Dianggap Bahayakan Keamanan Nasional, Aktivis Wanita Arab Saudi Dihukum Bui

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 09:04 WIB
Loujain al-Hathloul menjadi simbol perjuangan hak perempuan di Arab Saudi. (Reuters)
Riyadh -

Aktivis perempuan Arab Saudi Loujain al-Hathloul - yang mengkampanyekan hak perempuan untuk mengemudi - dihukum penjara oleh mahkamah khusus yang menangani kasus-kasus terorisme.

Mahkamah menyebutkan Loujain mencoba membahayakan keamanan nasional dan melakukan agenda asing di kerajaan itu.

Kelompok-kelompok hak asasi internasional berulang kali menyerukan agar ia dibebaskan.

Aktivis perempuan ini ditahan tak lama sebelum perempuan Saudi diizinkan mengemudi pada 2018 - langkah yang ia perjuangkan bersama teman-temannya.

Para pejabat Saudi menekankan penahanannya tak ada kaitan dengan isu mengemudi.

Perempuan berusia 31 tahun ini telah menjadi simbol perjuangan hak perempuan di Arab Saudi. Ia telah mendekam di penjara selama dua setengah tahun.

Selain mengkampanyekan agar perempuan boleh mengemudi, Loujain juga mengupayakan diakhirinya sistem pengawalan Saudi yang mensyaratkan perempuan mendapat izin dari saudara pria untuk banyak keputusan.

Loujain dan aktivis lain ditahan pada 2018 atas sejumlah dakwaan termasuk melakukan kontak dengan organisasi-organisasi yang dianggap bermusuhan dengan Arab Saudi.

Kelompok hak asasi manusia berulang kali menyerukan agar ia dibebaskan.

Keluarga Loujain mengatakan mereka tak ada kontak selama tiga bulan setelah ia ditahan pada 2018. Keluarganya juga mengatakan ia disiksa dengan menggunakan kejut listrik, cambuk dan dilecehkan secara seksual.

Para pakar hak asasi manusia mengatakan pengadilan Loujain tidak memenuhi standar internasional.

November lalu, Amnesty Internasional mengecam dipindahkannya kasus Loujain ke mahkamah khusus dengan mengatakan langkah itu menunjukkan "brutalitas dan kemunafikan" pemerintah Saudi.

Menyanggah semua dakwaan

Namun Mahkamah Khusus - yang dibentuk untuk mengadili kasus terorisme - menghukumnya atas berbagai dakwaan termasuk membahayakan keamanan negara dan mengangkat agenda asing.

Mahkamah menjatuhkan hukuman lima tahun penjara dan delapan bulan. Hukuman dua tahun dan 10 bulan disebutkan sebagai percobaan.

Loujain dan keluarganya menyanggah semua dakwaan. Mereka juga mengatakan ia disiksa di penjara, tuduhan yang disanggah pengadilan.

Media pro-pemerintah menyebut Loujain - lulusan Universitas British of Columbia, UBC, Kanada - dan aktivis lain sebagai "pengkhianat" dan keluarganya menuduh ia menghadapi pelecehan seksual selama ditahan.

Loujain juga menuduh mantan penasehat media pengadilan Saud al-Qahtani mengancam akan memperkosa dan membunuhnya, menurut keluarganya. Pemerintah Saudi menyanggah semua tuduhan itu.

Seorang aktivis Saudi yang menolak menyebut namanya dengan alasan keamanan keluarganya mengatakan Loujain mewakili feminis modern Saudi.

"Loujain adalah perempuan muda dari Al-Qassim yang memahami nilai global...dan mengangkat [kebohongan] negara," katanya kepada kantor berita AFP.

Aktivis lain menggambarkannya sebagai pegiat hak perempuan yang "sangat tegas."

Ia pernah juga dipenjara pada 2014.

Pemerintah Saudi menempatkannya pada pusat penahanan remaja karena ia pernah mencoba mengendarai mobil ke negaranya dari Uni Emirat Arab.

Ia dibebaskan 73 hari kemudian menyusul kritikan dunia internasional.

Sima Godfrey, profesor di UBC menggambarkan Loujain sebagai "orang yang sangat tangguh." Ia kuliah di sana pada 2009 dan 2014 dan lulus dengan gelar dalam bahasa Prancis.

"Ia tahu apa yang ia hadapi dan ia tidak takut. Ia selalu menghadapi tantangan. Ia tak pernah surut semangatnya," kata Godfrey kepada televisi CBC pada 2018.

Godfrey mengatakan Loujain berasal dari keluarga progresif yang mendorongnya untuk aktif dalam bidang politik, sesuatu yang dihindari sebagian besar orang di Saudi.

"Ia sering bicara tentang ibunya, yang ingin anak-anak perempuannya menyuarakan pendapat mereka agar didengar," kata Godfrey.

Loujain menikah dengan komedian Saudi Fahad al-Butairi, seorang YouTuber terkenal.

Semakin merusak reputasi MBS

Protes menentang penangkapan aktivis perempuan Saudi.

Protes menentang penangkapan aktivis perempuan Saudi. (Getty Images)

Butairi ditahan di Yordania pada 2018 dan dideportasi ke Saudi, menurut berbagai organisasi dan temannya kepada kantor berita AFP.

Mereka mengatakan Butairi dipaksa oleh pemerintah Saudi agar menceraikan Loujain setelah ia ditahan.

Butairi yang telah dibebaskan dari penjara belum berhasil dikontak.

Sejumlah negara Barat termasuk Uni Eropa, Amerika Serikat serta Bahrain, menekan Arab Saudi untuk membebaskan para aktivis yang dipenjara.

Sejumlah di antara mereka dibebaskan dan masih menunggu diadili.

Pada 2019, Arab Saudi ditawari untuk membebaskan Loujain dengan imbalan mendapat kesaksian video bahwa ia menyanggah disiksa dan dilecehkan di penjara, menurut keluarganya.

Ia menolak tawaran itu, menurut keluarga Loujain.

Loujain sempat mulai melakukan mogok makan di penjara pada Oktober lalu dan menuntut kontak rutin dengan keluarganya namun mengakhiri aksinya dua minggu kemudian, kata kakak-kakaknya.

"Ia dibangunkan oleh penjaga setiap dua jam, baik siang ataupun malam, taktik brutal untuk mengganggunya," kata Amnesty Internasional bulan lalu dengan mengutip keluarga Loujain.

"Namun ia tetap teguh (pada prinsipnya)," kata organisasi itu.

Kasus ini akan semakin memperparah reputasi pemimpin kontroversial Arab Saudi, putra mahkota Mohammed Bin Salman, atau MBS.

Ia menerapkan program reformasi, termasuk mencabut larangan perempuan mengemudi, dalam upaya untuk membuka kerajaan konservatif itu untuk investasi.

Namun ia juga banyak dikecam karena langkah-langkah meredam aktivis, termasuk peranan pemerintah Saudi dalam pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

(nvc/nvc)