Propaganda China Bungkam Suara Rakyat dan Tulis Ulang Sejarah Soal Corona

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 17:27 WIB
Beijing -

China telah merayakan kemenangan atas virus corona tahun ini.

China telah merayakan kemenangan atas virus corona tahun ini. (China News Service)

Pada awal 2020, pemerintah China menghadapi dua tantangan besar; penyakit misterius yang mengancam populasinya dan gelombang suara di internet yang memberi tahu dunia apa yang terjadi.

Pada akhir 2020, lirikan sekilas pada media yang dikontrol pemerintah menunjukkan bahwa keduanya tampak terkendali.

Wartawan BBC Kerry Allen dan Zhaoyin Feng mengulas kembali tindakan-tindakan penyensoran di internet oleh pemerintah China, yang bekerja sangat keras untuk menekan informasi negatif, para warga yang berhasil menembus "the Great Firewall", dan bagaimana mesin propaganda menulis ulang narasi.

Saling tuding di tengah kemarahan warganet

Pada awal tahun, jelas bahwa sesuatu yang tak biasa sedang terjadi. Ribuan pesan bernada marah dari publik muncul di media sosial China, mempertanyakan apakah pemerintah lokal menutup-nutupi keberadaan virus lain yang mirip Sars.

Meskipun sensor pemerintah secara rutin meredam pesan-pesan anti pemerintah di platform seperti Sina Weibo (situs mikroblog alaTwitter di China), pesan-pesan yang bermunculan kali ini begitu banyak sehingga masih ada beberapa yang tetap terlihat.

Ini karena ketika menghadapi bencana besar, pemerintah China seringkali keteteran dalam bereaksi, dan sensor lamban bertindak. Pada Januari dan Februari, berbagai media publikasi memanfaatkan kesempatan ini untuk menerbitkan laporan investigasi, yang tersebar secara luas di media sosial.

Belakangan, setelah Beijing memikirkan strategi propaganda, laporan-laporan ini diredam.

Terjadi saling tuding-menuding. Pada pertengahan Januari, Presiden China Xi Jinping tiba-tiba absen dari media China.

Ia tidak terlihat di depan umum, dan gambarnya hilang dari laman depan media-media yang biasanya berpihak pada pemerintah seperti Harian Rakyat. Muncul spekulasi bahwa Presiden Xi tidak mau disalahkan.

Namun dalam sepekan semuanya berubah drastis. Pejabat-pejabat tinggi mulai memperingatkan pemerintah lokal bahwa mereka akan "selamanya ditancapkan pada pilar aib sejarah" jika mereka menyembunyikan informasi tentang kasus di wilayah mereka.

Media China dan warganet mulai mengarahkan telunjuk ke pemerintah Wuhan, dengan surat kabar seperti Beijing News menulis komentar yang tidak biasa, mempertanyakan: "Mengapa Wuhan tidak memberi tahu masyarakat lebih awal?"

Xi kemudian muncul kembali pada awal Februari sebagai pilar kepercayaan diri dan kekuatan di tengah proses pemulihan China.

Penyensoran terhadap dokter

Di tengah semua kebingungan itu, menjadi jelas bahwa ada suara seseorang yang telah dibungkam, padahal seharusnya tidak.

Li Wenliang menjadi terkenal di seluruh dunia sebagai dokter "pembocor rahasia" yang berusaha memperingatkan para koleganya tentang sejenis virus baru mirip-Sars. Dr. Li meninggal dunia pada 7 Februari, setelah ketahuan bahwa ia pernah diselidiki karena "mengganggu ketertiban sosial" dengan "membuat pernyataan palsu".

Setelah sang dokter meninggal, lebih dari sejuta warganet meninggalkan pesan dukungan di profilnya di Sina Weibo, yang disebut banyak orang sebagai "Tembok Ratapan" China. Namun, kiriman-kiriman itu dihapus secara rutin, yang membuat orang-orang kesal.

Bagaimanapun, para warganet menemukan cara-cara kreatif untuk mengenangnya dengan menggunakan emoji, kode Morse, dan naskah China kuno.

Banyak yang juga menulis pesan yang tak bisa mereka katakan secara online di masker mereka. Muncul tren di Facebook dan platform bertukar pesan WeChat, yang mana para pengguna menuliskan kalimat "Saya tidak bisa memahami ini" di masker mereka sebagai tanggapan atas kematian dr. Li.

Banyak jurnalis 'menghilang', namun mendapat banyak perhatian di luar China

Walaupun penguasa sejak itu telah secara resmi mengakui dr. Li Wenliang sebagai "martir", beberapa aktivis terkenal mungkin telah dicoret dari sejarah COVID-19 di China.

Selama wabah di Wuhan, sejumlah jurnalis warga membuat dampak besar di seluruh dunia, dengan mengakali sistem sensor yang disebut "the great firewall of China" untuk melaporkan keadaan di dalam kota itu.

Di antara mereka adalah Chen Qiushi, Fang Bin, dan Zhang Zhan. Mereka mengumpulkan ratusan ribu penonton di YouTube untuk video yang mereka sebut menunjukkan gambaran nyata tentang apa yang terjadi di Wuhan.

Namun, ini dibayar dengan mahal. Komite Perlindungan Jurnalis mencatat bahwa di Wuhan, otoritas "menangkap beberapa jurnalis untuk peliputan yang mengancam narasi resmi tentang respons Beijing".

KPJ berkata tiga jurnalis masih dalam penjara. Dan karena YouTube diblokir di China, tidak banyak warga negara itu yang mengetahui dampak liputan mereka.

Pertanyaan juga telah diajukan mengenai apakah seorang jurnalis yang sempat menghilang kemudian muncul kembali menjadi bagian dari kampanye propaganda di manca negara.

Li Zehua menghilang pada Februari setelah mengunggah video di YouTube yang mengatakan ia sedang dikejar-kejar oleh polisi.

Ia tidak terdengar lagi selama dua bulan, tapi kemudian ia mengunggah video yang mengatakan ia telah berkooperasi dengan otoritas dan sudah melalui karantina.

Ia belum pernah mengepos lagi sejak itu, dan banyak yang menduga bahwa ia dipaksa untuk membuat video tersebut.

Anak-anak muda menderita, namun menemukan cara baru untuk mengungkapkan suara mereka

Sejak Maret, China ingin menandai kesuksesannya dalam mengatasi virus Corona, namun sangat jelas bahwa sensor telah berusaha memberangus bukti-bukti ketidakpuasan, terutama di antara anak muda.

China telah menekankan bahwa mereka ingin menghindari lockdown ala Wuhan lagi. Namun, seperti dilaporkan South China Morning Post, banyak universitas terus menerapkan lockdown di seluruh area kampus.

Pada Agustus, banyak mahasiswa kembali menghadiri kuliah secara fisik untuk pertama kali. Namun protes meletup di kampus-kampus seluruh negeri terhadap universitas yang menjatah internet dan waktu mandi, karena tiba-tiba overkapasitas.

Muncul juga banyak komplain bahwa kantin-kantin universitas memanfaatkan ketergantungan mahasiswa pada makanan di lokasi dan menaikkan harga makanan. Banyak percakapan tentang itu kemudian disensor.

Amarah dan kekecewaan di antara anak-anak muda China memuat banyak dari mereka tahun ini pindah dari platform media sosial tradisional ke yang kurang terkenal, untuk mencurahkan isi hati.

Situs web berita Sixth Tone menemukan lonjakan kaum "NetEmo" di platform streaming musik, Netease Cloud Music, dengan banyak komentar dari anak-anak muda China tentang "ujian yang gagal, hubungan yang tamat, dan mimpi yang hancur".

Dilaporkan bahwa platform tersebut berusaha "untuk membendung tren tersebut", dengan mengumumkan penghapusan massal pada apa yang disebutnya komentar-komentar pengguna "buatan".

Menulis ulang sejarah dengan buku dan serial televisi baru

China juga berusaha mempromosikan gambaran yang sangat optimis.

Sebagaimana ada banyak kekhawatiran bahwa serial Netflix The Crown menceritakan versi sejarah kerajaan Inggris yang tidak otentik, banyak warga China khawatir bila buku-buku dan program televisi di era pasca-COVID tidak secara akurat menunjukkan apa yang terjadi di Wuhan.

Fang Fang, sempat menjadi bintang online, kini dituding menyebarkan

Fang Fang, sempat menjadi bintang online, kini dituding menyebarkan "narasi kiamat". (Getty Images)

Penulis China Fang Fang mendapat banyak pujian awal tahun ini karena mendokumentasikan kehidupannya di Wuhan, dan memberi sedikit gambaran langka tentang ketakutan dan harapan para penduduk Wuhan.

Namun, buku harian online-nya sejak itu telah menjadikannya target para nasionalis fanatik China, yang menuduhnya berusaha mencoreng nama baik China dan mendorong "narasi kiamat".

Media pemerintah telah berusaha mempromosikan buku-buku lain, termasuk yang ditulis oleh ekspatriat, untuk mendukung pesan optimis pemerintah tentang cara pemerintah menangani virus.

Dalam beberapa kasus, muncul reaksi negatif terhadap upaya media pemerintah mendikte narasi tertentu tentang penanganan wabah Wuhan.

Ini tampak jelas pada September ketika Pahlawan dalam Bahaya, drama pertama yang "berdasarkan kisah nyata" para pekerja di garis depan, diprotes karena mengecilkan peran perempuan dalam penanganan wabah.

China yang lebih kuat versus 'Barat yang hancur dan tak stabil'

Jelas bahwa China ingin mengakhiri 2020 dengan gemilang.

Selain mengatakan kepada rakyatnya bahwa negara telah menang dalam perang melawan COVID-19, China juga ingin memberi tahu seluruh dunia.

Namun China sekarang berusaha menjauhkan diri dari kaitan awalnya dengan virus Corona, dan mempromosikan ide bahwa kesuksesan China dalam mengatasi COVID-19 berarti model politiknya lebih sukses dari Barat.

Upaya ini telah lebih dari menyerukan agar kita mengakhiri terminologi bernada menuduh, seperti "virus Corona Wuhan" - yang bahkan digunakan oleh media China di masa-masa awal - hingga mengencangkan dugaan bahwa virus Corona bisa jadi sebenarnya dimulai di Barat.

Media-media China tidak melewatkan kesempatan sepanjang tahun untuk menyoroti kegagalan Amerika Serikat - dan sampai tingkat tertentu Inggris - dalam menangani virus Corona, dan bagaimana kegagalan tersebut memperparah perpecahan.

Usaha tersebut begitu intens sehingga banyak warganet di China menyebut COVID-19 sebagai "virus Amerika" atau "virus Trump".

Surat kabar dan media penyiaran juga suka memberitakan bila media AS berselisih satu sama lain, bagaimana para politisi memprioritaskan anggaran untuk kampanye pemilu daripada layanan kesehatan, dan bagaimana pemilihan presiden yang kacau, dan tanpa akhir, berbuntut pada polarisasi politik yang ekstrem.

Jika ada satu pesan yang ingin dibawa China ke 2021, itu bahwa negara menutup tahun 2020 dengan persatuan dan kemakmuran, sementara negara-negara lain hanya bisa mengantisipasi lebih banyak perpecahan dan ketidakstabilan.

(nvc/nvc)