Produksi Vaksin Corona, Bisakah India Penuhi 60% Permintaan Dunia?

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 16:43 WIB
Jakarta -

India memproduksi sekitar 60% kebutuhan vaksin dunia, namun di sisi lain negara itu berada pada peringkat kedua terbesar jumlah kasus virus corona di dunia setelah Amerika Serikat.

India tidak hanya harus menyediakan kebutuhan vaksin warganya sendiri, tetapi juga memenuhi komitmennya untuk pasokan global.

Jadi, bisakah negara itu memenuhi permintaan?

Berapa banyak vaksin yang dapat diproduksi India?

Saat ini, ada dua vaksin yang telah disetujui di India - yaitu Covishield (nama lokal untuk vaksin Oxford-AstraZeneca yang dikembangkan di Inggris), dan satu lagi disebut Covaxin.

Terdapat beberapa vaksin lain yang sedang menjalani uji coba, yang juga diproduksi di India.

Perusahaan-perusahaan farmasi India dilaporkan meningkatkan produksi vaksin dalam beberapa bulan terakhir dengan menambah fasilitas baru atau mengubah jalur produksi yang ada.

Produsen terbesar, Institut Serum India (SII), mengatakan sudah dapat menghasilkan antara 60 dan 70 juta dosis vaksin dalam sebulan.

Perusahaan Bharat Biotech menargetkan produksi 200 juta dosis vaksin setahun, meskipun saat ini, mereka hanya memiliki 20 juta dosis Covaxin.

Perusahaan-perusahaan produsen vaksin lainnya yang tengah menjalani uji coba kini dalam pembicaraan dengan pihak berwenang di India, dan negara lain, tentang penyediaan vaksin ini ketika sudah siap.

Sampai saat ini, hanya ada sedikit info dari pihak terkait tentang jumlah vaksin.

Apa persyaratan vaksin India?

Pemerintah India mengatakan akan memvaksinasi 300 juta warganya yang berada dalam daftar prioritas pada akhir Juli sebagai bagian dari rencana awal untuk menghadapi virus tersebut.

Program vaksinasi akan dimulai pada 16 Januari - tenaga kesehatan dan pekerja garis depan yang pertama menerima suntikan.

Pria di Amritsar menjalani tes usap hidung

India memiliki jumlah kasus terkonfirmasi terbesar kedua di dunia (Getty Images)

Pemerintah berencana akan menyalurkan 600 juta dosis secara keseluruhan dalam waktu tujuh bulan - sekitar 85 juta dosis sebulan.

Saat ini, pabrikan terbesar, SII, mengatakan memiliki 50 juta dosis yang sudah teruji kualitasnya dan siap diedarkan.

Perusahaan memberitahu kami bahwa rincian alokasi yang akan diekspor atau disimpan untuk keperluan dalam negeri masih dikerjakan.

Apa peran India secara global?

SII India juga terlibat dengan skema internasional dukungan Badan Kesehatan Dunia WHO yang disebut Covax - yaitu membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam mendapatkan akses atas vaksin di tengah persaingan global untuk mendapatkannya secara cepat.

September lalu, SII setuju untuk memasok 200 juta dosis untuk skema tersebut tahun ini - baik vaksin Oxford-AstraZeneca atau yang dikembangkan di AS yang disebut Novavax.

Kepala eksekutif SII, Adar Poonawalla, mengatakan kepada BBC bahwa perjanjian Covax berpotensi ditingkatkan hingga 900 juta dosis.

Jika terjadi maka komitmen total SII melalui skema ini menjadi lebih dari satu miliar dosis.

Perusahaan itu mengatakan kepada BBC bahwa mereka sekarang tengah fokus untuk meningkatkan produksi hingga 100 juta dosis dalam satu bulan mulai Maret tahun ini.

Komitmen lain apa yang dimiliki perusahaan India?

Selain skema Covax, SII juga telah membuat kesepakatan komersial bilateral dengan beberapa negara untuk memasok vaksin Oxford-AstraZeneca.

Unit penyimpanan vaksin di Bangalore , India

Unit penyimpanan vaksin sedang disiapkan di Bangalore (EPA)

Namun muncul kebingungan setelah Poonawalla, bos SII, mengatakan awal bulan ini bahwa vaksin akan diberikan dengan syarat tidak diekspor.

Pemerintah India kemudian mengklarifikasi bahwa ekspor akan diizinkan setelah kekhawatiran muncul oleh Bangladesh, yang memiliki kesepakatan untuk mendapatkan 30 juta dosis awal.

Seorang pejabat kementerian luar negeri mengatakan kepada BBC bahwa India "benar-benar sadar akan komitmennya kepada negara tetangga dan dunia sebagai pembuat vaksin terbesar di dunia".

Saat ini, SII juga memiliki kesepakatan dengan Arab Saudi, Myanmar dan Maroko, meskipun masih belum jelas berapa jumlahnya dan kapan vaksin dapat didistribusikan.

Nepal, Brasil, dan Sri Lanka juga dilaporkan tertarik untuk mendapatkan vaksin buatan India, baik Oxford-AstraZeneca atau Covaxin dari Bharat Biotech yang merupakan satu-satunya vaksin yang sejauh ini mendapatkan persetujuan di India.

Tapi Poonawalla mengatakan bahwa bagi SII, prioritas utama adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Setelah kami memenuhi kebutuhan awal [di India], kami akan segera mulai mengekspornya ke negara lain."

Juru bicara aliansi vaksin global Gavi, yang membantu menjalankan skema Covax, mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya telah melakukan kontak rutin dengan pihak berwenang India dan SII.

Hasilnya, mereka "percaya diri" tidak ada penundaan dalam komitmen untuk Covax.

Ahli virologi, dokter Shaheed Jamil, menegaskan bahwa skema Covax adalah kewajiban internasional, dan akan terlihat tidak baik jika perusahaan India mengingkari kesepakatan bilateral yang telah disepakati sebelumnya dengan negara lain.

Jamil menambahkan, dengan ketersediaan saat ini: "Saya tidak khawatir India akan kekurangan vaksin."

"Hambatannya terletak pada seberapa cepat kami dapat memvaksinasi masyarakat," tambahnya.

Potensi tantangan lainnya adalah ketersediaan ampul kaca yang digunakan menampung vaksin. Ada kekhawatiran bahwa mungkin ada kekurangan ampul kaca di dunia.

SII, bagaimanapun, mengatakan kepada BBC bahwa sejauh ini, mereka tidak mengalami kekurangan barang-barang ini.

(ita/ita)