Ribuan Testimoni Pelecehan Seks dalam Keluarga Marak di Prancis

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 23 Jan 2021 19:07 WIB
Pelecehan seksual dalam keluarga di Prancis memicu korban berani bicara
Foto: Getty Images
Paris -

Puluhan ribu orang menanggapi unggahan di media sosial di Prancis yang ditujukan untuk mengungkap masalah pelecehan seksual dalam keluarga atau inses.

Gerakan dengan menggunakan tagar #MeTooInceste (diambil dari gerakan #MeToo) dimulai pada akhir pekan lalu oleh NousToutes, organisasi yang menangani kekerasan seksual di Prancis.

Inses di Prancis berarti pelecehan seksual oleh saudara termasuk mereka yang tidak berhubungan darah.

Langkah itu diambil menyusul tuduhan terhadap komentator terkenal, Olivier Duhamel, yang dituduh anak tirinya melecehkan saudara laki kembarnya, 30 tahun lalu. Duhamel menggambarkan tuduhan itu sebagai "serangan pribadi."

Gerakan di Twitter itu dimulai pekan lalu melalui pesan aktivis NousToutes yang berusia 67 tahun dan dikenal dengan nama, Marie Chenevance.

"Perlu sekarang atau tak pernah sama sekali untuk mendobrak kebisuan di seputar isu ini," kata Marie.

Sebelumnya, menurut Marie, para aktivis menghadapi "tembok bisu" bila mereka berbagi cerita soal pelecehan seksual dalam keluarga.

Lebih dari 80.000 orang menjawab unggahan itu sejak dimulai Sabtu lalu, menurut organisasi itu.

Mie Kohiyama adalah salah seorang yang berbagi cerita, dan disertai dengan gambar yang ia buat saat berusia lima tahun.

Gambar itu menunjukkan anak tanpa mulut dengan kata-kata "Tolong Saya" ("au secours", yang dia tulis dengan ejaan "o scour").

Saat itu, begitulah cara dia bercerita soal pelecehan dan tak ada yang mendengar pesan itu.

"Hari Sabtu, saat saya unggah cuitan saya," katanya. "Rasanya aneh, tapi saya bangga dengan anak kecil yang melukis gambar itu."

"Saya katakan pada diri saya sendiri bahwa sekarang orang baru mengerti gambar-gambar seperti ini. Empat puluh tahun lalu, tidak mungkin."

Budaya rahasia

Muriel Salmona, seorang pakar psikologi untuk kekerasan seksual, mengatakan isu yang diangkat oleh anak tiri Duhamel dan diluncurkannya tagar baru membuka "ruang aman" bagi para korban untuk angkat bicara.

Dalam sejarahnya, kata Salmona, ada "semacam impunitas total di Prancis" bagi mereka yang terlibat pelecehan seksual dalam keluarga. Kurang dari 1% kasus berakhir di pengadilan.

"Data kekerasan terhadap anak-anak buruk di sebagian besar Eropa," kata Salmona.

"Namun di Prancis ada gelombang yang mentoleransi kekerasan seksual terhadap anak-anak."

Buku Camille Kouchner, La Familia Grande di Paris pada 5 Januari 2021.

AFP

Hukum terkait isu ini rumit. Hubungan seksual dengan anak-anak ilegal, namun untuk membuktikan adanya dakwaan serius atas pemerkosaan atau serangan seksual, termasuk anak-anak, penting untuk membuktikan apakan kekerasan atau ancaman digunakan.

Bila pelaku jauh lebih tua dari korban, atau menjabat di pemerintah, hal itu akan dianggap sebagai paksaan, namun kata Dr Salmona, tak semua kasus dapat mengarah seperti itu.

Ini berarti, secara legal, seorang anak berumur 11 tahun dapat dianggap sama-sama menyukai hubungan seks dengan orang dewasa.

Para pegiat telah lama mempertanyakan berapa umur orang secara legal untuk memberikan persetujuan, namun upaya berulang kali agar undang-undang diubah, sejauh ini gagal.

Olivier Duhamel pada 2019

Olivier Duhamel mengundurkan diri sebagai kepala yayasan Sains Politik, National Foundation of Political Sciences, yang mengawasi jurusan sains universitas. (Getty Images)

Jajak pendapat akhir tahun lalu menunjukkan satu dari 10 orang di Prancis mengalami pelecehan seksual pada masa anak-anak di dalam keluarga.

Marie Chenevance mengatakan ia mengetahui bahwa akan ada sejumlah besar orang yang terdampak gerakan ini namun mereka terkejut atas banyaknya kesaksian.

"Di satu sisi, cerita ini sedih, tapi di sisi lain, terasa melegakan," katanya.

Lebih jauh tentang gerakan #MeToodi Prancis

[Gambas:Youtube]



(nvc/nvc)