Iklan dari Australia Diselidiki karena Tampilkan Pria Makan Roti Isi Kelelawar

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 12:15 WIB
Iklan BCF yang menunjukkan seorang pria sedang memakan roti isi kelelawar (BCF)
Canberra -

Sebuah iklan yang menunjukkan seorang pria melahap roti isi kelelawar sedang diselidiki pengawas periklanan Australia.

Iklan yang berasal dari perusahaan perlengkapan ruang terbuka Boating Camping Fishing (BCF) sudah ditonton lebih dari 250.000 kali di YouTube.

Di dalamnya, seorang pria berguyon, bahwa pandemi disebabkan oleh seseorang yang makan seekor kelelawar.

Saat kasus ini muncul pertama kali dari pasar hewan di Wuhan, China, belum ada bukti pasti dari mana sumber virus dan bagaimana penyebarannya.

"Kami telah menerima sejumlah keluhan mengenai iklan kampanye musim panas BCF dan sedang dalam proses menilai keluhan ini untuk melihat apakah akan menimbulkan masalah," seorang juru bicara dari Biro Standar Iklan kepada BBC.

Sebelumnya, seorang juru bicara BCF mengatakan kepada media di Australia, bahwa kampanye pemasaran dengan nuansa gembira, mengakui banyak warga Australia akan tetap di rumah musim panas ini dan mendorong mereka untuk menjelajahi halaman belakang rumah mereka sendiri.

"Tentu saja, kami memahami parahnya pandemi dan penyebaran COVID-19, tapi ini jelas bahwa iklan tersebut dibingkai dengan semangat yang sama."

BCF sudah tak asing lagi bagi pengawas periklanan Australian karena daftar iklan mereka yang paling banyak dikeluhkan pada tahun 2016 dan 2018.

"Selama bertahun-tahun, BCF telah membangun sebuah tradisi kampanye yang kurang sopan dalam semangat yang baik hati," juru bicara menambahkan. "Mereka akan mendapatkan orang-orang yang mencela dan kami menyadari itu."

Hubungan tegang

Hubungan antara Australia dan China memburuk tahun lalu, dan makin memburuk dalam beberapa dekade terakhir, kata para ahli.

Iklan tersebut memperlihatkan ketegangan yang makin meningkat.

Australia mendukung penyelidikan global mengenai asal-usul virus Corona pada bulan April lalu. Namun langkah ini ditentang China yang disebut dapat merusak hubungan dua negara.

Sejak saat itu, China telah memberlakukan tarif dan memblokir pengiriman beberapa barang impor dari Australia, meski itu dibantah oleh pihak Beijing.

Sementara itu, China juga mengeluarkan peringatan risiko kepada warga yang akan melancong atau kuliah ke Australia akan masalah serangan berlatar belakang rasisme.

Pada November lalu, China memberlakukan pajak kepada minuman anggur Australia hingga 212% dengan mengatakan ini adalah tindakan antidumping sementara untuk menghentikan impor bersubsidi minuman anggur Australia.

(nvc/nvc)