Iran Tuduh Israel Bunuh Ilmuwan Nuklir Pakai Senjata Dikendalikan dari Jauh

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 16:46 WIB
Peti jenazah Mohsen Fakhrizad ditandu tentara Iran. (Reuters)
Jakarta -

Iran menuduh Israel dan kelompok oposisi yang diasingkan menggunakan senjata yang dikendalikan dari jarak jauh untuk membunuh ilmuwan nuklir terkemuka, Mohsen Fakhrizadeh, pada Jumat (27/11) lalu.

Kepala keamanan Iran, Ali Shamkhani, mengatakan para penyerang "menggunakan peralatan elektronik" ketika mobil Fakhrizadeh diserang di bagian timur ibu kota Teheran.

Dia menyampaikan pernyataannya di upacara pemakaman Fakhrizadeh, seorang ilmuwan yang oleh Israel dituduh diam-diam membantu mengembangkan senjata nuklir.

Israel belum secara terbuka mengomentari tuduhan keterlibatannya.

Pada awal 2000-an, Fakhrizadeh memainkan peran penting dalam program nuklir Iran, tetapi pemerintah berkeras bahwa aktivitas nuklir negara itu sepenuhnya untuk tujuan damai.

Iran telah dikenakan sanksi keras dari negara-negara Barat yang bertujuan untuk mencegah perkembangan senjata nuklir di negara itu.

Bagaimana ilmuwan itu meninggal?

Penuturan versi Iran tentang apa yang terjadi telah berubah secara signifikan. Meski demikian, tampaknya Fakhrizadeh terluka parah ketika mobilnya dihujani peluru di Absard, sebelah timur Teheran.

Saat serangan terjadi, sebuah bom di dalam truk pikap Nissan juga dilaporkan meledak.

Map showing Absard and location of killing of Mohsen FakhrizadehBBC

Unggahan gambar-gambar di media sosial menunjukkan jalanan yang dipenuhi puing-puing dan darah, serta bekas tembakan peluru di seluruh permukaan mobil.

Awalnya, kementerian pertahanan melaporkan baku tembak antara pengawal Fakhrizadeh dan beberapa pria bersenjata.

Sabuah laporan Iran mengutip para saksi yang mengatakan "tiga sampai empat orang, yang dikatakan teroris, tewas".

Kemudian media Iran mengatakan ilmuwan tersebut sebenarnya telah dibunuh oleh "senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh" atau senjata "yang dikendalikan oleh satelit".

Dan pada Senin (30/11), Laksamana Muda Shamkhani, yang mengepalai Dewan Keamanan Nasional Agung, membenarkan bahwa itu adalah serangan jarak jauh, menggunakan "metode khusus".

"Merupakan misi yang sangat kompleks dengan menggunakan peralatan elektronik," katanya di acara pemakaman. "Tidak ada seorang pun yang hadir di tempat itu."

Dia mengatakan badan intelijen dan keamanan Iran telah mengetahui adanya rencana untuk membunuh Fakhrizadeh, dan bahkan telah memperkirakan di mana serangan itu akan terjadi.

Mengenai siapa yang harus disalahkan, dia menyebut kelompok oposisi Iran yang diasingkan, Mujahidin-e Khalq dan Israel.

Menteri Intelijen Israel, Eli Cohen, mengatakan pada Senin (30/11) dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun radio bahwa dia tidak tahu siapa yang berada di balik pembunuhan itu.

Namun, seorang pejabat senior Israel, yang tidak disebutkan namanya dan terlibat dalam pelacakan aktivitas nuklir Iran, dikutip oleh New York Times mengatakan bahwa "Aspirasi Iran untuk senjata nuklir, yang dipromosikan oleh Fakhrizadeh, menimbulkan ancaman sedemikian rupa sehingga dunia harus berterima kasih kepada Israel".

Senapan mesin dan senjata darat yang dikendalikan dari jarak jauh sekarang banyak digunakan di seluruh Timur Tengah, menurut laporan Forbes.

Senjata-senjata itu digunakan baik oleh tentara profesional, seperti yang dipasang pada kendaraan tempur, dan juga oleh kelompok milisi.

Analysis box by Frank Gardner, security correspondentBBC

Penuturan versi Iran tentang bagaimana ilmuwan nuklir top negara itu disergap dan dibunuh tampaknya saling bertentangan.

Awalnya, Iran mengatakan ada 12 penyerang bersenjata yang menembaki konvoi Fakhrizadeh, serta ada baku tembak dengan pengawal ilmuwan tersebut.

Versi terbaru, melibatkan kendaraan yang dikendalikan dari jarah jauh, dan bahkan lebih aneh lagi, senjata yang dikendalikan dari jarak jauh. Versi ini terdengar kurang masuk akal, meskipun bukan berarti tidak mungkin.

Satu-satunya cara pasukan pembunuh bisa memastikan bahwa mereka menyelesaikan tugas mereka adalah dengan melihat langsung target. Jika versi sebelumnya benar, maka badan keamanan dan intelijen Iran yang kuat itu akan menghadapi tantangan yang memalukan karena harus memburu tim pembunuh yang besar tidak jauh dari ibu kota.

Namun, satu hal yang jelas: ini adalah kegagalan besar kontra-intelijen bagi para kepala keamanan Iran, dan insiden ini juga memicu sejumlah pertanyaan sulit terkait hal itu.

Bagaimana tanggapan Iran?

Upacara pemakaman Fakhrizadeh diadakan di Kementerian Pertahanan di Teheran setelah jenazahnya dipindahkan ke sebuah pemakaman di utara ibu kota.

Defence Minister General Amir Hatami speaks at Mohsen Fakhrizadeh's funeral in Tehran (30 November 2020)ReutersJenderal Amir Hatami mengatakan Iran akan melanjutkan jalan "dokter martir".

Televisi pemerintah menunjukkan sebuah peti mati diselimuti bendera yang dibawa oleh pasukan, dan pejabat senior - termasuk Menteri Intelijen Mahmoud Alavi, komandan Pengawal Revolusi Jenderal Hossein Salami dan kepala nuklir Ali Akbar Salehi - yang memberikan penghormatan mereka.

Dalam pidatonya sendiri di upacara pemakaman, Menteri Pertahanan Jenderal Amir Hatami menegaskan kembali tekad Iran untuk membalas pembunuhan Fakhrizadeh.

"Musuh tahu, dan saya sebagai seorang tentara memberitahu mereka, bahwa tidak ada kejahatan, tidak ada teror dan tidak ada tindakan bodoh yang tidak akan dijawab oleh rakyat Iran," katanya.

Sebagai kepala Organisasi Riset dan Inovasi Pertahanan Iran, yang dikenal dengan singkatan bahasa Persia SPND, Fakhrizadeh telah melakukan "pekerjaan yang cukup besar" di bidang "pertahanan nuklir", kata jenderal itu.

Pemerintah akan menggandakan anggaran SPND untuk melanjutkan jalan "dokter martir" itu dengan "lebih cepat dan lebih kuat", tambahnya.

Apa yang dikatakan media regional?

Analysis box by BBC MonitoringBBC

Media Iran berfokus pada memproyeksikan dua pesan utama - ancaman balas dendam atas pembunuhan ilmuwan tersebut, dan peringatan bahwa Iran tidak boleh "jatuh ke dalam perangkap" dari apa yang mereka katakan sebagai upaya Israel untuk meningkatkan ketegangan atas program nuklir Iran.

Media Israel menyoroti waktu kejadian serangan itu, dimana para pengamat menafsirkan ini sebagai sinyal kepada Presiden terpilih AS Joe Biden bahwa Israel "tidak akan pergi diam-diam" jika ia berusaha untuk bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran 2015. Ada juga banyak spekulasi tentang kemungkinan pembalasan Iran.

Media Saudi melaporkan pembunuhan itu secara besar-besaran dan dengan penuh minat, mengingat penentangan negara itu terhadap program nuklir Iran. Sebuah kartun di surat kabar Al-Sharq al-Awsat tampak mengejek kemampuan Pengawal Revolusi Iran. Sementara itu, situs web Al Arabiya TV bertanya: "Akankah pembunuhan Fakhrizadeh mempengaruhi pendekatan Biden ke Iran?"

Mengapa Fakhrizadeh menjadi target?

Sumber-sumber keamanan di Israel dan negara-negara Barat mengatakan Fakhrizadeh berperan penting dalam program nuklir Iran.

Profesor fisika itu dikatakan telah memimpin "Proyek Amad", sebuah program rahasia yang diduga didirikan Iran pada 1989 untuk melakukan penelitian tentang potensi bom nuklir.

Proyek tersebut ditutup pada tahun 2003, menurut Badan Energi Atom Internasional, meskipun Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan pada 2018 bahwa dokumen-dokumen yang diperoleh negaranya menunjukkan Fakhrizadeh memimpin program yang diam-diam melanjutkan pekerjaan Proyek Amad.

Netanyahu mendesak orang-orang untuk "mengingat nama itu".

Iran sebelumnya menuduh Israel membunuh empat ilmuwan nuklir Iran lainnya antara 2010 dan 2012.

Para pengamat berspekulasi bahwa insiden pembunuhan terbaru itu tidak dimaksudkan untuk melumpuhkan program nuklir Iran, melainkan untuk mengakhiri prospek AS bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran 2015 ketika Presiden terpilih Joe Biden menjabat tahun depan.

Presiden Donald Trump membatalkan kesepakatan itu pada 2018, dengan mengatakan itu "cacat pada intinya", dan menerapkan kembali sanksi AS dalam upaya untuk memaksa para pemimpin Iran untuk merundingkan penggantinya.

Iran telah menolak untuk melakukannya dan membalas dengan melanggar sejumlah komitmen utama, seperti meningkatkan persediaan uranium yang diperkaya. Uranium yang diperkaya dapat digunakan untuk membuat bahan bakar untuk reaktor nuklir, tetapi juga berpotensi menjadi bom nuklir.

(ita/ita)