Sinyal 'Bintang Terdekat' Diselidiki terkait Dugaan Adanya Makhluk Luar Angkasa

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 02 Jan 2021 09:27 WIB
Washington DC -

Sinyal radio dari arah Proxima Centauri, bintang terdekat dari Matahari, menimbulkan rumor dan spekulasi di internet, termasuk kemungkinan sinyal dari makhluk ruang angkasa.

Pakar astronomi di balik pencarian makhluk ruang angkasa paling ekstensif tengah menyelidiki gelombang radio yang muncul dari arah Proxima.

Gelombang ini terdeteksi dalam observasi selama 30 jam melalui teleskop di Parkes Observatory, Australia pada April dan Mei tahun 2019, seperti dilaporkan harian The Guardian.

Analisa sinyal ini masih terus dilakukan namun para ilmuwan belum dapat mengidentifikasi asal sinyal.

Identifikasi gelombang radio biasanya ditemukan para pakar astronom di proyek Breaktrhough Listen melalui Observatorium Parkes atau di Observatorium Green Bank, West Virignia, namun sejauh ini sinyal disebutkan dari gangguan yang dibuat manusia atau sumber alam.

Breakthrough Listen adalah proyek penelitian ilmiah terbesar dunia yang bertujuan untuk menemukan bukti adanya kehidupan di luar Bumi.

Proxima Centauri, yang berjarak 4,2 tahun cahaya (satuan panjang yang digunakan untuk menyatakan jarak astronomis dan memiliki nilai sekitar 9,46 triliun kilometer - 9,46 x 1012 km) dari Bumi, bahkan diduga memiliki atmosfer.

Planet ini adalah bagian dari sistem bintang Alpha Centauri, yang berjarak paling dekat dari Matahari.

Sofia Sheikh, mahasiswa doktoral di Pennsylvania State University yang tergabung dalam Breakthrough Listenmengatakan, "Pertanyaannya adalah apakah ini teknologi Bumi atau teknologi dari luar sana."

"Sinyal ini muncul di data kami saat kami mengamati ke arah Proxima Centauri, dan ini menarik," kata Sheikh seperti dikutip New York Times.

cakram satelit

Sinyal aneh ini pertama terdeteksi di Australia. (Getty Images)

Ia juga mengatakan, "pada awalnya kami sangat skeptis dan saya tetap skeptis," tentang sinyal itu,

Namun ia menambahkan, sinyal itu adalah "sinyal yang paling menarik yang muncul dalam program Breakthrough Listen program."

Sementara itu, Mar Gomez, peneliti fisika dari Universitas Complutense University, Madrid, mengatakan, "Sinyal itu muncul sekali dan tidak berulang. Frekuensinya bukan seperti yang dipancarkan alat teresterial seperti satelit dan kapal."

Deteksi sinyal

Observatorium Parkes di New South Wales, Australia menyebut bintang ini sebagai "lempeng" setelah teleskop yang telah digunakan selama 50 tahun di sana menerima sinyal aneh.

Teleskop itu digunakan untuk sejumlah misi ruang angkasa dan informasi ini dibagikan ke berbagai lembaga termasuk badan antariksa Amerika, NASA.

"Yang kita bicarakan ini adalah teleskop yang sangat penting dan kita harus ingat bahwa teleskop itu dipakai menerima foto-foto dari Apollo 12 yang mendarat di Bulan," kata Gomez kepada BBC Mundo.

Peneliti ini juga menambahkan bahwa observatorium itu melakukan koordinasi dalam sejumlah misi seperti proyek pencarian intelijen ekstra teresterial, Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI).

Observatorium di Australia.

Observatorium di Australia. (Getty Images)

"Karena tidak ada suara di ruang angkasa, satu-satunya cara kita berkomunikasi adalah melalui gelombang radio. Kita bisa pancarkan ke ruang angkasa dan mungkin dari planet lain atau sistem bintang ada bentuk kehidupan yang mencoba berkomunikasi," kata Gomez lagi.

Proyek Breakthrough Listen, yang memang dibentuk untuk observasi kehidupan lain di jagat raya, juga menyadari kemungkinan ini.

Proyek yang dibentuk dengan biaya US$ 100 juta (Rp 1,4 triliun) pada 2015 didukung oleh sejumlah ilmuwan terkemuka, termasuk ilmuwan fisika Inggris, Stephen Hawking.

Menurut laporan harian The Guardian, Breakthrough Listen akan menerbitkan laporan investigasi mereka tentang sinyal ini dalam beberapa bulan ke depan.

Gomez mengatakan komunitas ilmuwan yang meneliti gelombang sinyal misterius ini sangat menjaga kerahasiaan.

NASA menyebut Proxima Centauri yang ditemukan pada 2016 sebagai planet yang sedikit lebih besar atau sekitar 1,27 lebih besar dari Bumi.

Pencarian kehidupan ekstra terestrial

Semakin banyak ilmuwan yang menyatakan bahwa penyelidikan tentang kehidupan lain di luar Bumi perlu diselidiki dengan lebih serius.

Wartawan sains BBC, Pallab Ghosh, melaporkan Februari lalu bahwa permintaan penyelidikan lebih mendalam ini muncul dalam pertemuan asosiasi ilmuwan Amerika, American Association for the Advancement of Science di Seattle.

Saat tu, direktur badan observatorium Amerika, National Radio Astronomy Observatory, Anthony Beasley, mengatakan bidang penelitian seperti ini harus mendapatkan dukungan lebih banyak lagi dari Washington.

Penelitian semacam ini selama puluhan tahun sering ditolak oleh pemerintah AS.

NASA sendiri memiliki proyek serupa.

Juli lalu, NASA meluncurkan robot untuk meneliti kehidupan di Mars.

Misi itu adalah operasi NASA pertama yang secara langsung mencari "petunjuk" adanya tanda-tanda kehidupan.

Gomez mengatakan semua proyek itu relevan karena penemuan apapun termasuk bakteri ataupun mikroba di planet lain, dapat menjadi penemuan paling penting dalam sejarah.

(nvc/nvc)