3 Kisah Ini Bukti Kegagalan India Berikan Keadilan Bagi Korban Perkosaan

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 17:56 WIB
BBC
Jakarta -

Sesekali, India mengalami kasus pemerkosaan yang begitu mengerikan sehingga ceritanya tidak hanya mendominasi berita utama nasional tapi juga mendunia.

Hukum diperketat setelah pemerkosaan beramai-ramai yang sangat brutal di Delhi pada tahun 2012 dan jumlah kasus yang dilaporkan ke polisi terus meningkat.

Banyak yang mengaitkan hal tersebut dengan meningkatnya sorotan pada kekerasan seksual terhadap perempuan. Yang lain lebih menekankan pada reformasi hukum seperti keputusan pemerintah untuk memberlakukan hukuman mati.

Namun beberapa pakar mengatakan ini hanyalah tindakan populis hampa yang mengabaikan masalah mendasar.

Sebagai bagian dari musim BBC 100 Women, Divya Arya melihat tiga cerita yang memberi tahu kita mengapa hukum yang keras di India tidak membantu korban pemerkosaan.

'Saya hanya berharap kita masih hidup untuk menyaksikan keadilan ditegakkan'

Sang ayah berdiri di depan pohon tempat putrinya ditemukan dalam keadaan digantung enam tahun lalu.

Sang ayah masih mencari keadilan atas pemerkosaan dan pembunuhan putrinya, enam tahun setelah anak perempuannya itu meninggal. (BBC)

Sampai hari ini, desa Badayun dikenal sebagai 'desa tempat penemuan gadis-gadis yang digantung'.

Dua saudara sepupu, satu berusia 12 tahun dan lainnya 15 tahun, ditemukan dalam keadaan digantung di dahan pohon mangga. Keluarga mereka mengatakan dua gadis itu telah diperkosa dan dibunuh.

Ini adalah kasus besar pertama setelah pemerkosaan geng di Delhi pada 2012. Lebih dari enam tahun telah berlalu tetapi bagi banyak orang, rasanya kejahatan itu dilakukan kemarin.

Saat mobil kami melaju di sepanjang jalan sempit di distrik Badayun di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, kami menghentikan orang yang lewat untuk menanyakan arah.

Deskripsi desa itu segera dikenali dan kami diberi tahu ke mana harus pergi.

Perjuangan keluarga Badayun - sebutan bagi mereka sekarang - untuk mendapatkan keadilan tidaklah mudah.

Koresponden Divya Arya

Saya pertama kali bertemu dengan sang ayah pada 2014 ketika muncul kemarahan publik atas kematian dua gadis itu. (BBC)

Saya pertama kali bertemu mereka pada musim panas 2014, sebagai salah satu reporter pertama dari Delhi yang mencapai desa setelah delapan jam berkendara.

Ayah dari salah seorang gadis yang digantung menemui saya di bawah pohon tempat ia menemukan jasad mereka.

Dia mengaku merasa takut karena polisi setempat mengejeknya dan menolak untuk membantu.

Tapi ada juga keinginan untuk balas dendam. "Orang-orang ini harus digantung di depan umum, seperti yang mereka lakukan pada gadis-gadis kami," katanya.

Undang-undang yang lebih ketat seharusnya memudahkan perempuan untuk melapor ke polisi.

Hukuman mati telah diberlakukan untuk kasus pemerkosaan dan pengadilan khusus telah dibentuk.

Tumpukan dokumen

Enam tahun upaya hukum dan tumpukan dokumen untuk mencari keadilan. (BBC)

Satu ketentuan merekomendasikan bahwa persidangan kasus pemerkosaan yang melibatkan gadis di bawah umur harus diselesaikan dalam waktu satu tahun.

Meskipun demikian, persidangan pemerkosaan yang tertunda terus menumpuk.

Jumlahnya mencapai 95.000 pada akhir 2013, yang meningkat menjadi 145.000 pada akhir 2019, menurut angka terbaru pemerintah.

Di Badayun, kami berjalan ke pohon tempat para gadis yang malang itu digantung, namun sang ayah membuang muka. Kenangan yang ditimbulkannya terlalu menyakitkan, katanya kepada saya. Ia telah menjadi lemah sekarang, tampak lebih tua dari usianya.

Amarah itu belum hilang, namun ada kesadaran yang kuat bahwa mencari keadilan bisa menjadi proses yang panjang dan sepi.

"Undang-undang menyatakan bahwa kasus harus disidangkan dengan cepat, tetapi pengadilan mengabaikan permintaan kami. Saya sudah berputar-putar di pengadilan, tapi orang miskin hampir tak pernah mendapatkan keadilan," katanya.

Penyidikan atas kematian anak gadisnya berjalan cepat. Para penyidik mengatakan mereka tidak mendapat cukup bukti untuk memastikan bahwa telah terjadi pemerkosaan dan pembunuhan, sehingga para tersangka dibebaskan.

Pihak keluarga menentang kesimpulan tersebut dan membuka kembali kasusnya, namun pengadilan hanya menerima dakwaan penganiayaan dan penculikan, yang hukumannya lebih ringan. Sekarang keluarga tersebut berjuang supaya dakwaan pemerkosaan dan pembunuhan kembali dikenakan pada para tersangka.

An image of the mother from the back of her head where she's wearing a blue headscarf

BBC

Sistem peradilan India kekurangan dana dan staf.

Kasus Badayun sedang disidangkan di pengadilan jalur-cepat, tetapi seperti yang dijelaskan oleh pengacara mereka, Gyan Singh, tidak ada fasilitas khusus di sana.

"Pengadilan jalur cepat berusaha mempercepat proses persidangan, namun kadang-kadang laporan forensik dan laporan lainnya datang terlambat, dokter atau petugas investigasi dipindahkan, dan para saksi terlambat didatangkan ke pengadilan," ujarnya.

Kami duduk di charpoy (dipan), memilah-milah kertas dan dokumen-dokumen yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Bagi sang ibu, ini adalah pertarungan yang telah berlangsung terlalu lama, kata-katanya terngiang di telinga saya saat aku pergi.

"Saya hanya berharap kami masih hidup untuk menyaksikan keadilan ditegakkan."

'Orang tua saya membuat pacar saya dipenjara karena memperkosa saya'

'Usha' berusia 17 tahun ketika orang tuanya mengetahui tentang perselingkuhannya dengan seorang pemuda setempat.

Di desa kecilnya di distrik Panchmahals di negara bagian Gujarat, India barat, itu bukan hal yang jarang terjadi.

Tetapi orang tuanya tidak menyetujui hubungan tersebut dan pasangan muda itu memutuskan untuk kawin lari.

Pelarian mereka tidak berlangsung lama, katanya, karena ayahnya segera menemukan mereka dan membawanya pulang.

'Usha' memegang laporan polisi.BBC'Usha' menggugat orang tuanya sendiri dengan tuduhan perdagangan manusia.

"Ia memukuli saya dengan tali dan tongkat, membuat saya kelaparan, dan kemudian menjual saya kepada pria lain seharga 125.000 rupee (Rp23,9 juta)," katanya.

Usha kabur lagi pada malam pernikahannya. Ia menikahi kekasihnya dan hamil tetapi kemudian menghadapi hambatan lain.

Di bawah hukum yang baru, usia persetujuan (age of consent) untuk anak perempuan telah dinaikkan dari 16 menjadi 18 tahun.

Usha dianggap tidak bisa memberikan persetujuan dan oleh karena itu orang tuanya dapat menuduh sang pacar melakukan pemerkosaan, dan membuatnya dijebloskan ke penjara.

Keluarga si laki-laki juga tidak luput dari jerat hukum. Ibunya dituduh berkonspirasi dengan putranya untuk menculik Usha setelah pemerkosaan itu.

"Saya menghabiskan dua minggu di penjara. Keluarganya kemudian menggeledah rumah kami, mendobrak pintu dan mengambil hewan ternak kami. Kami harus bersembunyi untuk menyelamatkan nyawa kami," kata ibu anak lelaki itu.

Itu adalah kasus pemerkosaan 'palsu', diajukan atas nama perempuan sangat muda yang seharusnya dilindungi hukum.

Tidak diketahui berapa banyak kasus 'palsu' seperti itu yang sampai ke pengadilan.

Usha

'Usha' baru bisa kabur dari suami dan keluarganya dengan bantuan lembaga amal setempat. (BBC)

Para pengacara mengatakan mereka memiliki bukti anekdot bahwa kasus-kasus seperti itu menambah tekanan pada sistem yang sudah rusak.

Para ahli berkata ini menyoroti masalah lebih dalam yang dapat diubah oleh hukum manapun.

Sangat sulit bagi perempuan untuk melawan orang tua mereka saat mereka masih di bawah umur dan bergantung secara ekonomi kepada orang tua, jelas Garima Jain.

Ia sedang meneliti psikologi korban pemerkosaan untuk tesisnya di Institut Viktimologi Internasional, bagian dari Universitas Tilburg di Belanda.

"Berdasarkan pengalaman saya mengumpulkan kesaksian, saya mendapati bahwa ketika pacar mereka dipenjara karena kasus pemerkosaan 'palsu', itu tidak hanya menghancurkan hubungan mereka dan sangat melukai si perempuan, tetapi juga membuatnya sangat rentan terhadap kontrol orang tua yang lebih besar."

Usha mendapat bimbingan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Anandi.

Mereka membantunya mengeluarkan keluarga suaminya dari penjara dengan jaminan dan membela dirinya di hadapan orang tuanya.

Begitu usianya beranjak 18 tahun, dia menggugat orang tuanya sendiri dengan tuduhan perdagangan manusia meskipun dia berharap itu tidak terjadi.

"Jika para perempuan muda bisa menikah dengan pria pilihan mereka, dunia akan menjadi tempat yang lebih bahagia," katanya.

Sayangnya, penentangan orang tua tidak mengenal batas ketika seorang gadis lepas dari kendali mereka.

Seema Shah

Pekerja sosial Seema Shah merasa hukum telah disalahgunakan. (BBC)

Keluarga Usha juga mengancam akan menggugat para pekerja sosial di Anandi dengan tuduhan perdagangan manusia.

Penyalahgunaan undang-undang tentang usia persetujuan tersebar luas di distrik pedesaan ini.

Dalam studi Anandi terhadap FIR (laporan polisi awal) yang diajukan pada 2013, 2014, dan 2015, mereka menemukan bahwa 95% kasus seperti itu diajukan oleh orang tua.

"Hukum tidak digunakan dengan benar dalam mencapai keadilan. Ini adalah masalah besar, di mana perempuan muda dipandang sebagai objek dan tidak diizinkan untuk berbicara dengan bebas," kata Seema Shah, seorang pekerja sosial di Anandi.

'Saya memutuskan untuk belajar hukum demi berjuang bagi perempuan Dalit lainnya yang dipaksa tetap diam'

Ia tersenyum, tapi tidak lebar - 'Maya' berusaha tetap terlihat berani seraya berjuang untuk menahan diri.

Ia ingin sekali membagi ceritanya, dengan semua detail yang menyakitkan, kepada saya, tetapi traumanya masih segar dan dia beberapa kali tiba-tiba menangis karena tak tahan lagi.

Maya berasal dari komunitas Dalit, yang dianggap paling rendah dalam hierarki kasta Hindu. Sebagai seorang perempuan Dalit, diskriminasi yang ia rasakan berlipat ganda.

Dia belajar untuk menjadi seorang insinyur ketika seorang pria dari kasta atas mulai menguntitnya.

Laki-laki itu menyayat pergelangan tangannya sendiri, menolak jawaban 'tidak', dan akhirnya memperkosanya.

Maya

Maya telah mendaftar di jurusan hukum. (BBC)

"Dia pria yang besar, saya berusaha tetapi saya tidak bisa menghentikannya," katanya.

Orangtuanya membantu Maya melapor ke polisi tetapi menyerah pada tekanan masyarakat dan menarik laporannya, setelah sang lelaki menawarkan diri untuk menikahinya.

Orang tua Maya mengira telah menyelamatkan anak perempuan mereka dari stigma sosial sebagai korban pemerkosaan, tetapi pernikahan itu menjadi penderitaan yang lain.

"Keluarga suami saya akan berkata kepada saya 'kamu seorang Dalit, seperti selokan kotor, kami benci melihatmu'," katanya sambil terisak.

"Dia (suami) sering pulang dalam keadaan mabuk, menganiaya saya karena sudah melaporkan dia ke polisi, memukuli saya, dan memaksa saya untuk melakukan tindakan seksual yang tidak wajar, bahkan ketika saya menolak."

Maya mengatakan dia bahkan sampai berpikir untuk bunuh diri.

Perempuan itu baru bisa melarikan diri setelah suaminya secara tidak sengaja membiarkan pintunya terbuka.

Rasa kebebasan sejati muncul kemudian ketika dia bertemu dengan Manisha Mashaal, seorang pengacara dan aktivis Dalit.

Manisha sedang mempelajari kasus pemerkosaan perempuan Dalit di negara bagian Haryana, India utara.

Dia menemukan bahwa undang-undang yang dimaksudkan untuk menghapus diskriminasi kasta dan kekerasan seksual tidak efektif, karena banyak perempuan Dalit tidak mengetahui keberadaan undang-undang tersebut.

Manisha Mashaal

Manisha berharap bisa membangun komunitas pengacara perempuan Dalit. (BBC)

Terdakwa sering kali berasal dari latar belakang ekonomi dan politik yang di atas kaum Dalit.

Ada juga ketidaksetaraan kasta yang mengakar dalam pemerintahan, polisi, dan peradilan, imbuhnya.

Bagi Manisha, solusinya sebagian terletak pada pemberdayaan perempuan Dalit.

Dia mulai mendorong korban pemerkosaan seperti Maya untuk belajar hukum.

Bagi Maya, itu adalah kesempatan baru dalam kehidupan yang sempat ia rasakan tidak layak untuk dijalani.

Dia membuka kembali laporan pemerkosaannya dan menambahkan tuduhan hubungan seks yang tidak wajar ke dalamnya.

"Saya membangun kepercayaan diri untuk berbicara dan tetap positif hanya setelah saya bertemu Manisha," kata Maya.

"Saya kemudian memutuskan untuk belajar hukum, jadi saya bisa memperjuangkan para perempuan Dalit seperti saya yang terpaksa tutup mulut tentang kekejaman."

Maya termasuk di antara setengah lusin korban pemerkosaan yang tinggal bersama Manisha.

Apartemen kecil itu hangat dan ramah, penuh kekuatan dan solidaritas.

Ini adalah dunia yang sangat berbeda dari dunia berbahaya yang mereka tinggalkan.

Puluhan perempuan di permukiman Dalit berdiskusi.

Para perempuan di permukiman Dalit rutin berkumpul untuk berdiskusi. (BBC)

"Perempuan Dalit dipandang sebagai objek oleh kasta atas, yang bisa digunakan atau ditinggalkan sesuka hati," kata Manisha.

"Dan jika ada perempuan yang mencoba bersuara menentang penyiksaan ini, mereka dibunuh."

Dia secara rutin menerima ancaman kekerasan dari keluarga pihak tertuduh, tetapi itu tidak menghalanginya.

Dia telah muncul sebagai pemimpin dalam komunitas Dalit dan menjadi jembatan antara remaja perempuan dan sistem peradilan.

"Orang-orang di komunitas saya menjadi sasaran kekerasan dan mati sebagai korban. Saya tidak ingin itu. Saya ingin turun berperang sebagai pemimpin, bukan sebagai korban."

(Nama korban pemerkosaan telah diubah seperti yang diharuskan oleh hukum India.)

(Reportase tambahan oleh Tejas Vaidya)

BBC 100 Women mengangkat 100 perempuan berpengaruh dan inspiratif setiap tahun dan membagikan kisah mereka. Temukan kami di Facebook, Instagram dan Twitter, dan gunakan # BBC100Women.

(ita/ita)