Lockdown Corona di Filipina Berujung Kelahiran 200 Ribu Bayi Tak Direncanakan

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 18:37 WIB
Manila -

Rovelie Zabala and her children

Rovelie Zabala dan beberapa anaknya (BBC)

Rovelie Zabala sedang hamil tua dengan anak kesepuluh.

Saat kami berbicara, perempuan berusia 41 tahun itu bersandar dengan posisi yang ganjil, ia terlihat sedang memanfaatkan semua kekuatan punggungnya untuk menggendong anak kesembilannya.

"Carl, Jewel, Joyce" Rovelie menyebut nama anak-anaknya. Saat itu Charlie yang berusia enam tahun menatap ibunya dengan ekspresi tidak setuju. "Maaf, namanya Charlie," kata Rovelie dengan polos.

Rovelie memiliki tujuh anak sebelum dia mengetahui tentang keluarga berencana, tetapi kehamilan terbaru ini tidak terencanakan dan terjadi di tengah salah satu karantina wilayah terketat di dunia.

Tentara berpatroli di jalan-jalan dengan senjata, pos pemeriksaan polisi membatasi pergerakan warga, dan hanya satu anggota keluarga yang diizinkan keluar untuk berbelanja persediaan makanan.

Lockdown itu juga berarti ratusan ribu perempuan tidak dapat mengakses alat kontrasepsi, yang mengakibatkan kisah kehamilan yang tidak direncanakan seperti yang dialami Rovelie terjadi juga di seluruh negeri.

Diperkirakan ada 214.000 bayi yang tidak direncanakan akan lahir pada tahun depan, menurut proyeksi dari University of the Philippines Population Institute dan United Nations Population Fund.

Anak-anak ini akan lahir di rumah sakit yang sudah kewalahan dengan 1,7 juta kelahiran setahun, sebagian besar lahir di keluarga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dan ini baru permulaan. Pandemi bukanlah satu-satunya alasan mengapa Filipina menghadapi krisis populasi.

Angka kelahiran tinggi

Ibu kota Filipina, Manila, adalah kota yang penuh sesak, dengan 13 juta orang tinggal di antara Teluk Manila dan pegunungan Sierra Madre.

Rata-rata, lebih dari 70.000 orang berdesakan dalam satu kilometer persegi, menurut data tahun 2015.

Kepadatan bisa dirasakan di mana-mana mulai dari kemacetan kota hingga penjara, tempat orang tidur seperti sarden di sel yang kelebihan kapasitas hingga 300%.

Kaum miskinlah yang tinggal di daerah yang paling padat. Beberapa terpaksa makan daging yang didaur ulang dari tempat pembuangan sampah.

Prison inmates at Quezon City jail

Tahanan di penjara Quezon City yang penuh sesak (AFP)

Para ahli berpendapat bahwa kemiskinan di negara itu salah satunya terjadi karena tingkat kelahiran yang tinggi.

Pemerintah Filipina juga mengetahui hal ini. Sejak 1960-an, pemerintah telah berhasil menurunkan tingkat kelahiran. Jadi, meski populasinya mungkin naik hampir tiga kali lipat dari 35 juta menjadi 110 juta saat ini, angkanya telah turun dari 6,4 pada 1969 menjadi 2,75 pada 2020.

Namun mereka kurang berhasil dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, yakni Thailand.

Negara Buddha itu menurunkan tingkat kesuburannya dari 5,8 anak per ibu pada akhir 1960-an menjadi 1,5 pada 2020, menurut data PBB.

Tingkat kemiskinannya sekarang mencapai 10%, dibandingkan dengan Filipina yang 17%.

Tapi mengapa berbeda?

Salah satunya, Gereja Katolik Filipina yang sangat berpengaruh, yang disebut menentang kontrasepsi, mendorong reproduksi dengan memakai ayat di kitab suci yang berbunyi: "Beranakcuculah dan bertambah banyak."

Women in the crowded maternity unit

Ibu hamil di Dr Jose Fabella Memorial Medical Hospital (BBC)

"Tentu saja kami akan menentangnya [kontrasepsi]," kata Pastor Jerome Secillano, dari Konferensi Wali Gereja Filipina, kepada saya melalui panggilan video.

"Ini bagian dari amanat untuk tidak membiarkan apa yang disebut pil reproduksi ini ... yang disebut 'bujukan moral' itu hanya ada untuk mengingatkan orang-orang tentang dampak moral, dampak negatif yang akan ditimbulkan pil itu pada kita. Tapi kemudian jika orang-orang tidak mematuhi panggilan kami, biarlah."

Terlepas dari penolakan Gereja, Filipina telah melakukan sejumlah upaya.

Ernesto Pernia, mantan menteri sosial-ekonomi Presiden Rodrigo Duterte, mengatakan peningkatan pengurangan kemiskinan baru-baru ini dapat secara langsung dikaitkan dengan penerapan Undang-Undang Kesehatan Reproduksi 2012 (RHL) yang lebih kuat, yang membuat pendidikan seks dan kontrasepsi lebih leluasa tersedia bagi masyarakat miskin.

COVID, bagaimanapun, dapat menihilkan apa yang diperoleh dengan susah payah itu.

"Kami akan kehilangan seluruh hasil dari upaya kami mengerjakan program tersebut dalam waktu empat tahun," kata Juan Antonio Perez, direktur eksekutif Komisi Kependudukan dan Pembangunan (POPCOM).

"Kami akan melihat lebih banyak kehamilan yang tidak direncanakan, sekarang ini tiga dari setiap 10 kehamilan tidak direncanakan. Dalam skenario kasus terburuk, tahun depan setengah dari kehamilan yang terjadi tidak terencana."

"Pabrik bayi"

Staf di Rumah Sakit Medis Dr Jose Fabella Memorial sudah biasa sibuk.

Pada tahun 2012 rumah sakit itu membantu kelahiran hingga 120 bayi setiap hari, sehingga tempat itu dikenal sebagai "Pabrik Bayi".

Banyak hal telah membaik, dengan jumlah kelahiran yang turun menjadi kira-kira setengah sejak RHL disetujui pada tahun 2012. Namun sekarang mereka sedang mempersiapkan diri untuk "ledakan jumlah bayi".

Saat kami memasuki 'Bangsal Pertama', kami mendengar tangisan bayi-bayi itu.

Ruangan dengan ukuran setengah lapangan sepak bola itu diisi deretan tempat tidur bayi.

Kipas angin berputar, nyaris tidak memberi hawa sejuk pada kondisi yang panas dan lembab di tempat itu.

Para ibu, yang mengenakan gaun melahirkan, masker, dan pelindung wajah, duduk menggendong bayi mereka yang baru lahir.

"Saat ini, sekitar tiga atau empat pasien dilayani di dua tempat tidur yang disatukan," kata Dr Diana Cajipe kepada kami.

"Sayangnya kami tidak punya tempat, masih banyak pasien yang akan datang. Jumlah pasien saat ini sudah jauh di atas kapasitas maksimum rumah sakit. Mungkin nanti, enam hingga tujuh pasien akan ditempatkan di dua tempat tidur yang disatukan."

Virus ini tidak hanya menyebabkan masalah kelahiran: bulan lalu rumah sakit harus ditutup sementara setelah tujuh dokter dan seorang perawat dinyatakan positif. Dengan kepadatan seperti itu, tidak sulit untuk melihat seberapa cepat virus akan menyebar.

Manajemen rumah sakit berharap gedung baru akan memuat lebih banyak tempat tidur, namun sampai saat ini pembangunan masih belum selesai.

'Sesat'

Pernia tak ragu bahwa biaya jangka panjang dari baby boom adalah "kemiskinan antargenerasi".

COVID-19 juga telah memberikan tekanan besar pada anggaran nasional yang sudah membengkak, yang akan menyebabkan masalah lebih lanjut.

"Kita membutuhkan setidaknya 2 miliar Peso (Rp 593 miliar) setahun untuk benar-benar menerapkan program kependudukan," kata Pernia. "Tetapi anggaran yang diberikan kepada komisi populasi hanya sekitar setengah miliar peso, sekitar seperempat dari yang dibutuhkan."

A church-led rally against a reproductive health bill at the Quirino Grandstand in Manila on March 25, 2011.

Gereja Katolik Filipina menentang kontrasepsi (AFP)

Presiden Duterte adalah pendukung kuat keluarga berencana, kata Pernia, tetapi "lebih fokus pada narkoba dan korupsi". Ia menyinggung tindakan keras dan kejam terhadap pengguna dan pengedar narkoba.

RHL juga harus menghadapi tuntutan hukum dari badan amal yang bersekutu dengan Gereja Katolik, yang mengakibatkan morning after pill (pil kontrasepsi darurat) dianggap ilegal dan anak di bawah umur tidak diizinkan mengakses program keluarga berencana tanpa izin orang tua.

Perlu diketahui, Filipina mencatat angka kehamilan remaja tertinggi kedua di Asia Tenggara. Pandemi, kata POPCOM, bisa membuat angka itu meningkat 20%.

Gereja Katolik membantah klaim yang dilontarkan terhadapnya dan mendesak pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk mengatasi ketimpangan orang kaya-miskin di negara itu.

"Para orang sesat ini memang merasa selalu benar untuk menyalahkan gereja atas kegagalan dari apa yang disebut sebagai sistem kesehatan reproduksi ini," kata Pastor Jerome Secillano.

"Dengan situasi yang kita hadapi sekarang, apa guna kondom bagi orang-orang yang terperosok dalam kemiskinan? Apa guna pil-pil ini kepada orang-orang yang lapar? Ini soal memprioritaskan apa yang sebenarnya dibutuhkan orang-orang saat ini."

'Kekhawatiran nomor satu'

Rovelie tidak tahu apa-apa, kecuali tentang kemiskinan yang dibicarakan orang-orang ini. Dia tinggal di Baseco, Tondo, salah satu daerah terpadat di dunia.

Tapi dia juga mengenal Gereja Katolik dan ajarannya tentang kontrasepsi dan aborsi.

"Ketika saya baru hamil sebulan, saya memberi tahu pasangan saya bahwa saya ingin menggugurkannya karena hidup ini sulit," katanya saat kami duduk di sekitar sungai yang bau, salah satu dari sedikit tempat yang bisa memberi Anda ketenangan di area yang ramai itu.

"Tetapi dia berkata bahwa kami bisa melewatinya. Saya melanjutkan kehamilan ini daripada melakukan dosa."

"Sekarang sudah hampir tiga bulan sejak kami berpisah."

Sambil menyeka air mata, Rovelie mengatakan bahwa dia khawatir dengan prospek masa depan anak-anaknya.

Saat kami berbicara, orang-orang berpencar saat mobil patroli polisi menyusuri jalan berlumpur, mencari pengedar narkoba.

Menjual obat-obatan, kata Rovelie, adalah satu-satunya cara untuk "melarikan diri". Sekarang pandemi COVID-19 telah mendorong ekonomi Filipina ke dalam resesi, peluang yang ada lebih suram dari sebelumnya.

"Itu kekhawatiran nomor satu saya, apakah saya masih bisa mendukung pendidikan anak-anak saya?" kata Rovelie.

"Kadang-kadang ketika saya marah dan kehilangan kesabaran, saya mengatakan pada mereka bagaimana jika saya membiarkan mereka diadopsi orang kaya sehingga mereka bisa mendapatkan sekolah yang layak. Tapi kemudian saya berkata pada diri sendiri bahwa saya mungkin bisa mengatasi ini semua."

(nvc/nvc)