehatan setempat dan Pusat Pengawasan Penyakit China (CDC), tetapi tak ada pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat.

Meskipun saat itu tak ada seorang pun yang tahu, diperkirakan antara 2.300-4.000 orang sepertinya terinfeksi, menurut permodelan data dari Lab MOBS di Northeastern University di Boston.

Wabah itu diperkirakan bertambah hingga dua kali lipat setiap beberapa hari. Pakar epidemiologi menyatakan pada tahap awal pandemi, tiap satu hari bahkan tiap satu jamnya merupakan masa kritis.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoPasar seafood Huanan di Wuhan ditutup pada 1 Januari 2020 (AFP)

30 Desember 2019: Waspada virus

Sekitar pukul 16:00 pada 30 Desember, Kepala Departemen Kegawatdaruratan di RS Pusat Wuhan menerima hasil tes yang dilakukan oleh laboratorium Capital Bio Medicals di Beijing.

Keringat dinginnya seketika muncul saat ia membaca laporan hasil tes, demikian menurutnya dalam wawancara dengan media pemerintah China di kemudian hari.

Pada bagian atas laporan itu tertulis: "SARS CORONAVIRUS". Perempuan itu melingkari kalimat tersebut dengan tinta merah terang, dan membagikannya kepada sejumlah kolega di China melalui aplikasi WeChat.

Dalam waktu 1,5 jam, foto dengan lingkaran warna merah besar itu sampai ke tangan seorang dokter di departemen oftalmologi [dokter spesialis penyakit mata] RS Pusat Wuhan, Li Wenliang.

Ia kemudian menyebarkannya kepada ratusan anggota grup universitas seraya menambahkan peringatan, "Jangan menyebarkan pesan ini kepada orang di luar grup ini. Persiapkan keluarga Anda dan orang-orang tercinta untuk mengambil langkah pencegahan."

Ketika Sars menyebar di China bagian selatan pada akhir tahun 2002 dan 2003, Beijing menutupi wabah itu dan berkeras bahwa semuanya dalam kendali. Hal itu menyebabkan virus menyebar ke seluruh dunia.

Respons Beijing itu menuai kritik dunia internasional serta kemarahan dan protes di dalam negeri. Situasi tersebut membuat khawatir rezim yang sangat peduli akan stabilitas.

Antara tahun 2002-2004, sindrom pernapasan akut Sars menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan hampir 800 orang di dunia.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoRobert Maguire dari WHO dan seorang dokter di China menjenguk seorang pasien Sars di Guangzhou, China April 2003 (AFP)

Dalam beberapa jam, tangkapan layar dari pesan yang dikirimkan Li telah menyebar luas secara online. Jutaan orang di dunia maya di China mulai membicarakan Sars.

Dalam perkembangannya, hasil tes tersebut keliru- penyakit yang tengah berkembang itu bukan Sars tapi sebuah virus corona jenis baru yang mirip dengan Sars. Namun masa-masa itu adalah masa kritis. Berita mengenai potensi pandemi telah menyebar ke publik.

Komisi Kesehatan Wuhan telah menyadari ada sesuatu yang terjadi di berbagai rumah sakit di kota tersebut. Hari itu, sejumlah pejabat dari Komisi Kesehatan Nasional di Beijing datang, dan sampel paru-paru tersebut dikirim ke sedikitnya lima laboratorium pemerintah di Wuhan dan Beijing secara bersamaan.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoPerumahan di Wuhan, China - April 2020 (AFP)

Selagi pesan-pesan berseliweran di media sosial China tentang Sars yang kemungkinan kembali berjangkit, Komisi Kesehatan Wuhan memerintahkan dua hal kepada semua rumah sakit.

Pertama, mereka harus melaporkan semua kasus ke Komisi Kesehatan. Adapun perintah kedua adalah melarang rumah sakit membuat pernyataan kepada publik tanpa izin pemerintah.

Dalam 12 menit, dua perintah itu bocor di dunia maya.

Bila bukan karena upaya Marjorie Pollack, ahli epidemiologi yang sangat berpengalaman, mungkin perlu beberapa hari hingga obrolan online di media sosial China itu sampai ke masyarakat dunia.

Pollack yang menjabat Wakil Editor ProMed-mail, sebuah organisasi yang mengirimkan peringatan tentang wabah penyakit ke seluruh dunia, menerima email dari seorang kontak di Taiwan.

Dia menanyakan apakah Pollack tahu sesuatu tentang obrolan online tersebut.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoDr Marjorie Pollack, epidemiologi yang berbasis di New York (Getty Images)

Pada tahun 2003, ProMed adalah media pertama yang memberitakan tentang wabah Sars. Kini, Pollack seperti mengalami dej vu.

"Reaksi saya adalah: 'Kita dalam masalah'," katanya kepada BBC.

Tiga jam kemudian, ia selesai menulis sebuah unggahan darurat, meminta lebih banyak informasi tentang wabah baru tersebut. Tulisannya dikirim ke sekitar 80.000 pelanggan ProMed semenit sebelum tengah malam.

Short presentational grey lineBBC

31 Desember: Tawaran bantuan

Ketika pesan mulai tersebar ke luar China, Profesor George F Gao, selaku direktur jenderal Pusat Pengawasan Penyakit China (CDC), menerima sejumlah tawaran bantuan dari berbagai kontak di penjuru dunia.

China memperbaiki infrastruktur penanganan penyakit menularnya setelah Sars - dan pada 2019, Gao berjanji sistem pengawasan online China yang luas akan dapat mencegah wabah lain.

Namun dua ilmuwan yang menghubungi Gao saat itu, menyatakan kepala CDC tersebut tidak tampak khawatir.

"Saya mengirim SMS yang sangat panjang kepada George Gao, menawarkan untuk mengirim tim dan melakukan apapun untuk mendukung mereka," kata Dr Peter Daszak, ketua kelompok penelitian penyakit menular yang berbasis di New York, EcoHealth Alliance, dalam wawancara dengan BBC.

Namun balasan dari emailnya yang sangat panjang itu hanyalah pesan singkat berisi ucapan Selamat Tahun Baru.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoDirektur Chinese Center for Disease Control, George F Gao 22 Januari 2020 (AFP)

Epidemiolog Ian Lipkin dari Universitas Columbia di New York juga mencoba menghubungi Gao. Tepat saat ia akan makan malam untuk merayakan Tahun Baru, Gao membalas teleponnya.

Detil yang diungkapkan Lipkin tentang percakapan mereka memberikan wawasan baru tentang apa yang siap dikatakan oleh pejabat China terkemuka pada titik kritis saat itu.

"Dia telah mengidentifikasi virusnya. Itu adalah virus corona baru. Dan ia bilang virus itu tidak sangat mudah menular. Jawabannya benar-benar tidak sejalan dengan pemikiran saya, karena saya mendengar banyak, banyak orang telah terinfeksi," kata Lipkin kepada BBC.

"Saya pikir dia tidak berbohong. Menurut saya dia hanyalah keliru," tambahnya.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoEpidemiolog Ian Lipkin (BBC)

Lipkin mengatakan Gao seharusnya merilis hasil pengurutan genetika yang telah mereka peroleh. "Menurut saya, ia harus merilis hasil uji itu. Hal itu terlalu penting untuk merasa bimbang."

Gao, yang menolak permintaan wawancara dari BBC, mengatakan kepada media pemerintah bahwa hasil pengurutan genetika itu dirilis secepat mungkin, dan ia tidak pernah mengatakan secara terbuka bahwa tiada penularan dari manusia ke manusia.

Hari itu, Komisi Kesehatan Wuhan mengeluarkan siaran pers yang menyatakan bahwa 27 kasus virus pneumonia telah diidentifikasi, tetapi tidak ada bukti jelas penularan dari manusia ke manusia.

Perlu waktu 12 hari, hingga akhirnya China membagikan hasil pengurutan genetika tersebut dengan komunitas internasional.

Pemerintah China menolak sejumlah permintaan wawancara yang diajukan BBC. Pemerintah China malah mengirimkan pernyataan rinci tentang tanggapan China, yang menyatakan bahwa dalam perang melawan Covid-19, China "selalu bertindak dengan keterbukaan, transparan, dan bertanggung jawab, dan pada waktu yang tepat."

Berita terkait:

1 Januari 2020: Kefrustrasian internasional

Hukum internasional menetapkan bahwa wabah penyakit menular baru yang menjadi perhatian global dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam 24 jam.

Namun pada 1 Januari, WHO masih belum mendapatkan pemberitahuan resmi mengenai wabah tersebut. Sehari sebelumnya, pejabat WHO telah melihat unggahan dan laporan ProMed secara online, sehingga mereka menghubungi Komisi Kesehatan Nasional China.

"Hal itu dapat dilaporkan," kata Profesor Lawrence Gostin, Direktur Pusat Kolaborasi WHO untuk hukum kesehatan nasional dan global di Universitas Georgetown-Washington DC, yang juga anggota pakar Peraturan Kesehatan Internasional.

"Kegagalan untuk melaporkan, jelas merupakan pelanggaran terhadap Peraturan Kesehatan Internasional."

Dr Maria Van Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO yang kelak menjadi pimpinan teknis Covid-19 di badan tersebut, ikut dalam banyak rapat darurat pertama pada tengah malam tanggal 1 Januari.

"Kami awalnya berasumsi bahwa yang terjadi itu mungkin adalah virus corona baru. Bagi kami, yang jadi masalah bukanlah apakah penularan dari manusia ke manusia sudah terjadi, melainkan sejauh mana dan di mana itu terjadi."

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoDr Maria Van Kerkhove (AFP)

Butuh waktu dua hari bagi China untuk menanggapi WHO. Namun apa yang mereka sampaikan masih samar, bahwa telah ada 44 kasus virus pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

China mengatakan telah berkomunikasi secara teratur dan penuh dengan WHO mulai 3 Januari. Namun rekaman pertemuan internal WHO yang diperoleh oleh kantor berita Associated Press (AP)-beberapa di antaranya dibagikan kepada PBS Frontline dan BBC- memberikan gambaran yang berbeda.

Rekaman itu mengungkapkan kefrustrasian yang dirasakan pejabat senior WHO pada pekan berikutnya.

"Pernyataan 'tidak ada bukti penularan dari manusia ke manusia' tidak cukup baik. Kami perlu melihat datanya," kata Mike Ryan, direktur program darurat kesehatan WHO, dalam rekaman tersebut.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoKantor WHO di Jenewa, Swiss (AFP)

Sesuai aturan yang berlaku, WHO memiliki kewajiban untuk menyampaikan pernyataan resmi berdasarkan informasi yang diberikan China.

Meskipun mereka mencurigai telah terjadi penularan dari manusia ke manusia, WHO tak dapat mengonfirmasi hal itu hingga tiga pekan berikutnya.

"Kekhawatiran itu tidak pernah mereka tampilkan kepada publik. Pada dasarnya mereka mengikuti keputusan China," kata Dake Kang dari AP.

"Pada akhirnya, kesan yang didapat seluruh dunia adalah kesan yang diinginkan oleh pemerintah China. Yakni semuanya terkendali. Yang sebenarnya tidak demikian."

Short presentational grey lineBBC

2 Januari: Membungkam para dokter

Jumlah orang yang terinfeksi virus itu berlipat ganda setiap beberapa hari, dan semakin banyak orang datang ke rumah sakit Wuhan.

Namun - alih-alih mengizinkan dokter untuk menyampaikan kekhawatiran mereka secara publik - media pemerintah memulai kampanye yang secara efektif membungkam mereka.

Pada 2 Januari, China Central Television memuat berita tentang para dokter yang menyebarkan berita tentang wabah empat hari sebelumnya.

Para dokter, yang disebut sebagai "penjual rumor" dan "pengguna internet", dibawa untuk diinterogasi oleh Biro Keamanan Umum Wuhan dan 'ditangani' sesuai dengan hukum'.

Salah satu dokter itu adalah Li Wenliang, dokter mata yang peringatannya menjadi viral. Dia menandatangani pengakuan. Pada bulan Februari, dokter tersebut meninggal karena Covid-19.

Pemerintah China mengatakan bahwa hal ini bukanlah bukti bahwa mereka mencoba untuk menekan berita tentang wabah, ataupun mendesak dokter seperti Li untuk tidak menyebarkan informasi yang belum dikonfirmasi.

Namun dampak dari sikap pemerintah China itu sangat kritis. Walaupun para dokter sebenarnya telah melihat dengan jelas ada penularan dari manusia ke manusia, mereka dicegah untuk mempublikasikannya.

Seorang petugas kesehatan dari RS Pusat Wuhan, tempat dokter Li bekerja, memberi tahu kami bahwa selama beberapa hari berikutnya "ada begitu banyak orang yang mengalami demam. Situasi itu di luar kendali. Kami mulai panik. [Tetapi] rumah sakit memberi tahu kami bahwa kami tidak diizinkan untuk berbicara dengan siapa pun."

Pemerintah China mengatakan kepada kami, "dibutuhkan proses ilmiah yang ketat untuk menentukan apakah virus baru itu dapat ditularkan dari manusia ke manusia".

Pihak berwenang terus mempertahankan pernyataan 'tidak ada penularan dari manusia ke manusia' selama 18 hari berikutnya.

Short presentational grey lineBBC

3 Januari: Memo rahasia

Berbagai laboratorium di China berlomba untuk memetakan urutan genetik lengkap virus tersebut. Di antara mereka adalah seorang ahli virus terkenal di Shanghai, Profesor Zhang Yongzhen, yang mulai melakukan pengurutan pada 3 Januari.

Setelah bekerja selama dua hari berturut-turut, ia memperoleh urutan lengkap. Hasilnya menunjukkan virus yang mirip dengan SARS, dan karena itu kemungkinan besar dapat menular.

Pada 5 Januari, kantor Zhang menulis kepada Komisi Kesehatan Nasional yang menyarankan untuk mengambil tindakan pencegahan di tempat umum.

"Pada hari itu juga, Zhang berupaya agar informasi dirilis secepat mungkin, sehingga seluruh dunia dapat melihat apa itu dan agar kami dapat mendiagnosisnya", kata mitra penelitian Zhang, Profesor Edward Holmes, seorang ahli virologi evolusi di University of Sydney.

Tapi Zhang tidak bisa mempublikasikan temuannya.

Pada 3 Januari, Komisi Kesehatan Nasional China mengirimkan sebuah memorandum rahasia ke laboratorium berisi larangan bagi para ilmuwan yang tidak berwenang untuk menangani virus dan mengungkapkan informasi tersebut kepada publik.

"Pemberitahuan itu secara efektif membungkam setiap ilmuwan dan laboratorium agar tidak mengungkapkan informasi tentang virus ini yang berpotensi membuat berita itu bocor ke dunia luar dan membuat orang waspada," kata Dake Kang dari AP.

Tidak ada laboratorium yang mempublikasikan urutan genetika virus baru itu. China terus menyatakan yang terjadi adalah virus pneumonia tanpa bukti jelas penularan dari manusia ke manusia.

Akhirnya enam hari kemudian diumumkan bahwa virus baru itu adalah virus corona. Tapi bahkan China tidak membagi sedikit pun hasil uji rangkaian genetik virus yang dapat memungkinkan negara lain mengembangkan tes dan mulai melacak penyebaran virus.

Covid-19, China, wuhan, pandemi, whoProf Edward Holmes (BBC)

Tiga hari kemudian, pada 11 Januari, Zhang memutuskan sudah waktunya mempertaruhkan nyawanya. Saat ia naik pesawat dari Beijing ke Shanghai, ia mengizinkan Holmes untuk merilis penelitian urutan genetika virus baru itu.

Keputusan itu mendatangkan konsekuensi berat - labnya ditutup keesokan harinya untuk "perbaikan". Bagaimanapun tindakannya memecah kebuntuan.

Keesokan harinya para ilmuwan lainnya merilis urutan genetika yang mereka peroleh. Komunitas ilmiah internasional segera bertindak, dan perangkat uji diagnostik tersedia untuk umum pada 13 Januari.

Terlepas dari bukti yang disodorkan para ilmuwan dan dokter, China tidak mengonfirmasi adanya penularan dari manusia ke manusia hingga 20 Januari.

Pakar hukum kesehatan Lawrence Gostin menyatakan pada masa awal kemunculan wabah penyakit, situasi selalu kacau.

"Selalu akan sangat sulit untuk mengendalikan virus ini, sejak hari pertama. Namun saat kami [komunitas internasional] tahu virus itu menular dari manusia ke manusia, saya pikir virus itu sudah menyebar.

"Itu kesempatan yang kita miliki, dan kita kehilangannya."

Seperti yang dikatakan Wang Linfa, ahli virologi kelelawar di Duke-Nus Medical School di Singapura, "20 Januari adalah garis pemisah, sebelum itu pihak China bisa berbuat lebih baik. Setelah itu, seluruh dunia harus benar-benar waspada dan berbuat jauh lebih baik. "

Tonton juga video 'Kunjungi Wuhan, Tim WHO Dapat Data yang Belum Pernah Dibagikan':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)