Kontestan Ratu Kecantikan Dihujat di Medsos Usai Ungkap Asal-usulnya

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 19:00 WIB
Miss Provence April Benayoum mengungkap asal-usul Israelnya dalam final Miss France 2021 yang digelar Sabtu (18/12). (Getty Images)
Jakarta -

Juara kedua kontes kecantikan Prancis, Miss France 2021 menjadi sasaran hujatan anti-Semitisme di media sosial, yang memicu kemarahan publik dan penyelidikan oleh kepolisian.

April Benayoum, 21 tahun, dianugerahi tempat kedua dalam kontes kecantikan Prancis, dalam sebuah acara yang disiarkan televisi pada hari Sabtu (18/12).

Dia mengungkapkan asal-usul Israelnya dalam sebuah wawancara di acara tersebut, yang kemudian menuai serangan anti-Semitisme di Twitter.

Kicauan itu dikutuk secara luas oleh politisi Prancis dan kelompok Yahudi.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Var-Matin, Benayoum mengatakan ia mendengar tentang hujatan anti-Yahudi dari kerabatnya.

"Menyedihkan untuk menjadi saksi dari perilaku seperti ini di 2020," tutur Benayoum, yang mewakili wilayah tenggara Prancis, Provence dalam kontes kecantikan tersebut.

"Saya jelas mengutuk komentar-komentar ini, tapi [komentar-komentar] itu tidak mempengaruhi saya sama sekali."

Menteri dalam negeri Prancis Gerald Darmanin mengatakan bahwa ia "sangat terkejut dengan hujan hujatan anti-Semitisme" terhadap Benayoum.

Newly elected Miss France 2021 Miss Normandie Amandine Petit (R) reacts in front of Miss Provence April Benayoum

Miss Normandie, Amandine Petit (kanan) mendapat gelar sebagai Miss France 2021 dengan Miss Provence, April Benayoum (kiri) dianugerahi tempat kedua. (Getty Images)

"Kita tidak boleh membiarkan begitu saja," ujarnya dalam unggahan di tulisnya via Twitter, menambahkan bahwa polisi sedang memeriksa cuitan yang melecehkan itu.

Penyelenggara kontes kecantikan itu mengecam "ujaran kebencian" terhadap Benayoum, dengan mengatakan itu "sangat bertentangan dengan nilai-nilai channel, produksi dan pertunjukan".

Miss France 2021 menjadi perayaan satu abad kontes kecantikan tersebut, yang pertama kali digelar oleh jurnalis Maurice de Waleffe pada 1920.

Amandine Petit, yang merupakan Miss Normandy, dinobatkan sebagai pemenang tahun ini, mengalahkan 29 kontestan untuk memenangkan hadiah uang tunai, penggunaan apartemen di Paris dan gaji bulanan selama satu tahun.

Ia mengatakan kepada BFM TV Prancis bahwa "komentar yang tidak pantas" "sangat mengecewakan" untuk dilihat.

Para politikus juga mengungkapkan solidaritas. Menteri Kewarganegaraan Marlne Schiappa mencuit bahwa kompetisi kecantikan itu "bukan kontes anti-Semitisme".

Renaud Muselier, mantan anggota Parlemen Eropa dari wilayah Provence, menyebut serangan itu sebagai "kekejian".

Dia menekankan bahwa Benayoum adalah "orang Prancis, dari keturunan Italia dan Israel, dari Provence, dari selatan", yang berarti dia "dengan sempurna mewakili wilayah dan negara kita".

Miss Provence April Benayoum competes on stage during the Miss France 2021

Benayoum mengatakan "sedih menyaksikan perilaku seperti itu pada tahun 2020" (Getty Images)

Ada reaksi keras dari kelompok Yahudi juga.

Liga Internasional Melawan Rasisme dan Anti-Semitisme (Licra) mengatakan kompetisi Miss France telah "mengubah Twitter menjadi tangki septik anti-Semitisme melawan Miss Provence".

Prancis, yang memiliki populasi Yahudi terbesar di Eropa, yaitu sekitar setengah juta, telah mengalami sejumlah serangan anti-Semitisme dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk menanggapi kekerasan dan pelecehan terhadap orang Yahudi di negara itu.

Sebuah survei terhadap negara-negara Uni Eropa pada tahun 2018 menemukan bahwa 95% orang Yahudi Prancis melihat anti-Semitisme sebagai masalah yang cukup atau sangat besar.

Pada tahun yang sama, mantan Perdana Menteri Prancis douard Philippe mengatakan telah terjadi peningkatan 69% dalam insiden anti-Semitisme.

(ita/ita)