'Pembunuh Twitter' dari Jepang Divonis Hukuman Mati

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 16 Des 2020 16:18 WIB
Jakarta -

Seorang pria Jepang yang membunuh sembilan orang setelah menghubungi mereka melalui Twitter dijatuhi hukuman mati. Kasus pembunuhan ini sempat mengejutkan negara tersebut.

Takahiro Shiraishi, yang dijuluki "pembunuh Twitter", ditahan pada 2017 setelah bagian-bagian tubuh manusia ditemukan di flatnya.

Pria berusia 30 tahun itu telah mengaku membunuh dan memutilasi para korbannya. Delapan korbannya adalah perempuan, salah satunya berusia 15 tahun.

Kasus pembunuhan berantai tersebut memicu perdebatan mengenai pembahasan bunuh diri di internet.

Lebih dari 400 orang hadir untuk menyaksikan putusan kasusnya pada hari Selasa (15/12), meskipun pengadilan hanya memiliki 16 kursi yang tersedia untuk publik, menurut laporan media setempat.

Dukungan publik untuk hukuman mati tetap tinggi di Jepang. Negara itu adalah salah satu dari beberapa negara maju yang mempertahankan hukuman mati.

Bagaimana dia menemukan korbannya?

Shiraishi menggunakan Twitter untuk bertemu dengan perempuan-perempuan yang ingin bunuh diri dan mengundang mereka ke rumahnya. Dia mengatakan kepada para korbannya bahwa dia bisa membantu mereka bunuh diri dan bahkan dalam beberapa kasus, dia juga mengklaim akan bunuh diri bersama mereka.

Dia mencekik dan memutilasi delapan perempuan dan satu pria berusia 15 hingga 26 tahun antara Agustus dan Oktober pada 2017, kata kantor berita Jepang Kyodo, mengutip dakwaan.

Members of the media gather in front of an apartment building where media reported nine bodies were found in Zama, Kanagawa Prefecture, Japan in this photo taken by Kyodo on October 31, 2017

Wartawan berkumpul di luar rumah tersangka pada hari Selasa (15/12). (Reuters)

Kasus pembunuhan berantai itu pertama kali terungkap saat perayaan Halloween tahun itu, ketika polisi menemukan bagian-bagian tubuh di flat milik Shiraishi yang terletak di kota Zama, Jepang, tidak jauh dari Tokyo.

Media Jepang menyebutnya sebagai "rumah horor" setelah penyelidik menemukan sembilan kepala dan sejumlah besar tulang bagian lengan dan kaki yang disimpan dalam kotak-kotak pendingin dan peralatan.

Shiraishi dilaporkan mengatakan dia memotong bagian daging-daging dari tubuh korbannya sebelum membuangnya, dan meletakkan kotoran kucing di bagian-bagian tubuh yang tersisa untuk menyembunyikannya.

Apa yang terjadi di pengadilan?

Jaksa menuntut hukuman mati untuk Shiraishi, yang mengaku salah atas tindakan membunuh dan memutilasi para korbannya.

Tapi pengacara Shiraishi berkata bahwa tuntutan hukuman bagi kliennya seharusnya dikurangi, mengklaim bahwa korban-korbannya memiliki keinginan untuk bunuh diri dan telah memberikan persetujuan untuk dibunuh.

Sembilan korban Shiraishi itu termasuk tiga siswa sekolah menengah, dengan korban yang paling muda berusia 15 tahun, serta empat wanita berusia dua puluhan dan seorang pria berusia 20 tahun.

Satu-satunya laki-laki yang terbunuh itu terjadi setelah ia menghadapi Shiraishi dan mempertanyakan keberadaan pacarnya, menurut laporan media Jepang.

Belakangan Shiraishi membantah versi kejadian yang dikemukakan tim pembelanya sendiri dan mengatakan bahwa dia membunuh tanpa persetujuan para korban.

Pada Selasa (15/12), hakim yang memutus perkara ini juga berkata bahwa "tidak ada korban yang setuju untuk dibunuh".

"Terdakwa terbukti bertanggung jawab penuh," kata Naokuni Yano, seperti dilaporkan surat kabar The Strait Times..

Apa dampak kasus itu?

Ayah dari satu korban berusia 25 tahun, mengatakan kepada pengadilan bulan lalu bahwa dia "tidak akan pernah memaafkan Shiraishi bahkan jika dia meninggal", menurut penyiar Jepang NHK.

"Bahkan sekarang, ketika saya melihat seorang wanita seusia putri saya, saya mengira dia putri saya. Rasa sakit ini tidak akan pernah hilang. Kembalikan dia kepada saya," katanya.

A blurred image shows the motion of busy commuters in downtown Tokyo, Japan

Jepang memiliki angka bunuh diri yang relatif tinggi. (BBC)

Kasus pembunuhan berantai itu mengejutkan Jepang dan memicu perdebatan mengenai pembahasan soal bunuh diri di situs-situs di internet. Pemerintah sebelumnya mengisyaratkan akan memperkenalkan peraturan-peraturan baru.

Kasus itu juga mendorong perubahan oleh Twitter tentang aturannya yang menyatakan pengguna tidak boleh "mempromosikan atau mendorong bunuh diri atau melukai diri sendiri".

Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.

Anda juga dapat mencari informasi mengenai depresi dan kesehatan jiwa dengan mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Into The Lightmelalui intothelightid.org dan Yayasan Pulih pada laman yayasanpulih.org.

(ita/ita)