India Setujui Vaksin Buatan Bharat Biotech dan Oxford/AstraZeneca

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 04 Jan 2021 09:12 WIB
EPA
Jakarta -

India memberi izin penggunaan darurat untuk dua jenis vaksin virus corona dan negara itu kini bersiap-siap menjalankan salah satu program vaksinasi terbesar di dunia.

Regulator obat setempat memberi izin penggunaan vaksin AstraZeneca yang dikembangkan oleh Universitas Oxford di Inggris dan vaksin Covaxin, buatan perusahaan dalam negeri Bharat Biotech.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengatakan dua izin penggunaan darurat vaksin virus corona adalah momen penting dalam memerangi penyakit tersebut.

India berencana memvaksinasi 300 juta orang yang masuk dalam daftar prioritas tahun ini.

Negara tersebut mencatat jumlah kasus tertinggi kedua di dunia, yaitu lebih dari 10,3 juta kasus yang dikonfirmasi hingga saat ini. Selain itu, India mencatat hampir 150.000 orang yang telah meninggal dunia.

Pada Sabtu (02/01), India mengadakan pelatihan nasional untuk mempersiapkan lebih dari 90.000 tenaga kesehatan yang akan ditugaskan dalam program vaksinasi di seluruh negara itu. Penduduk di India mencapai 1,3 miliar orang.

Lembaga Pengawas Obat India mengatakan kedua produsen telah menyerahkan data yang menunjukkan bahwa vaksin mereka aman untuk digunakan.

Namun, seorang politisi oposisi mengkritisi kurangnya transparansi data keamanan dan efektivitas Covaxin dalam proses pemberian izin.

India immunisation programme

Program imunisasi India adalah salah satu yang terbesar di dunia. (Getty Images)

Seorang peneliti penyakit menular yang berbasis di Mumbai, Dr Swapneil Parikh, mengatakan kepada BBC bahwa para dokter berada dalam posisi sulit.

"Saya mengerti ada kebutuhan untuk melalui proses dengan cepat, menghilangkan hambatan regulasi," katanya.

"Namun ... [pemerintah dan regulator] berkewajiban untuk menyediakan transparansi tentang data yang telah mereka kaji dan proses pengambilan keputusan untuk mengizinkan vaksin, karena jika mereka tidak melakukan ini, kepercayaan publik bisa terimbas."

Vaksin Oxford/AstraZeneca diproduksi secara lokal oleh produsen vaksin terbesar di dunia, yaitu Serum Institute of India. Perusahaan itu disebut akan menghasilkan lebih dari 50 juta dosis setiap bulan.

Adar Poonawalla, pemimpin perusahaan tersebut, mengatakan kepada BBC pada November lalu bahwa ia bertujuan untuk meningkatkan produksi hingga 100 juta dosis sebulan setelah menerima persetujuan dari pihak regulator.

Vaksin yang dikenal sebagai Covishield di India itu memerlukan dua dosis yang diberikan antara empat hingga 12 minggu.

Vaksin itu dapat disimpan dengan aman pada suhu 2C hingga 8C, atau hampir sama dengan kulkas pada umumnya, dan dapat diberikan di tempat-tempat perawatan kesehatan yang ada, seperti ruang operasi para dokter.

Hal ini membuat vaksin tersebut lebih mudah untuk didistribusikan dibandingkan beberapa vaksin lainnya.

Vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer/BioNTech - yang saat ini didistribusikan di beberapa negara - harus disimpan pada suhu -70C dan hanya dapat dipindahkan dalam jumlah yang terbatas. Hal ini menjadi tantangan khusus di India, mengingat suhu musim panas di sana dapat mencapai 50C.

https://twitter.com/adarpoonawalla/status/1345605880381784067

Di sisi lain, Covaxin yang merupakan vaksin buatan dalam negeri telah disetujui meskipun tidak ada data tentang seberapa efisien vaksin tersebut. Vaksin itu belum melalui uji klinis skala besar.

Pemimpin Lembaga Pengawas Obat, V.G. Somani, mengatakan Covaxin buatan Bharat Biotech "aman dan memberikan respon imun yang kuat".

Somani mengatakan vaksin itu telah disetujui "untuk kepentingan publik sebagai tindakan pencegahan secara luas, dalam mode uji klinis, demi menyediakan lebih banyak pilihan untuk vaksinasi, terutama dalam kasus infeksi oleh galur-galur mutan".

India, yang menghasilkan sekitar 60% vaksin secara global, berencana untuk mengimunisasi sekitar 300 juta orang sebelum Juli 2021. India akan memprioritaskan petugas kesehatan, layanan darurat, dan mereka yang rentan secara klinis karena usia atau penyakit bawaan.

Program vaksinasi India yang sudah berjalan selama ini menjangkau sekitar 55 juta orang per tahun, menyalurkan 390 juta vaksinasi gratis untuk puluhan penyakit. Program tersebut menyimpan dan melacak vaksin melalui sistem elektronik yang sudah berjalan dengan lancar.

Vaksin buatan Pfizer, yang telah disetujui untuk digunakan di beberapa wilayah termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, juga menunggu izin penggunaan darurat di India.

Secara keseluruhan, sekitar 30 kandidat vaksin sedang dikembangkan di India.

(ita/ita)