Ilmuwan Afsel Khawatir Varian Baru Corona Lebih Resistan terhadap Vaksin

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 16:59 WIB
Cape Town -

A health worker holds a Covid-19 sample collection kit of a vaccine in Johannesburg, South Africa

Ada kekhawatiran bahwa varian baru COVID-19 di Afrika Selatan dapat "melemahkan dampak" vaksin. (Reuters)

Para ilmuwan di Afrika Selatan mengatakan ada "kekhawatiran yang masuk akal" bahwa varian baru COVID-19 yang menyebar di seluruh negara itu mungkin terbukti lebih resistan terhadap vaksin yang saat ini sedang diberikan di Inggris dan wilayah lain.

Mereka juga memperingatkan bahwa hal itu membuat kebutuhan untuk menjalankan program vaksinasi secara global "bahkan lebih kritis".

"Ini keprihatinan teoritis. Kekhawatiran yang masuk akal... bahwa varian Afrika Selatan mungkin lebih resistan," kata Profesor Shabir Madhi, yang memimpin uji coba vaksin Oxford-AstraZeneca di Afrika Selatan, kepada BBC.

Pernyataan Madhi menanggapi komentar pemerintah dan para ilmuwan Inggris. Dia mengatakan jawaban yang pasti mungkin akan datang dalam hitungan minggu, dengan pengujian ekstensif sudah dilakukan di Afrika Selatan.

Kekhawatiran muncul dari fakta bahwa virus di Afrika Selatan telah bermutasi jauh lebih banyak daripada varian di Inggris, dan salah satu mutasi itu mungkin berarti dapat menghindari serangan antibodi yang biasanya melawan virus Corona.

Vaksin mengajarkan tubuh untuk meningkatkan respons kekebalan - yang termasuk menciptakan antibodi - untuk melawan virus Corona, jika ia pernah bertemu dengannya.

Antibodi adalah protein kecil yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh yang menempel pada permukaan virus, dan secara efektif melumpuhkannya.

Jika kemampuan untuk terhubung itu melemah, maka antibodi yang dibuat setelah pemberian vaksin mungkin tidak efektif.

Madhi mengatakan "tidak mungkin" bahwa mutasi di Afrika Selatan akan membuat vaksin saat ini tidak berguna, tetapi mungkin "melemahkan dampaknya".

Seorang ahli vaksin di Universitas Wits, Profesor Helen Rees, mengatakan: "Untungnya, jika modifikasi lebih lanjut dari vaksin diperlukan untuk mengatasi varian baru, beberapa teknologi vaksin yang sedang dikembangkan dapat memungkinkan ini dilakukan dengan relatif cepat."

Afrika Selatan baru-baru ini menolak saran dari pemerintah Inggris bahwa variannya lebih menular daripada yang ada di Inggris. Para ilmuwan bersikeras tidak ada bukti terkait hal itu, atau pun bahwa mutasi di sini membuat virus lebih mematikan.

Rees mengatakan kekhawatiran tentang mutasi di Afrika Selatan harus menambah tekanan global untuk menjalankan program vaksinasi yang cepat di seluruh dunia, dan tidak hanya di negara-negara kaya.

"Karena varian-varian baru sudah menyebar ke negara lain, pentingnya memastikan bahwa vaksin tetap efektif terhadap varian baru merupakan kepentingan global," kata Rees.

Profesor Barry Schoub, yang mengetuai komite penasihat pemerintah untuk vaksin, mengatakan "bukti awal" dari tes-tes tidak menunjukkan bahwa mutasi akan memungkinkan virus untuk "melarikan diri" dari dampak vaksin saat ini.

"Vaksin tampaknya sangat efektif," katanya, mengutip tes laboratorium yang tampaknya menunjukkan vaksin saat ini masih "menetralkan varian baru ini".

Madhi mengatakan percobaan-percobaan penting di laboratorium belum dimulai dan kemanjuran vaksin hanya akan diketahui "selama beberapa minggu ke depan".

(nvc/nvc)