Pelaku Serangan Rasis Atas Mahasiswa Singapura Divonis Bersalah

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 18:03 WIB
Jonathan Mok
Jakarta -

Seorang remaja Inggris berusia 15 tahun dinyatakan bersalah atas serangan berlatar belakang rasial terhadap seorang mahasiswa Singapura.

Saat melakukan serangan itu sang remaja pria meneriakkan "saya tidak ingin virus coronamu ada di negara saya" saat menyerang mahasiswa asal Singapura itu.

Jonathan Mok, 23 tahun, dipukuli di kawasan pusat perbelanjaan Oxford Street, London pada 24 Februari 2020 lalu.

Agustus lalu, remaja ini mengakui telah melukai tanpa niat, tapi dia menyangkal adanya motif rasial.

Namun demikian dia kemudian diadili karena menyebabkan cedera tubuh pada orang lain dan diperburuk persoalan rasial.

Di Pengadilan untuk remaja Highbury Corner, ketua majelis hakim, Lesley Ward mengatakan serangan itu "tidak beralasan dan bermotif rasial"

'Tak dapat dipercaya'

Hasil rontgen menunjukkan korban mengalami komplikasi patah tulang di bagian hidung juga tulang pipi.

Selama proses pengadilan pada Desember lalu, terdakwa mengaku tak menyinggung soal virus corona, dan menyangkal dirinya sebagai rasis.

Tapi pengadilan mendengar keterangan sejumlah orang yang mendengarkan kata "penyakit" atau "virus corona" dari jarak beberapa meter.

Hakim Ward mengatakan, bukti menunjukkan pernyataan remaja itu tak dapat dipercaya.

Dia menambahkan: "Mengingat keterangan sejumlah saksi dan keterlibatan Anda dalam insiden tersebut, kami merasa tak masuk akal Anda telah melewatkan istilah rasis yang telah digunakan, dan karena itu sulit untuk mempercayai cerita versi Anda."

Terdakwa, yang tak bisa disebut namanya karena alasan hukum, dibebaskan dengan jaminan tanpa syarat, dan akan dihukum di Pengadilan untuk remaja Highbury Corner pada 27 Januari.

Jonathan Mok

Jonathan Mok (BBC)

Dia awalnya dijadwalkan dijatuhi hukuman pada September di Pengadilan Magistrates Highbury Corner setelah mengakui telah melukai dan menyebabkan luka serius tanpa niat.

Masih menjadi perdebatan apakah penyerangan terhadap Mok merupakan kejahatan rasial atau bukan, akan tetapi pengacaranya, Gerard Pitt menunjukkan kliennya itu tidak dituduh melakukan penyerangan rasial.

Tapi setelah sidang di Agustus, Jaksa Daniel Kvanagh mengatakan, serangan itu "keji dan sama sekali tidak beralasan" dan bahwa Mok "jelas menjadi sasaran dalam kejahatan rasial karena penampilan etnisnya,"

Pengadilan telah mendengar bagaimana mahasiswa Mok berbalik badan setelah seorang teman dari remaja itu berkomentar tentang virus corona kepadanya.

Teman terdakwa itu kemudian mengatakan "jangan lihat saya" sebelum memukul Mok di bagian wajah tanpa memberi peringatan, kata pengadilan.

Mok menggambarkan bagaimana remaja 15 tahun ini bergabung dalam penyerangan, memukul dan menendang dirinya, lalu berkata: "Saya tidak ingin virus coronamu ada di negara saya."

Setelah ada kesimpulan kasus kriminal pada hari Senin, seorang juru bicara kejaksaan mengatakan ada "kewajiban yang terus berlanjut untuk menjaga kasus ini dalam tinjauan".

Dan, "setelah peninjauan lebih lanjut atas kasus ini, kami mengajukan tuntutan lebih lanjut".

(ita/ita)