Kisah 'Lockdown' dan Jaga Jarak Sosial 432 Tahun Lalu di Italia

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 15:21 WIB
Jakarta -

Pelaut malang itu diperkirakan sudah tiba di Marseille setelah melintasi Laut Mediterania dalam rute sejauh 447 kilometer. Wabah pes sudah berkecamuk di Marseille selama setahun. Pelaut itu tampaknya juga terjangkit wabah itu.

Pelaut itu mengigau. Bagian selangkangannya membengkak. Ini adalah gejala khas penanda penyakit yang dikenal sebagai sebutan pes bubo.

Namun entah bagaimana, pelaut itu berhasil melewati pengawas wabah yang disebut Morbers. Mereka adalah orang yang bertugas menghentikan orang-orang bergejala. Pelaut itu berhasil masuk ke kota Alghero. Beberapa hari kemudian dia meninggal. Wabah pes di kota itu pun merebak.

Pada saat itu, banyak orang di Alghero tak dapat mengelak dari kematian. Berdasarkan catatan resmi, seorang sejarawan abad ke-18 memperkirakan bahwa epidemi itu menyebabkan 6.000 kematian dan hanya menyisakan 150 warga kota yang tetap hidup.

Pada kenyataannya, epidemi diperkirakan membunuh 60% populasi kota. (Angka yang dibesar-besarkan mungkin merupakan upaya pemerintah saat itu untuk menghindari pajak.)

Di kota itu, kuburan massal bermunculan. Beberapa di antaranya masih ada hingga hari ini. Di sebuah parit panjang ditemukan kerangka 30 orang.

Wabah itu diyakini bisa menyebabkan dampak yang lebih buruk. Namun sebagian besar desa di sekitar Alghero terhindar dari epidemi tersebut. Penularan penyakit itu hanya berkutat di Alghero dan menghilang dalam delapan bulan.

Pengendalian wabah pes itu diperkirakan bermula dari gagasan satu orang tentang konsep menjaga jarak sosial.

"Mungkin agak mengejutkan ada dokter yang berpengetahuan luas di kota kecil ini," kata Ole Benedictow, pensiunan profesor ilmu sejarah di Universitas Oslo. Dia turut menjadi penulis pada makalah yang menelisik wabah tersebut.

"Anda pasti membayangkan kebijakan yang lebih ketat diberlakukan di kota-kota besar seperti Pisa dan Florence. Tapi dokter ini memiliki pemahaman yang maju pada zamannya. Itu cukup mengesankan," kata Ole.

Ayam hidup dan air seni

Wabah yang paling terkenal dalam sejarah modern tentu saja, wabah Maut Hitam (The Black Death), yang melanda Eropa dan Asia pada tahun 1346.

Wabah ini menewaskan sekitar 50 juta orang di seluruh dunia.

Di Florence, penyair Italia bernama Francesco Petrarca menyebut generasi yang hidup setelahnya tidak akan mampu memahami dampak kehancuran yang diakibatkan wabah tersebut.

"Wahai anak-cucu yang bahagia, yang tidak akan mengalami kesengsaraan yang begitu parah dan yang akan menganggap kesaksian kami sebagai dongeng," tulisnya.

Tengkorak mayat korban wabah Maut Hitam kini secara periodik muncul ketika penggalian proyek pembuatan terowongan, salah satunya jalur kereta api Crossrail di London.

Catatan menunjukkan bahwa ada setidaknya 50.000 mayat di bawah kawasan Farringdon saja, di pusat kota London.

Kesehatan

Alghero adalah kota kuno yang kini menjadi destinasi wisata. Pada tahun 1582 kota ini pernah menjadi pusat pandemi pes. (Getty Images)

Tapi walau situasi itu tidak pernah terulang sebegitu dahsyat, wabah penyakit itu beberapa kali terjadi lagi pada abad-abad setelahnya. Wabah itu dilaporkan menerpa Paris satu kali dalam setiap tiga tahun hingga tahun 1670.

Sementara pada tahun 1563, wabah itu diperkirakan telah membunuh 24% populasi London.

Wabah itu terjadi sebelum era ilmu pengetahuan modern. Pemahaman umum pada saat itu bahwa penyakit tersebut disebabkan "udara buruk". Cuka saat itu diyakini merupakan antiseptik yang sangat mujarab.

Terdapat sejumlah penanganan wabah pada masa itu, dari yang menjijikkan seperti mandi dengan air kencing sendiri hingga cara yang aneh. Salah satu yang populer adalah upaya mengeluarkan "racun" pes bubo dengan cara menggosok pantat ayam hidup ke area tubuh yang terinfeksi.

Pengetahuan tentang wabah

Seperti yang dijelaskan oleh Benedictow dan sejumlah rekan penelitinya, Alghero tidak siap menghadapi epidemi. Sistem sanitasi kota ini yang tidak terorganisir dengan baik.

Selain itu, sebagian tenaga medis di Alghero juga yang tidak terlatih. Ada pula persoalan tradisi medis yang "terbelakang". Tantangan mengatasi wabah ini terlampau sulit.

Lalu muncul sosok bernama Quinto Tiberio Angelerio. Dokter berusia 50-an tahun ini berasal dari kelompok masyarakat kelas atas.

Angelerio menempuh pendidikan di luar negeri karena saat itu belum ada perguruan tinggi di Sardinia.

Beruntung bagi penduduk Alghero, dia baru saja mengunjungi Sisilia yang mengalami wabah pada tahun 1575.

Orang pertama yang terjangkit pes bubo datang dari luar kota ke Alghero.

Tak lama kemudian, dua perempuan meninggal dengan bengkak di tubuh mereka. Bagian tubuh yang membengkak adalah salah satu ciri penyakit pes ini.

Angelerio langsung tahu apa yang terjadi.

Naluri pertamanya adalah meminta izin untuk mengisolasi pasien, tapi dia digagalkan berkali-kali. Pertama akibat hakim yang ragu-ragu, lalu karena senat yang menolak laporannya dan menganggap kecemasannya sebagai sesuatu yang apokalips.

Angelerio putus asa. "Dia memiliki keberanian atau nyali untuk beralih ke otoritas tertinggi di Alghero," kata Benedictow.

Setelah persetujuan, Angelerio membentuk tiga lapis penjagaan sanitasi di sekitar perbatasan kota. Tujuannya adalah mencegah perdagangan antara warga yang tinggal di dalam dan luar kota.

Awalnya, upaya itu sangat tidak disetujui. Publik berniat membunuhnya. Namun karena semakin banyak orang meninggal, warga kota mulai menyetujui upaya Angelerio.

Sang dokter sepenuhnya mendapatkan tugas mengatasi wabah. Bertahun-tahun kemudian, dia menerbitkan sebuah buklet berjudul Ectypa Pestilentis Status Algheriae Sardiniae. Buku ini merinci 57 aturan yang dia terapkan di kota itu.

Inilah yang dilakukan Algherio ketika itu.

Karantina wilayah

Pertama, warga Alghero diimbau untuk tidak meninggalkan rumah atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Angelerio juga melarang semua jenis pertemuan, pertunjukan tari, dan berbagai hiburan. Dia menetapkan bahwa hanya satu orang per rumah tangga yang boleh keluar rumah, itu pun hanya untuk berbelanja. Aturan ini mesti diterapkan pada kebijakan pembatasan terkait berbagai pandemi pada masa ini.Karantina wilayah tidak hanya terjadi di Alghero.

"Di Florence, misalnya, mereka memberlakukan karantina kota secara total pada musim semi tahun 1631," kata John Henderson, profesor sejarah di Universitas London yang menguasai era Renaisans Italia. Dan seperti yang terjadi saat ini, pelanggaran terhadap pembatasan ini dulu juga kerap terjadi.

"Selama satu tahun dari musim panas 1630 hingga musim panas 1631, saya menemukan sekitar 550 kasus hukum terkait berbagai pelanggaran aturan kesehatan masyarakat," kata Henderson.

Selama periode waktu itu, Alghero tidak dalam karantina wilayah secara penuh, tapi setiap orang diharapkan mengisolasi diri selama 40 hari jika anggota rumah tangga mereka dicurigai menderita wabah dan dibawa ke rumah sakit.

Dari sinilah terminologi "karantina" berasal, yaitu "quaranta giorni" yang dalam bahasa Italia berarti "40 hari".

Kesehatan

Lanskap kota Alghero. (Getty Images)

"Warga kota jelas tidak sabar," kata Henderson. Pada masa sebelum penemuan ponsel pintar, layanan hiburan streaming, atau bahkan era penjualan buku yang terjangkau, orang-orang berinovasi untuk mengatasi kebosanan saat terkurung di rumah.

"Perkara di pengadilan memberikan laporan yang sangat rinci tentang reaksi yang orang-orang alami pada saat karantina wilayah," ujar Henderson.Kadang-kadang seseorang bisa dikatakan hanya tidak beruntung. Dalam satu contoh, seorang perempuan bergegas keluar dari pintu depan untuk mengejar ayamnya, yang berusaha kabur ke jalan.

"Saat perempuan itu lari kembali ke rumahnya, seorang anggota Dewan Kesehatan datang dan menangkapnya karena melanggar peraturan wabah", kata Henderson.

Perempuan itu dibawa ke penjara, tapi segera dibebaskan oleh hakim yang simpatik, yang menjelaskan bahwa pelanggaran itu sangat ringan.

Pada perkara lain, seorang perempuan mengirim sebuah keranjang kepada putranya yang tinggal di lantai bawah rumah. Keranjang itu berisi sepasang kaus kaki yang perlu diperbaiki. Setelahnya, sang ibu kembali menarik keranjang itu.

"Kemudian seorang petugas Dewan Kesehatan datang. Setelah melihat apa yang perempuan itu lakukan, dia membawanya ke penjara," kata Henderson.

Tapi ada pula kasus di mana seseorang memiliki kesalahan yang lebih berat.

"Beberapa orang memanjat atap di rumah-rumah bertingkat yang berdekatan. Mereka bertemu teman-teman untuk bermain gitar dan minum bersama," ujar Henderson.

"Sekali lagi, terjadi pelanggaran oleh orang yang berbaur dengan orang-orang dari rumah tangga yang berbeda," kata dia.

Jarak fisik

Aturan selanjutnya adalah batas jarak sosial sejauh 1,8 meter. Sebagaimana diterjemahkan oleh tim peneliti yang dipimpin Benedictow, Angelerio mengharuskan orang-orang yang diizinkan keluar rumah untuk membawa tongkat sepanjang enam kaki.

"Setiap orang wajib menjaga jarak ini satu sama lain," begitu aturan Angelerio.

Angelerio benar-benar menyebut dirinya sebagai ahli jarak sosial. Tidak ada pakar yang pernah mendengar ketentuan ini terjadi di tempat lain. Namun pada awal pandemi Covid-19, banyak negara di seluruh dunia mengadopsi kebijakan yang sangat mirip, yaitu menganjurkan orang-orang terpisah sejauh dua meter (6,6 kaki).

Di banyak tempat, seperti Inggris, Prancis, Singapura, Korea Selatan, dan Jerman, jarak minimum antara orang itu dikurangi menjadi satu atau satu setengah meter.

Bagaimanapun, ternyata ketentuan pada abad ke-16 itu mungkin benar dalam sudut pandang ilmu pengetahuan. Sebuah penelitian memperkirakan, dibandingkan aturan jaga jarak sejauh dua meter, risiko penularan Covid-19 lebih tinggi 2-10 kali lipat pada jarak satu meter.

Angelerio pun menerapkan metode lainnya. Dia menetapkan bahwa pagar besar harus dipasang di etalase toko yang menjual makanan.Dia juga menganjurkan agar setiap umat Katolik harus berhati-hati saat berjabat tangan pada seremoni misa.

Kesehatan

Saat ini banyak negara mengharuskan warga mereka untuk saling menjaga jarak minimal dua meter, serupa dengan ketentuan yang diberlakukan di Sardina pada abad ke-16. (Getty Images)

"Menurut saya, dibandingkan banyak dokter lain pada masanya, Angelerio lebih berorientasi pada tujuan, sehubungan dengan upaya penanganan pandemi yang ingin dia terapkan," kata Benedictow.

"Saya pikir ini berkaitan dengan pemahaman Angelerio soal seberapa ketat dan seberapa dini penanganan pandemi itu," ujarnya.

Mencuci belanjaan Renaisans secara populer dikenang sebagai era keemasan filsafat klasik, sastra, dan terutama seni, ketika Michelangelo, Donatello, Raphael, dan Leonardo da Vinci mengubah bidang yang mereka tekuni dengan kejeniusan mereka.

Namun era itu juga memicu lompatan besar kita dalam memahami ilmu pengetahuan.

Era ini adalah saat fisikawan Nicholas Copernicus menemukan fakta bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. Juga saat da Vinci menyusun rencana untuk membuat parasut, helikopter, kendaraan lapis baja, dan robot.

Kemudian sekitar tahun 1500, sejumlah pemikir terkemuka membangun gagasan bahwa sejumlah penyakit disebabkan oleh "udara buruk".

Mereka menyatukannya dengan kemungkinan-kemungkinan lain bahwa seseorang bisa jatuh sakit karena menyentuh benda yang telah terkontaminasi racun.

"Saya melihat hubungan antara perkembangan yang terjadi selama Renaisans dan kemampuan orang-orang di abad ke-16 untuk memahami lebih banyak hal terkait penyebaran penyakit," kata Benedictow.

"Angelerio mengerti bahwa penyakit itu tersebar melalui kontak dan koneksi," ujarnya.

Salah satu contohnya adalah ketentuan Angelerio agar pemilik rumah harus mendisinfeksi, mengapuri, membuat ventilasi, dan menyirami kediaman mereka.

Angelerio menjelaskan, benda apa pun yang tidak terlalu berharga harus dibakar. Adapun furnitur yang mahal bisa dicuci, diangin-anginkan, atau didesinfeksi di dalam pemanggang.Pada saat itu, mendisinfeksi barang, terutama yang berasal dari kapal, merupakan hal umum. "Salah satu hal yang mereka anggap paling berisiko adalah produk tekstil," kata Alex Bamji, sejarawan sosial dan budaya Eropa modern awal di University of Leeds.

"Tapi berbagai macam barang bisa didesinfeksi, termasuk surat," kata Bamji.

Terkadang hal upaya disenfeksi ini meninggalkan jejak yang masih bisa dilihat hingga saat ini.

"Jika asap dan api digunakan untuk mendisinfeksi barang, Anda masih dapat menemukan tanda hangus yang aneh di berbagai tempat," ujarnya.

Paspor kesehatanSalah satu cara populer untuk mencegah munculnya wabah adalah dengan secara berhati-hati memeriksa status kesehatan siapa pun yang hendak memasuki kota.

Meskipun sistem itu gagal di Alghero, di mana pasien pertama pada tahun 1582 menyelinap melewati penjaga yang ditempatkan di pelabuhan, skema pemeriksaan itu umum diterapkan di tempat lain di Eropa pada saat itu.

Dalam beberapa kasus, pemangku otoritas mengeluarkan dokumen fisik yang memungkinkan pemegangnya melewati perbatasan meski sejumlah pengetatan diberlakukan.

Izin diberikan kepada orang-orang, baik karena mereka dinyatakan bebas penyakit atau secara kebetulan mengenal orang yang tepat.

"Jadi, jika Anda seorang musafir dan melakukan bisnis dari satu kota ke kota lain, dari kota yang terkena wabah atau ke kota yang dijangkiti wabah, Anda memerlukan paspor kesehatan," kata Philip Slavin, profesor sejarah di University of Stirling.

Ketika pandemi Covid-19 dimulai, konsep "paspor kesehatan" diberlakukan lagi. Baru-baru ini beberapa bandara internasional seperti yang berada di London, New York, Hong Kong, dan Singapura telah menguji coba "CommonPass".

"CommonPass" adalah dokumen digital yang dapat menampilkan hasil tes dan catatan vaksinasi penggunanya.

Gagasannya adalah untuk dengan mudah memastikan status infeksi mereka demi perjalanan internasional yang lebih aman dan efisien.

Meski epidemi di Alghero terjadi beberapa abad sebelum ditemukannya konsep ilmiah tentang kekebalan tubuh, Angelerio memberi tugas kepada orang-orang yang telah sembuh dari penyakit pes bubo ini.

Para penggali kuburan, menurutnya, harus dipekerjakan dari kelompok orang yang sudah sembuh. Pekerjaan itu berisiko tinggi karena mereka harus mengangkut bilik pengakuan dosa ke sisi tempat tidur pasien yang sekarat dan tentu saja, mengurus jenazah.

IsolasiItalia adalah pelopor awal dalam mengisolasi orang-orang yang dicurigai menderita penyakit menular. Karantina terhadap orang-orang itu dilakukan dalam skala yang sangat besar. Rumah sakit wabah pertama (lazaretto) didirikan di Venesia pada tahun 1423.

Tak lama setelah itu, mereka memiliki fasilitas terpisah untuk pasien aktif dan pasien dalam pemulihan atau yang sempat berkontak orang yang terinfeksi. Tahun 1576, di rumah sakit itu menampung sekitar 8.000 pasien aktif dan sekitar 10.000 pasien isolasi maupun yang tengah pemulihan.Akhirnya rumah sakit itu menjadi model standar penanganan penyakit. Rumah sakit serupa dibangun di seluruh Italia, termasuk di Sardinia. Separuh fasilitas ini merupakan rumah sakit dan sebagian lainnya adalah penjara.

Keberadaan fasilitas karantina merupakan keharusan. Dalam beberapa kasus, pasien dibawa langsung ke sana oleh pengawas wabah.

"Fasilitas itu tidak dipandang positif. Publik saat itu sering menyamakannya dengan neraka," kata Bamji. Namun Bamji menyebut anggapan itu lebih menggambarkan stigma yang mengelilingi para pasien ketimbang kondisi faktual.

"Anggaran besar dihabiskan untuk membangun fasilitas itu, dan ada bukti bahwa makanannya cukup enak," kata Bamji.

Bamji berkata, sekitar setengah dari orang yang tinggal di fasilitas itu meninggal. Tentu saja pasien lainnya diizinkan pulang.

Jumlah itu menunjukkan komparasi yang secara umum sama di populasi. Adapun menurut Angelerio, lazaretto di Alghero tertata dengan sangat baik.

Pengawas wabah diminta mengurus semua orang yang masuk dan keluar dari fasilitas itu, dari urusan tempat tidur, furnitur, hingga makanan.

Orang-orang dari kelas ekonomi bawah tidak dimintai bayaran. Pasien yang sakit terkadang dilarikan ke sana dari rumah.Sementara itu, bayi yatim piatu yang tidak memiliki pengasuh akan diberikan susu dari kambing yang diberi pakan dan diternakkan secara liar.

Kucing matiDi samping semua persamaan penanganan wabah antara abad ke-16 dan jenis yang kita kenal saat ini, terdapat beberapa perbedaan mencolok.Pada abad pertengahan di Sardinia, takhayul dan agama masih menjadi elemen kunci dari kebijakan kesehatan masyarakat yang diambil Angelerio.

Dia menyatakan kepada publik bahwa wabah adalah hukuman ilahi untuk memperingatkan manusia agar berperilaku dengan standar moral tertinggi. Beberapa strategi Angelerio tidak efektif bahkan membingungkan.

Salah satu contohnya adalah instruksi bahwa "kalkun dan kucing harus dibunuh dan dibuang ke laut". Ini adalah cara penanganan epidemi yang mengejutkan. Penulis bernama Daniel Defoe melaporkan, selama wabah tahun 1665 di London, wali kota memerintahkan pembantaian terhadap 40.000 anjing dan 200.000 kucing.

Otoritas London menunjuk secara khusus orang-orang yang akan menjalani tugas itu. Kebijakan ini mungkin memiliki dampak yang bertolak belakang dengan tujuan yang dimaksud, karena binatang yang dikenal sebagai pembawa wabah adalah tikus.(Tikus juga menjadi target pembantaian di beberapa kota saat itu, tapi tidak disebutkan dalam catatan Angelerio)

Pada tahun 2020, meskipun ada bukti kuat bahwa kucing dan anjing dapat terinfeksi Covid-19, dua binatang domestik ini tetap dicintai. Banyak badan amal hewan melaporkan rekor jumlah adopsi dalam beberapa bulan terakhir.

Kantor cabang organisasi non-profit yang mengkampanyekan kesejahteraan hewan (RSPCA) di Australia menerima 20.000 permohonan adopsi anjing dan kucing sejak awal pandemi Covid-19.Menurut Benedictow, perbandingan antara wabah pes dan Covid-19 harus ditelisik secara skeptis.

"Wabah pes jauh lebih buruk dan memiliki tingkat kematian yang hampir tak terbayangkan. Biasanya 60% dan bahkan 70% penduduk kota atau distrik kehilangan nyawa," ujarnya.Lalu apa yang terjadi dengan penduduk Anghero? Wabah pes bubo itu berlangsung selama delapan bulan. Setelahnya, wabah itu tidak berulang di kota itu selama 60 tahun.

Saat wabah itu kembali muncul, hal pertama yang dilakukan otoritas kota Anghero adalah membuka buklet yang disusun Angelerio.

Para dokter di kota itu, selama wabah tahun 1652, mengikuti instruksi Angelerio. Mereka menerapkan karantina wilayah, isolasi pasien, desinfeksi barang dan rumah, serta membentuk beberapa lapis pengawas kesehatan di sekitar kota.

Pelaut naas yang tiba di Alghero hampir empat setengah abad yang lalu mungkin telah memicu wabah pes. Tapi pelaut malang itu juga memicu dibentuknya panduan komprehensif untuk menegakkan kebersihan dan jarak sosial, jauh sebelum era ilmu kedokteran modern dimulai.---Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Future dengan judul The 432 year old manual on social distancing.

(ita/ita)