George Blake, Agen Ganda Mata-mata Soviet dan Inggris Meninggal di Rusia

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 09:26 WIB
George Blake mengatakan kepada BBC bahwa ia telah mengkhianati lebih dari 500 agen badan intelijen Inggris, MI6 (PA Media)
Moskow -

George Blake, mantan agen badan intelijen Inggris MI6 dan salah satu agen ganda termasyhur pada saat Perang Dingin, meninggal dunia pada usia 98 tahun, menurut laporan media Rusia.

Selama sembilan tahun, mata-mata Soviet ini membocorkan informasi yang berujung pada pengkhianatan terhadap setidaknya 40 anggota agen MI6 di Eropa Timur.

Ia dipenjara di London pada 1960, namun melarikan diri pada 1966 dan kabur ke Rusia.

Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) mengatakan Blake "memiliki cinta yang tulus untuk negara kami".

Kematiannya, yang dilaporkan oleh media milik pemerintah Rusia, RIA Novosti, dikonfirmasi oleh Sergei Ivanov, kepala dari biro pers SVR.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkannya sebagai "profesional yang luar biasa dengan keberanian dan daya tahan hidup khusus ".

"Selama bertahun-tahun upaya keras dan beratnya, ia memberikan kontribusi yang benar-benar tak ternilai untuk memastikan keseimbangan strategis dan pelestarian perdamaian di planet ini," katanya dalam pesan belasungkawa.

"Hati kami akan selalu menghargai kenangan hangat dari pria legendaris ini."

Blake lahir dengan nama George Behar pada 11 November 1922 di Rotterdam, Belanda.

Ayahnya adalah orang Spanyol keturunan Yahudi yang bertempur untuk Inggris selama Perang Dunia I dan mendapatkan kewarganegaraan Inggris.

Blake sendiri bekerja untuk gerakan perlawanan Belanda selama Perang Dunia II, sebelum melarikan diri ke Gibraltar di Spanyol yang dikontrol oleh Inggris.

Ia kemudian, karena latar belakangnya, diajak bergabung ke badan intelijen.

Blake returns from Korea in 1953

Blake difoto pada 1953 (Getty Images)

Ia fasih berbahasa Belanda dan ditugaskan untuk memecahkan pesan berkode yang dikirim ke London oleh gerakan perlawanan Belanda.

Ketika perang berakhir, dia dikirim ke Jerman di mana dia memata-matai pasukan Soviet yang menduduki tempat yang dulu disebut Jerman Timur.

Setelah sukses menjalankan operasi di Jerman, ia dikirim kembali ke Inggris di mana dia belajar bahasa Rusia di Cambridge.

Blake kemudian berkata: "Dengan cara itu membentuk tahap lain dalam perkembangan saya menuju komunisme, menuju keinginan saya untuk bekerja untuk Uni Soviet."

Ia dipindahkan ke Korea Selatan tepat sebelum pecahnya perang antara Korea Selatan yang didukung Barat dan Korea Utara yang didukung Soviet.

Tugasnya adalah membuat jaringan agen untuk memata-matai Korea Utara tetapi komunikasi yang buruk membuat tugasnya sulit.

Ketika Korea Utara menguasai kota Seoul, Blake ditahan bersama dengan sejumlah diplomat dan misionaris.

Ia kemudian membantah klaim bahwa ia telah dicuci otak agar mau bekerja untuk Uni Soviet.

Blake mengatakan pemboman berkelanjutan di desa-desa kecil di Korea Utara oleh pesawat Amerika membuatnya merasa malu dengan tindakan Barat.

Ia juga menyebut bahwa dirinya dipengaruhi oleh buku Karl Marx, Das Kapital, yang dikirim ke tahanan oleh kedutaan Soviet.

Blake kemudian berkomentar: "Saya merasa lebih baik bagi umat manusia jika sistem komunis menang, bahwa itu akan mengakhiri perang."

Pada akhirnya Blake menawarkan jasanya ke kedutaan Soviet yang disambut dengan sebuah wawancara perekrutan dengan agen KGB.

Ketika Blake kembali ke Inggris setelah dilepas dari tahanan pada 1953, ia telah menjadi agen Soviet.

Pada 1955, ia dikirim ke Berlin, di mana ia diberi tugas untuk merekrut mata-mata Soviet sebagai agen ganda.

Itu adalah tugas yang ideal bagi pria yang kini telah berkomitmen untuk Uni Soviet.

Checkpoint Charlie in the 1950s

Di Berlin, ia membocorkan informasi pada Soviet. (AFP)

Selama sembilan tahun, Blake membocorkan informasi yang menyebabkan pengkhianatan sekitar 40 agen MI6 di Eropa Timur, yang sangat merugikan Intelijen Inggris.

Dia kemudian berkata: "Saya tidak tahu apa yang saya serahkan karena terlalu banyak."

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 1990, Blake memperkirakan bahwa ia telah mengkhianati lebih dari 500 agen tetapi dia membantah anggapan bahwa 42 dari mereka telah kehilangan nyawa akibat tindakannya.

Kejatuhannya terjadi ketika seorang petugas dinas rahasia Polandia, Michael Goleniewski, membelot ke Barat, membawa gundiknya dan perincian tentang seorang mata-mata Soviet di badan intelijen Inggris.

Blake dipanggil kembali ke London dan ditangkap.

Di persidangan, dia mengaku bersalah atas lima dakwaan membocorkan informasi kepada Uni Soviet.

Analisis oleh Gordon Corera

Koresponden Keamanan

George Blake melakukan kerusakan besar pada operasi intelijen Inggris selama Perang Dingin, mengkhianati agen dan operasi rahasia dan menunjukkan bahwa KGB (badan intelijen Rusia) dapat menjalankan agen di jantung negara Inggris.

Pelariannya dari penjara menambah rasa malu.

Alasan dibalik aksi yang dilakukan Blake sesekali tampak misterius, terutama perekrutan awalnya.

Ketika saya menghubunginya satu dekade lalu, ia mengatakan kepada saya: "Bagi saya tidak lagi penting apakah motivasi saya secara umum dipahami atau tidak."

Bagian dari masalah baginya adalah bahwa ia telah memilih komunisme tetapi hidup untuk melihat keruntuhannya dan akhir dari Uni Soviet, menjalani hari-harinya di Rusia, di mana dia masih dipandang sebagai pahlawan oleh para penerusnya di KGB.

Pada 1995, pelarian Blake dari penjara HMP Wormwood Scrubs menjadi fokus dari drama bertajuk Cell Mates yang diperankan oleh aktor Stephen Fry dan Rik Mayall.

Pada 5015, film dokumenter BBC Masterspy of Moscow mengisahkan tentang apa yang disebut sebagai "kehidupan yang aneh" dari "pengkhianat yang penuh teka-teki".

(nvc/nvc)