Pria Asal Indonesia yang Jadi 'Ratu Penipu Hollywood' Akan Diekstradisi ke AS

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 08:23 WIB
Getty Images
London -

Seorang pria asal Indonesia yang dijuluki "Ratu penipu Hollywood" karena meniru suara para eksekutif perempuan industri film untuk mengelabui orang, mulai disidangkan di London Jumat (04/12) setelah ditangkap pekan lalu di Manchester.

Dalam sidang di Pengadilan Westminster, London, Hakim David Robinson mengatakan mereka memiliki bukti cukup bahwa Hargobind Tahilramani, 41, tidak akan menyerahkan diri bila dibebaskan dengan jaminan dan karena itu ia perlu ditahan selama 28 hari lagi.

"Hargobind Tahilramani masuk ke pengadilan dengan baju olahraga berwarna abu-abu, dan tampak gugup, ia tampak tak terlihat seperti penipu internasional," lapor Damian Grammaticas yang menghadiri persidangan.

Ia hanya berada di ruang sidang sekitar 10 menit, tambahnya.

Penyelidik Amerika Serikat melacaknya di Manchester setelah banyak aktor, aktor pengganti, aktris rias dan pihak lain Hollywood ditipu melalui telpon dalam lima tahun terakhir.

Hargobind tetap dalam tahanan sampai proses ekstradisi penuh dilakukan, diperkirakan pada Januari.

Amerika Serikat telah mengajukan permintaan ekstradisi dengan dasar penipuan identitas, penipuan uang melalui transfer dan konspirasi untuk melakukan penipuan. Permintaan ekstradisi penuh diperkirakan akan dilakukan pada Januari.

Hollywood Reporter melaporkan Hargobind ditahan polisi di Manchester pekan lalu dengan bantuan detektif swasta dari perusahaan K2 Integrity.

Sebelumnya, seorang juru bicara Biro Penyelidik Federal, FBI, mengatakan Hargobind ditahan di Inggris berdasarkan permintaan ekstradisi AS.

"Tersangka ditahan di Inggris berdasarkan permintaan penahanan sementara yang diajukan oleh Amerika Serikat sebagai landasan untuk ekstradisi," menurut juru bicara FBI, di San Diego, California kepada kantor berita AFP, Kamis (03/12).

Hargobind disebutkan "mengubah suaranya seperti perempuan" dalam melakukan penipuan itu, menurut dokumen dakwaan.

"Berharap dihukum penjara lama"

Sebelumnya, pejabat KBRI di London mengatakan kepada BBC News Indonesia, "Kami sudah cek di data lapor diri kami bahwa yang bersangkutan atas nama Hargobind Punjabi Tahilramani a.k.a Gobind, tidak terdaftar dalam database WNI KBRI London."

Bos Lucasfilm Kathleen Kennedy termasuk yang ditiru suaranya.

Bos Lucasfilm Kathleen Kennedy termasuk yang ditiru suaranya. (EPA)

Salah seorang korban, seorang fotografer, mengatakan kepada BBC, ia berharap melalui penangkapannya, ia masih dapat mendapatkan kembali uang hasil penipuan Hargobind.

"Dia harus bertanggung jawab atas aksi serakahnya terhadap orang-orang yang bekerja keras dan berniat baik, yang diambil hasil tabungannya. Saya tidak hanya berharap ia dihukum dipenjara lama, namun saya juga berharap kami korban-korbannya dapat mengambil langkah legal mendapatkan kembali uang kami dan juga membayar waktu serta gangguan emosional kami," kata fotografer ini.

Investigasi yang dituangkan dalam laporan podcast masalah kriminal Chameleon menyebutkan "ratu penipu" itu kuat diduga sebagai Hargobind Punjabi Tahilramani, yang disebutkan sebagai seorang pria Indonesia yang tinggal di Inggris.

"Kami sempat terpikir, kelompok kriminal yang berada di balik penipuan aneh ini, namun kami mengidentifikasinya sebagai pria Indonesia yang sendirian dan tinggal di Inggris sebagai kemungkinan tersangka."

"Hargobind Punjabi Tahilramani, sering dipanggil sebagai "Gobind," lahir di Jakarta dari keluarga berada pada hari Halloween, 31 Oktober 1979," tulis wartawan di balik podcast itu, Vanessa Grigoriadis dan Josh Dean yang menulis investigasi ini di Vanity Fair.

Apa yang diduga dilakukan oleh Tahilmarani - yang meniru banyak suara perempuan eksekutif Hollywood - adalah menipu para aktor tampan dan pihak lainnya, sebagian diminta melakukan percakapan seks lewat telepon.

Ia diduga menipu lebih dari US$ 1 juta dari para korbannya.

Salah satu suara yang pernah ia tiru adalah suara bernada tinggi mantan istri, raja media, Rupert Murdoch, Wendi Deng, sebagai upaya untuk menipu.

Eksekutif perempuan lain yang ditiru suaranya juga diduga termasuk bos Lucasfilm Kathleen Kennedy, mantan pemimpin Sony film, Amy Pascal, serta mantan bos Paramount, Sherry Lansing.

Penipuan yang tengah diselidiki FBI sejak tahun lalu itu, diduga dilakukan selama paling tidak lima tahun, dengan menjaring ratusan orang, untuk ditipu masing-masing ribuan dolar, menurut laporan podcast Chameleon.

[Gambas:Instagram]

"Di Inggris, dia dikenal sebagai orang yang berpengaruh dalam makanan melalui Instagram di bawah nama Pure Bytes and ISpintheTales. Dalam video sosial media, Tahilramani, yang belum menanggapi banyak permintaan kami untuk berkomentar, bermuka bulat dengan senyum ramah," tambah mereka.

"Kenapa baru ditangkap sekarang?"

Haseena Narains Bharata, seorang pengusaha di Jakarta yang sempat kontak dengan Hargobind pada tanggal 21 November lalu, mengatakan ia "tak terkejut" mendengar penangkapannya.

"Kalau memang apa yang dia lakukan seperti diberitakan, kenapa lama banget ya nangkapnya. Lama banget prosesnya... Kenapa dia melakukan ini, hanya dia yang bisa jawab," kata Haseena kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Haseena mengatakan ia mengenal Gobind, panggilan pria ini, karena keluarganya bertetangga di Jakarta dan ayahnya keduanya berteman baik. Namun mereka berpisah ketika umur sekitar 10 tahun.

Gobind, kembali mengontaknya sekitar tiga tahun lalu melalui media sosial.

"Dia kontak melalui Instagram...Dan cerita, dia sukses di London dan punya akses ke restoran top, dan dia sudah sukses. Kita senang banget dengarnya, dia sudah menjadi orang sukses," cerita Haseena.

Namun melalui Gobind secara langsung juga, Haseena mendengar pria ini pernah masuk penjara di Jakarta karena pernah membuat hoaks tentang bom di Kedutaan AS Jakarta.

Dalam konteks penipuan yang dia lakukan, Haseena menyatakan pernah diminta tolong untuk menjemput tamu di bandara Jakarta.

"Dia minta tolong cari supir, karena supir yang dia biasa pakai, kerja. Saya terima kasih sama Tuhan karena saya bilang tidak," tambahnya.

Haseena mengatakan tidak mengetahui tentang dugaan penipuan itu sampai dikontak oleh wartawan yang menyusun laporan podcast.

Terkait pembicaraan melalui zoom pada 21 November lalu, Haseena mengatakan ada dua penulis yang mengajaknya ikut berbincang dengan Gobind.

"Kedua orang ini bertanya banyak hal, bagaimana dia mulai melakukan kejahatan, siapa yang mengajar dan katanya akan ditulis untuk buku dan akan dibuat film. Saya diajak untuk ikut mendengar. Besoknya ada lagi pertemuan, tapi saya bilang saya tak mau ikut lagi, karena saya tak ada kaitannya," kata Haseena.

Ia mengatakan setelah pertemuan itu, melalui WhatsApp ia sempat mengatakan kepada Gobind, "Kalau kamu melakukan kesalahan, saatnya tobat untuk menghadapi konsekuensi, kalau ada orang di balik kamu, kamu harus ungkap," tutupnya dan menyebut itulah kontak dia terakhir sebelum hilang kontak.

Dalam percakapan WhatsApp yang ditunjukkan kepada BBC News Indonesia, Gobind meminta Haseena, "Bila ini menjadi topik (pembicaraan) tolong ungkap ini untuk pembaca Indonesia. Hanya kamu yang punya akses."

"Sudah dulu, saya tak bisa tidur," tulis Gobind kepada Haseena.

Melalui WhatsApp dengan nomor telepon Inggris, Gobind terakhir terlihat pada 26 November pukul 06:37 (13:37 WIB).

Dalam percakapan September lalu dengan Haseena Narains Bharata melalui Instagram, "Dia menggambarkan diri sebagai pria lajang yang tinggal di London (walaupun sekarang tampaknya tinggal di Manchester), senang berolahraga dan mandi air dingin."

Dalam percakapan dalam bahasa Inggris itu, ia menyelipkan bahasa Indonesia, dia tidak suka mandi air hangat karena akan merasa, "Aduh, tenang, ingin tidur."

Dalam percakapan itu, ia juga mengatakan pengalaman masa kecilnya yang tak mengenakkan karena sering dipanggil "banci".

Ia juga mengatakan ia bertolak ke London dan mendapatkan hak tinggal di Inggris melalui pengacara di Hong Kong, karena ibunya lahir di wilayah China itu.

Punya dua komplotan di Jakarta

Sejauh ini belum banyak diketahui terkait latar belakang Tahilramani di Indonesia, namun menurut investigasi wartawan, Hargobind disebutkan punya komplotan di Jakarta.

Nicoletta Kotsianas, direktur K2 Intelligence yang disewa oleh eksekutif Hollywood yang ditiru suaranya untuk penyelidikan penipuan ini, mengatakan penipu kemungkinan menghasilkan antara US$ 1,5 juta sampai US$ 2 juta secara total.

"Para korban mengatakan mereka menyerahkan ratusan dolar per hari kepada supir sebagai 'biaya transportasi' dan sering juga ratusan dolar untuk 'izin foto' atau biaya lain yang disebut penting," tulis Vanessa Grigoriadis dan Josh Dean.

"Ratu itu, menurut polisi Indonesia, memiliki paling tidak dua komplotan di Jakarta, yang menagih biaya. Menilik informasi yang kami dapatkan dari korban ... Ratu Penipu biasanya mendapatkan beberapa ribu dolar per korban - selain mereka yang ditipu beberapa kali, dan bolak balik ke Indonesia dan masih berharap untuk mendapatkan karier besar," tambah mereka.

Titik terang dalam penyelidikan untuk mengungkap Ratu Penipu ini mulai terbuka ketika ditemukan paspor palsu melalui salah seorang korban, penulis skenario film, Greg Mandarano, dari Long Island.

Mandarano telah bertemu dengan si ratu enam kali dan dia kenal sebagai Anand Sippy (nama palsu lain). Mandarano juga memiliki foto-foto orang ini, serta salinan paspor (Indonesia) dengan nama berbeda Gobind Lal Tahil.

Logo FBI

Getty Images

Nama Gobind juga ternyata palsu. Namun dari foto-foto yang dikirim ke Ben Decker, penyelidik informasi salah pada platform digital, ditemukan bahwa Gobind Lal ternyata terkait dengan pria Indonesia lain bernama Rudy Sutopo.

Kedua nama ini ditemukan melalui pengumuman satu perusahaan Indonesia yang meminta hak serial asing serial berjudul The Black Widow, yang rencananya akan diproduksi oleh dua pria itu.

Decken juga menemukan banyak hal tentang Rudy Sutopo, pengusaha Indonesia yang sempat dipenjara.

Rudy Sutopo tidak dapat dikontak namun mantan istri yang tidak mau disebut namanya menyebutkan bahwa Gobind - nama panggilan Tahilramani - adalah murid Rudy.

Mantan istri Rudy ini juga mengatakan keduanya bertemu di penjara Cipinang, dan Rudy sering melindungi Gobind.

Mantan istri Rudy ini menyebut Gobind saat ini tengah naik daun, tinggal di London dan bekerja untuk HBO, juga sebagai blogger makanan.

"Dia selalu mendengar kabar dia (Gobind). Hampir setiap hari, namun selalu melalui pesan langsung DM (direct message), dari salah satu dari banyak akun media sosialnya," tulis Vanity Fair.

Artis ini menyebut Tahilramani "teman baik namun tidak tahu nama keluarganya".

"Dia juga tidak punya nomor telepon atau email. Mereka sering kontak, namun Gobind yang mengawali. Keanehan ini tak pernah ia curigai, sampai kami memberi tahu dia tentang penipuan," tulis Vanessa Grigoriadis dan Josh Dean.

FBI mencari korban yang diundang ke Indonesia

Sejak Juli tahun lalu, FBI melalui situsnya mengatakan "mencari korban yang mungkin pernah pergi ke Indonesia antara 2013 sampai saat ini untuk mengejar tawaran kerjaan dari individu-individu yang mengklaim sebagai profesional dalam industri hiburan".

"Dalam skema penipuan transnasional yang masih berlangsung dengan sasaran warga AS, para korban dikontak dengan teks, email atau telepon dengan tawaran pekerjaan mewah dalam industri hiburan; para korban sampai saat ini termasuk penulis, artis pengganti, artis rias, jasa keamanan dan fotografer," tulis FBI.

"Para korban diberitahu bahwa pekerjaan mensyaratkan mereka untuk ke Indonesia, biasanya ke Jakarta untuk apa yang disebut mencoba jasa mereka. Begitu tiba di Indonesia, mereka ditemui seorang sopir dan dipaksa memberikan uang dolar Amerika untuk jasa sopir."

"Para korban diminta untuk terus membayar jasa lain dan biaya lain sampai perjalanan selesai atau mereka sadar mereka telah ditipu. Para korban tidak mendapat penggantian biaya perjalanan atau biaya lain saat di Indonesia," tambah FBI lagi.

"Untuk informasi, ini adalah penipuan yang masih berlangsung, dan mereka yang berencana untuk ke Indonesia untuk peluang kerja dalam industri hiburan harus melakukan riset tambahan dan berhati-hati," kata Biro Penyelidik Federal.

FBI - menurut Vanity Fair - tengah bekerja sama dengan kepolisian Inggris, Scotland Yard, untuk mengungkap lebih lanjut tentang penipuan terkait pria yang diduga tinggal di Inggris.

(nvc/nvc)