Saat Ponsel Ikut Lakukan Riset untuk Melawan Virus Corona

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 17:30 WIB
London -

Seperti kebanyakan dari kita, Hannah Lawson-West memiliki rutinitas malam hari yang teratur.

Namun, rutinitasnya kini melibatkan ribuan komputasi ilmiah yang rumit untuk membantu melawan COVID-19.

Begini cara kerjanya: Hannah pergi tidur sekitar pukul 22:30. Sebelumnya, ia menyalakan selimut listriknya untuk menghangatkan diri lalu mencuci muka dan menyikat giginya.

Begitu di tempat tidur, dia membaca berita-berita dari ponsel dan mengecek Instagram, lalu mengisi daya ponselnya sebelum tidur.

Kemudian, selama delapan jam berikutnya, saat perempuan berusia 31 tahun itu tidur di apartemennya di London, ponselnya diam-diam menjadi hidup dan bekerja untuk membantu para ilmuwan melakukan penelitian terkait COVID-19.

Hannah Lawson-West

Pada Sabtu pagi, Hannah Lawson-West sering memeriksa berapa banyak perhitungan yang telah dia lakukan (BBC)

Hannah telah melakukan ini setiap malam selama lebih dari setahun dan ponselnya sejauh ini telah menyelesaikan hampir 2.500 komputasi.

Perempuan ini hanyalah satu dari hampir 100.000 orang di seluruh dunia yang secara teratur menyumbangkan waktu komputasi ponsel mereka ke aplikasi DreamLab.

Aplikasi ini melakukan simulasi digital terkait molekul makanan untuk menilai kombinasi nutrisi mana yang mungkin menawarkan manfaat medis untuk mengobati mereka yang terinfeksi COVID-19 atau mereka yang menderita gejala 'berkepanjangan'.

Saat ini, belum ada bukti bahwa makanan bisa membantu pemulihan mereka yang terinfeksi COVID-19 atau mencegah seseorang tertular virus Corona.

Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengeksplorasi temuan yang ada.

Studi ini dilakukan oleh Imperial College London dan Vodafone Foundation. Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal peer-review.

'Kekuatan ponsel berharga'

Peneliti yang terlibat dalam proyek ini mengatakan bahwa jaringan komputer ponsel pintar para sukarelawan ini sangat berharga.

Ponsel-ponsel pintar itu sangat kuat sehingga dapat memproses kumpulan data hanya dalam tiga bulan, jauh lebih cepat dari komputer biasa yang bisa memakan waktu 300 tahun.

"Saya pertama kali diberi tahu tentang aplikasi ini ketika ayah saya didiagnosis menderita kanker darah," kata Hannah. "Proyek pertama yang saya ikuti adalah proyek untuk mempercepat penemuan obat kanker."

"Kemudian, ketika pandemi COVID-19 melanda, rasanya tepat untuk beralih ke proyek khusus COVID-19."

"Saya sering melihat aplikasi itu di akhir pekan dan saya masih heran bahwa ternyata mudah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat saat saya tidur. Sejujurnya, saya tidak paham mengapa orang-orang belum melakukannya."

Angelica Azevedo

Angelica Azevedo yang tinggal di Lisbon juga menjadi relawan. (BBC)

Relawan-relawan lainnya seperti Hannah sejauh ini telah melakukan lebih dari 53 juta komputasi melalui ponsel mereka.

Aplikasi ini tersedia di seluruh dunia dan saat ini memiliki pengguna di 17 negara termasuk di Inggris, Australia, Afrika Selatan, Jerman, Ghana, Yunani, Spanyol, dan Portugal.

Sementara itu, di Lisbon, telepon Angelica Azevedo juga diam-diam melakukan berbagai komputasi saat dia tidur.

"Ibu saya meninggal karena leukemia saat pandemi," kata Angelica.

"Saya rasa saya sedikit lebih sensitif terhadap masalah medis karena hal itu dan saya merasa jika saya dapat melakukan sesuatu untuk membantu menemukan obat untuk COVID, saya pasti akan mencoba dan melakukannya."

Perempuan berusia 28 tahun ini mengatakan bahwa ia sering melihat aplikasi itu di pagi hari untuk memulai hari dengan positif:

"Saya memeriksa berapa banyak perhitungan yang dilakukan ponsel saya dalam semalam dan itu membuat saya merasa telah berkontribusi," ujarnya.

Apresiasi peneliti

Profesor Kirill Veselkov dari Fakultas Kedokteran Imperial College London mengatakan dia sangat berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu penelitiannya.

Proyek "Corona-AI" baru 55% selesai, tetapi bahkan dengan komputer super di universitasnya, timnya tidak dapat mencapai titik itu tanpa bantuan para sukarelawan.

"Sebanyak 100.000 ponsel cerdas kecepatanya dua hingga tiga kali melebihi komputer super yang bisa saya akses. Sungguh luar biasa melihat begitu banyak orang mengizinkan ponsel mereka melakukan komputasi setiap malam."

DreamLab app imagery

BBC

"Setiap kali seorang sukarelawan berhasil menyelesaikan 'perhitungan', yang sebenarnya dilakukan ponsel mereka adalah melakukan simulasi kompleks yang mencoba berbagai kombinasi molekul makanan untuk melihat kombinasi mana yang secara teoritis dapat membantu seseorang melawan COVID-19."

"Ada hampir 100 juta kombinasi berbeda untuk dicoba, maka semakin banyak ponsel, semakin baik."

Studi Profesor Veselkov akan diterbitkan dalam jurnal Human Genomics.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengatakan mereka telah menemukan lebih dari 50 molekul spesifik yang secara teoritis dapat memiliki sifat anti-COVID-19.

Dr Simon Clarke, Associate Professor bidang Mikrobiologi Seluler di University of Reading mengatakan: "Ini adalah makalah menarik yang menguraikan cara mengolah kumpulan data yang jumlahnya besar menggunakan ponsel pintar milik orang-orang."

"Juga menyoroti cara baru para peneliti menggali informasi tentang cara kerja COVID-19."

"Meskipun identifikasi nutrisi dalam makanan mungkin memiliki peran dalam menanggulangi gejala COVID-19 yang parah di masa depan, saat ini pandemi dapat dihadapi dengan menjaga jarak sosial, kebersihan, dan vaksinasi yang kini tengah dikembangkan."

Asal mula 'Crowd computing'

Komputasi yang melibatkan gawai para relawan atau 'crowd computing' dimulai pada akhir 1990-an.

Proyek besar pertama yang melibatkan lebih dari 100.000 sukarelawan adalah 'SETI @ home', sebuah eksperimen ilmiah yang berbasis di University College, Berkeley.

SETI menggunakan komputer-komputer yang terhubung ke internet untuk mencari kehidupan ekstra-terestrial, dengan meminta relawan menjalankan program gratis yang mengunduh dan menganalisis data teleskop radio.

Dr David P. Anderson yang ikut mendirikan proyek tersebut membangun platform perangkat lunak yang disebut BOINC untuk digunakan orang lain untuk penelitian mereka sendiri.

"Mayoritas daya komputasi dunia tidak ada di cloud atau pusat-pusat komputer super, melainkan di rumah-rumah orang," katanya.

"Ada di desktop komputer, ponsel, mobil, dan gawai-gawai mereka. Ada miliaran perangkat ini. Komputasi secara sukarela membuat perangkat-perangkat itu terlibat dalam penelitian ilmiah."

Penelitian COVID-19 yang melibatkan 'crowd computing' lainnya dilakukan melalui gim online populer Eve Online.

Pembuat gim tersebut mengatakan lebih dari 171.000 pemain telah menyelesaikan 47 juta tugas mini untuk membantu mereka mengkategorikan sel virus Corona.

Dengan menandai populasi sel yang berbeda, para peneliti mengatakan mereka kemudian dapat menganalisis bagaimana virus mempengaruhi sistem kekebalan.

(nvc/nvc)