Divaksin Corona di Inggris, Nakes Asal RI Akui Hanya Rasakan 'Pegal Linu'

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 02 Jan 2021 09:03 WIB
London -

Tenaga kesehatan Indonesia yang bekerja di rumah sakit di London dan termasuk dalam kelompok pertama yang mendapat vaksinasi massal COVID-19 di Inggris, mengatakan efek samping yang mereka rasakan hanya "pegal linu" atau nyeri badan.

Tiga nakes Indonesia yang bekerja di rumah sakit yang berbeda di London akan mendapatkan dosis kedua vaksin Pfizer pada sekitar pekan kedua Januari ini, untuk memastikan imunisasi penuh.

Dua dokter dan seorang perawat Indonesia mengalami apa yang disebutkan dalam lembaran yang dibagikan sebelum vaksinasi, sebagai efek samping ringan, namun dengan tingkatan yang berbeda.

Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, dokter kebidanan dan kandungan, yang bekerja di Chelsea and Westminster Hospital, London mengatakan yang ia rasakan, "Sedikit pegal dan linu saja, tapi lengan dan tangan masih tetap berfungsi seperti biasa."

"Saya sih linu dan pegal hanya di lengan tempat suntikan. Tapi semua anggota badan yang lain tak terpengaruh. Sekitar 24 jam, setelah itu sudah tak berasa lagi," kata dokter yang biasa dipanggil Pitha.

Vaksinasi massal di Inggris - dengan vaksin Pfizer/BioNTech - dimulai pada awal Desember lalu di tengah lonjakan besar kasus yang disebut dokter serta pejabat kesehatan sebagai "tsunami" dan "fase paling berbahaya."

Ardto Widjono mengatakan ia mengalami nyeri badan beberapa jam setelah disuntik.

Ardto Widjono mengatakan ia mengalami nyeri badan beberapa jam setelah disuntik. (BBC)

Sementara Annas Alamudi, perawat yang bekerja di bagian gawat darurat di rumah sakit King's College London mengatakan yang ia rasakan "cuma pegal linu dua hari...pegalnya tak parah, kayak abis olahraga aja."

Ardito Widjono, dokter yang bekerja di rumah sakit Barnet, London utara, juga bercerita "soal nyeri badan selama beberapa jam" dan "sakit di tempat suntikan".

"Sekitar sehari sudah tak terasa apa-apa lagi," kata Ardito yang saat ini bekerja di bagian gawat darurat.

Kemungkinan efek samping

Sebelum imunisasi, mereka yang divaksin diberikan daftar pertanyaan yang harus dijawab untuk meminimalisir efek samping.

Berdasarkan brosur yang diberikan kepada mereka yang divaksin, disebutkan bahwa sebagian besar efek samping ringan dan akan hilang dalam beberapa hari dengan minum obat penghilang nyeri dan demam seperti parasetamol.

"Seperti halnya semua vaksin, vaksin BNT162b2 COVID-19 mRNA dapat menyebabkan efek samping, namun tak semua akan merasakan," demikian tertulis dalam brosur itu.

Yang sangat biasa: Dapat mempengaruhi lebih dari 1 dalam 10 orang

  • Nyeri di tempat suntikan
  • Lelah
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Menggigil
  • Nyeri persendian
  • Demam

Biasa: Dapat mempengaruhi 1 dalam 10 orang

  • Bengkak di tempat suntik
  • Merah di tempat suntikan
  • Mual

Tidak biasa: Dapat mempengaruhi 1 dalam 100 orang

  • Kelenjar getah bening membesar

Dalam brosur vaksin juga disebutkan bahwa vaksin ini tidak berpengaruh terhadap "kemampuan orang untuk mengemudi kendaraan dan menggunakan mesin, namun kemungkinan terpengaruh masih ada."

"Jangan mengendara atau mengoperasikan mesin sampai Anda yakin, tidak ada efek samping vaksin," tulis brosur itu.

Saat ini belum ada data cukup untuk melihat dampak vaksin bagi perempuan hamil atau menyusui.

"Untuk berjaga-jaga, kehamilan perlu dihindari paling tidak dua bulan setelah vaksin," menurut keterangan dalam brosur.

Bulan lalu, regulator di Inggris menyarankan orang dengan riwayat alergi serius sebaiknya tidak divaksin dengan vaksin buatan Pfizer/BioNTech.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah dua petugas kesehatan yang disuntik vaksin Selasa (08/12) lalu menunjukkan reaksi alergi.

Ketiga paramedis Indonesia ini mengatakan "lega" mendapatkan vaksinasi ini dan dapat menghadapi pasien dengan tenang, tanpa khawatir menulari mereka.

Pitha mengatakan dengan vaksinasi ini, "saya jadi lebih aman terhadap pasien yang rentan seperti ibu hamil, pasien penderita kanker dan pasien rentan lain."

Pitha juga mengatakan harapannya agar vaksinasi dapat dipercepat karena "jumlah pasien yang dirawat lebih banyak dari gelombang pertama... dan sepertiga pasien di unit persalinan positif COVID."

Sementara Annas Alamudi berharap vaksinasi yang diterimanya menekan risiko penularan ke anak-anak. "Saya ambil vaksinasi untuk lindungi anak." Tahun lalu, kata Anas, ia tak bertemu dengan putranya selama tiga bulan.

Bagi Ardito Widjono, keparahan gelombang kedua COVID-19 terlihat dari kewalahannya rumah sakit.

"Di UGD, saking sibuknya, ambulans antre masuk setiap malam. Saya terpaksa periksa pasien di belakang ambulans saking penuh," kata Ardito.

"Pasien tampaknya tidak sehati-hati di puncak pertama. Ketika penularan tinggi dengan adanya varian baru, ada yang cerita ke saya, mereka ke pesta Natal, pesta Tahun Baru, diam-diam. Tampaknya, mereka belum paham separah apa gelombang kedua ini," tambahnya.

"Tsunami" dan "Fase paling berbahaya"

Profesor Hugh Montgomery, selaku dokter di perawatan intensif RS University College London, mengatakan kepada BBC, tim gawat darurat di Inggris menghadapi apa yang ia sebut "tsunami" kasus virus Corona karena lonjakan kasus positif.

Montgomery mengatakan banyak orang yang melanggar karantina, tidak mempedulikan protokol kesehatan, termasuk tidak memakai masker dan jaga jarak.

Ia menyebut orang-orang yang tidak mempedulikan protokol kesehatan ini "tangannya berdarah", karena bertanggung jawab atas penyebaran.

Peningkatan kasus harian di Inggris mencapai lebih dari 53.000 kasus pada (29/12), dengan angka okupansi rumah sakit juga melonjak.

Saat ini rumah sakit di Inggris merawat lebih dari 20.400 pasien, menurut data layanan kesehatan Inggris (NHS). Jumlah tersebut lebih tinggi dari 19.000 pasien pada puncak pertama April tahun lalu.

Penasehat pemerintah dari badan sains Inggris memperingatkan karantina wilayah perlu diperketat untuk mencegah "bencana."

Ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan pasien Covid-19 parah yang dirawat pada 2020 mencapai 200.000 lebih.

Ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan pasien COVID-19 parah yang dirawat pada 2020 mencapai 200.000 lebih. (Getty Images)

Lonjakan penyebaran varian baru virus corona ini menunjukkan Inggris memasuki "tahap baru pandemi yang sangat berbahaya," menurut Prof Andrew Hayward, anggota badan penasehat pemerintah untuk penyakit pernafasan akibat virus, New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (Nervtag).

Hayward mengatakan kepada Program Today BBC Radio 4, "Kita perlu mengambil langkah awal yang menentukan, langkah nasional untuk mencegah bencana pada Januari dan Februari."

Dua bulan di awal tahun ini adalah puncak musim dingin di belahan bumi utara.

Sementara itu ketua NHS Inggris, Simon Stevens, mengatakan dalam kondisi yang seperti ini para petugas medis "kembali berada di tengah badai".

Ardito Widjono

Antara dosis pertama dan dosis kedua berjarak 21 hari, sebelum mendapat imunitas penuh. (BBC)

Ia mengatakan bagi tenaga kesehatan, 2020 adalah "tahun terberat" dengan pasien parah COVID-19 yang dirawat berjumlah sekitar 200.000 orang.

Peningkatan "50% penularan varian baru berarti pembatasan yang dilakukan sebelumnya dan berhasil, tidak akan berjalan sekarang, jadi pembatasan level 4 perlu atau lebih tinggi dari itu," tambahnya.

Sejak 20 Desember lalu, London dan sebagian Inggris ditetapkan dalam pembatasan kategori 4 (tier 4) atau yang tertinggi.

Melalui pembatasan ini, warga tak dibolehkan melakukan perjalanan, kecuali untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat sangat khusus.

Pembatasan diterapkan menyusul penemuan varian baru virus Corona dengan tingkat penyebaran 70% lebih cepat dari virus Corona yang dikenal selama ini.

Ancaman gelombang ketiga COVID-19

Sejak terdeteksi di Inggris, varian baru ini juga ditemukan di setidaknya 20 negara lain, termasuk sebagian besar Eropa, serta di Asia, Jepang dan Korea Selatan. Di banyak negara, varian baru ini terdeteksi pada mereka yang baru kembali dari Inggris.

Varian baru juga ditemukan di Amerika Serikat pada pemuda berusia 20 tahun, namun pemuda ini disebutkan tidak melakukan perjalanan.

Data dari Kementerian Kesehatan Inggris menunjukkan sejak vaksinasi diluncurkan awal Desember lalu, baru sekitar 600.000 orang yang divaksin.

Untuk mencegah gelombang ketiga COVID-19, Inggris perlu meningkatkan vaksinasi menjadi dua juta kali dalam seminggu.

Peringatan ini tercantum dalam artikel ilmiah London School of Hygiene and Tropical Medicine yang didistribusikan bersama badan penasehat sains pemerintah, Scientific Advisory Group for Emergencies (SAGE).

Regulator kesehatan Inggris Rabu (30/12) menyepakati vaksin buatan Universitas Oxford bekerja sama dengan AstraZaneca.

Pemerintah Inggris telah memesan 100 juta dosis dari AstraZeneca sehingga dapat dipakai untuk memvaksinasi 50 juta orang.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan kepada BBC, vaksin tersebut akan mulai didistribusikan pada Senin (04/01).

"Kami punya vaksin ini dalam jumlah yang cukup guna memvaksinasi seluruh populasi100 juta dosis. Tambahkan dengan 30 juta dosis Pfizer dan itu cukup bagi seluruh populasi untuk menerima dua dosis masing-masing," kata Hancock.

Simak juga video 'Sengaja Rusak 500 Dosis Vaksin Corona, Apoteker di AS Ditangkap':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)