Sosok Ashli Babbitt, Perempuan yang Tewas dalam Kerusuhan di Capitol

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 18:32 WIB
Ashli Babbitt adalah pendukung Presiden Trump yang sangat vokal.
Jakarta -

Sehari sebelum dia meninggal, Ashli Babbitt menulis di media sosial tentang rencana pertemuan para pendukung Trump di ibu kota AS, Washington DC.

"Tak ada yang akan menghentikan kami," tulisnya. "Mereka boleh mencoba dan mencoba dan mencoba tapi badai telah tiba dan ia akan turun ke DC dalam waktu kurang dari 24 jam."

Babbitt, 35 tahun, berada di antara massa yang menerobos ke gedung Capitol AS pada Rabu (06/01). Dia diidentifikasi oleh Kepolisian Capitol AS sebagai satu dari empat orang yang tewas di tengah kerusuhan tersebut.

Seorang veteran Angkatan Udara AS, Babbitt menjalani dua tur di Afghanistan dan Irak sebelum ditempatkan bersama Garda Nasional di Kuwait dan Qatar, kata mantan suaminya, Timothy McEntee, kepada media AS.

Berasal dari San Diego, California, Babbitt baru saja menikah lagi, dan bekerja di sebuah perusahaan perawatan kolam renang bersama suami barunya, Aaron Babbitt.

Ashli Babbitt

Babbitt (kanan) dalam parade kapal untuk Presiden Trump, mengenakan kaus dengan tulisan QAnon. (Twitter/Ashli Babbitt)

Di media sosial, Babbitt menggambarkan dirinya sebagai seorang libertarian dan patriot. Dia sering mengunggah pos tentang Presiden Donald Trump, mengungkapkan dukungan yang kuat untuk sang presiden dan turut menyerukan klaim tanpa bukti tentang kecurangan masif dalam pemilu.

"Dia punya kepribadian yang bisa Anda cintai atau Anda benci," kata McEntee kepada NPR. "Dia tak pernah menyesali itu ... dia malah bangga, seperti halnya dia bangga dengan negaranya dan identitasnya sebagai orang Amerika."

Pada September, Babbitt mengunggah sebuah foto dirinya dari parade perahu untuk Trump di San Diego, mengenakan kaus bertuliskan "We are Q" - merujuk QAnon - teori konspirasi yang digaungkan kelompok ekstrem kanan, tentang perang klandestin melawan sindikat pedofil penyembah setan.

Beberapa hari sebelum demonstrasi pekan ini, Babbitt menulis di Twitter bahwa dia akan hadir di Washington untuk aksi pro-Trump yang disebut Stop the Steal.

"Saya akan di DC tanggal 6!" dia menulis. "Tuhan memberkati Amerika dan WWG1WGA" - singkatan yang biasa dipakai oleh para pendukung QAnon.

Ibu mertuanya, Robin Babbitt, berkata kepada stasiun televisi Fox bahwa putranya tidak ikut bersama Babbitt dalam aksi tersebut.

"Saya sungguh tidak tahu alasan dia melakukan ini," ujarnya.

Dalam video yang diunggah di internet, seorang perempuan yang diyakini sebagai Babbitt terlihat dengan bendera Make America Great Again menutupi bahunya, di tengah kerumunan perusuh yang berusaha mendobrak serangkaian pintu yang terkunci di dalam gedung Capitol.

Seorang anggota Kepolisian Capitol tampak dalam rekaman menodongkan pistol ke arah kelompok tersebut.

Ashli Babbitt

Babbitt berangkat ke DC dari California untuk mengikuti demonstrasi. (Twitter/Ashli Babbitt)

Perempuan itu kemudian terlihat naik ke langkan di sebelah pintu. Hampir seketika, ledakan keras terdengar dan dia jatuh ke lantai.

Dalam sebuah pernyataan, Kepolisian Capitol mengatakan bahwa seorang petugas Kepolisian Capitol Amerika Serikat menembakkan senjata dinas mereka, yang mengenai seorang perempuan dewasa "ketika para pengunjuk rasa merangsek ke Ruangan DPR tempat para Anggota Kongres berlindung".

Babbitt dirawat di rumah sakit dengan luka tembak dan meninggal malam itu juga, kata polisi. Petugas yang menembak Babbitt telah diberhentikan sementara dari pekerjaannya namun namanya belum diungkap ke publik.

Ibu mertua Babbitt mengatakan kepada media AS bahwa dia sangat terpukul oleh kabar kematian menantunya. "Saya mati rasa," katanya kepada New York Post. "Tak seorang pun dari DC memberi tahu putra saya dan kami mengetahuinya di TV."

Tiga orang lainnya tewas dalam kerusuhan hari Rabu (07/01) itu.

Ketiganya berangkat ke Washington DC untuk berdemonstrasi, kata polisi. Mereka diyakini tewas dalam keadaan "darurat medis" terpisah di wilayah Capitol. Belum ada perincian lebih lanjut yang diungkapkan.

Polisi Capitol mengumumkan identitas mereka sebagai Benjamin Philips (50) dari Pennsylvania; Kevin Greeson (55) dari Alabama; dan Rosanne Boyland (34) dari Georgia.

"Setiap nyawa yang hilang di Distrik adalah tragedi dan kami berbelasungkawa bersama siapa pun yang kehilangan mereka," kata kepala polisi metro Robert Contee, Kamis.

Dan sedikitnya 14 petugas polisi Capitol terluka di tengah kerusuhan, kata Contee, termasuk dua petugas yang dirawat di rumah sakit.

(ita/ita)