Biden: Kerja Sama dari Gedung Putih untuk Masa Transisi Sejauh Ini Tulus

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 17:54 WIB
Joe Biden mengaku merasa yakin masa transisi bisa berlangsung dengan lebih cepat (Getty Images)
Washington DC -

Presiden AS terpilih Joe Biden berkata respons Gedung Putih atas transisi pemerintahan sejauh ini 'tulus'.

"Tidak ada keengganan sejauh ini, dan saya tidak mengharapkan itu terjadi," kata Biden kepada NBC News.

Biden mengeluarkan pernyataan ini setelah mengumumkan orang-orang pilihannya untuk mengisi posisi penting dalam kabinet baru yang akan menggantikan pemerintahan Donald Trump pada Januari.

Trump akhirnya setuju untuk memulai proses transisi secara formal pada Senin, nyaris tiga pekan setelah pemilu usai.

Meski, Trump masih menolak untuk mengumumkan kekalahannya dan berkali-kali mengklaim pemilu pada 3 November lalu itu "curang", walaupun tanpa dasar.

Apa yang dikatakan Biden?

Kepada program Nightly News dari NBC, Biden mengaku belum berbicara secara langsung dengan Trump, namun ia juga menambahkan tidak ingin masa pemerintahannya terpengaruh akibat penundaan masa transisi.

"Ini adalah awal yang lambat, tapi tetap merupakan sebuah permulaan. Masih ada dua bulan lagi, dan saya merasa yakin kami bisa meningkatkan kecepatan," ujarnya.

Meski, lanjutnya, ia sudah merencanakan untuk bertemu dengan gugus tugas COVID-19 di Gedung Putih untuk membahas distribusi dan akses vaksin.

Biden juga akan mulai menerima Laporan Harian Presidensial - yakni pembaruan tentang ancaman dan perkembangan internasional - juga mulai bisa mendapatkan akses kepada para pejabat penting pemerintahan, serta dana jutaan dolar selama persiapan mengambil alih kepemimpinan pada 20 Januari.

Mantan wakil presiden Barack Obama ini juga berkata, masa jabatannya kali ini tidak akan menjadi "periode ketiga Obama", lantaran "Kita menghadapi dunia yang jauh berbeda dari yang kita hadapi di masa pemerintahan Obama-Biden".

"Amerika telah kembali" dan "Siap memimpin dunia, bukan mundur darinya", ujarnya saat memperkenalkan orang-orang pilihannya untuk mengisi posisi-posisi krusial.

Joe Biden

Masa pemerintahannya nanti tidak akan menjadi 'periode ketiga Obama', janji Biden. (Reuters)

Biden juga mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah berdiskusi tentang perbatasan Irlandia dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan pemimpin-pemimpin negara lainnya.

Biden, yang merupakan keturunan Irlandia, berkata ia menentang perbatasan yang dijaga dengan ketat dan berkukuh agar perbatasan terbuka: "Gagasan adanya perbatasan yang tertutup untuk [Irlandia] utara dan selatan sekali lagi, itu tidak terasa benar."

Orang-orang pilihan Joe Biden

Pada Selasa (24/11), Joe Biden secara resmi memperkenalkan sejumlah orang yang ia pilih untuk mengisi enam posisi kunci dalam kabinetnya.

Banyak yang dipilih dan telah diumumkan sebelumnya, adalah mitra kerja Biden pada saat ia menjadi wakil presiden dalam pemerintahan Barack Obama.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, akan berperan sebagai utusan khusus bidang iklim ketika Presiden terpilih AS Joe Biden menjabat.

Kerry adalah satu dari sejumlah orang yang ditunjuk untuk menempati jabatan-jabatan tertinggi oleh tim transisi Biden pada hari Senin.

Jake Sullivan, Linda Thomas-Greenfield and Antony Blinken

Biden telah memilih Jake Sullivan, Linda Thomas-Greenfield, dan Antony Blinken untuk mengisi sejumlah peran kunci. (Getty Images/Reuters)

Sebelumnya, Trump mengklaim terjadi penipuan pemilu tanpa memberikan bukti dan terus mengejar gugatan hukum atas hasil pemilihan.

Biden diproyeksikan akan mengalahkan Presiden Trump dengan 306 suara berbanding 232 ketika lembaga pemilihan AS, yaitu electoral college, akan bertemu secara resmi untuk mengonfirmasi pemenang pemilihan pada 14 Desember. Angka itu jauh di atas 270 suara yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan presiden.

Dalam sebuah pernyataan menyusul pengumuman pada hari Senin, Biden mengatakan, "Saya membutuhkan tim yang siap sejak hari pertama untuk membantu saya merebut kembali posisi Amerika sebagai pemimpin di meja perundingan, menyatukan dunia untuk menghadapi tantangan-tantangan terbesar yang kita hadapi, dan memajukan keamanan, kemakmuran, dan nilai-nilai kita. Ini adalah inti dari tim itu."

Beberapa posisi masih harus dikonfirmasi oleh Senat AS.

Posisi baru untuk John Kerry

Kerry terpilih sebagai utusan khusus presiden untuk bidang iklim.

Tim transisi Biden mengatakan posisi itu akan memberi Kerry kewenangan untuk "melawan perubahan iklim secara purnawaktu". Dia juga akan menjadi pejabat pertama yang didedikasikan untuk bidang perubahan iklim dan duduk di Dewan Keamanan Nasional.

Kabinet Joe Biden, kabinet Biden, Kamala Harris, Kabinet AS, menteri baru AS, John Kerry, Janet Yellen, Avril Haines, Linda Thomas Greenfield

John Kerry menandatangani perjanjian iklim Paris pada tahun 2016. (Getty Images)

Kerry menandatangani Perjanjian Iklim Paris atas nama AS pada 2016. Inti dari kesepakatan itu adalah membuat negara-negara berkomitmen untuk berupaya membatasi kenaikan suhu global.

Di bawah Trump, AS baru-baru ini menjadi negara pertama yang secara resmi menarik diri dari perjanjian tersebut. Tetapi Biden mengatakan dia berencana untuk bergabung kembali dengan kesepakatan itu sesegera mungkin.

Pada 2019, Kerry membangun sebuah koalisi melibatkan para pemimpin dunia dan selebriti - yang dijuluki Perang Dunia Nol - untuk menyerukan aksi perubahan iklim dan emisi karbon nol bersih.

Menyusul berita tentang peran barunya pada hari Senin, Kerry mengatakan dalam sebuah cuitan: "Amerika akan segera memiliki pemerintahan yang memperlakukan krisis iklim sebagai ancaman keamanan nasional yang mendesak."

Kerry sebelumnya menjabat sebagai menteri luar negeri selama masa jabatan kedua Barack Obama sebagai presiden. Sebagai seorang politisi Demokrat veteran, Kerry kalah dalam pemilu melawan presiden George W Bush dari Partai Republik, yang merupakan inkumben dalam pemilihan presiden 2004.

Kerry bertugas sebagai senator selama 28 tahun dan menjadi ketua komite hubungan luar negeri.

Dia mendukung Biden untuk menjadi kandidat Partai Demokrat pada pemilihan 2020 dan bergabung dengannya di jalur kampanye.

Enam orang pilihan

Antony Blinken, menteri luar negeri. Pria berusia 58 tahun itu menjabat sebagai wakil menteri luar negeri dan wakil penasihat keamanan nasional selama pemerintahan Barack Obama. Blinken mengatakan AS akan segera memulihkan hubungan dengan negara-negara "secara setara dan dengan keyakinan dan kerendahan hati".

John Kerry, utusan khusus perubahan iklim. Dia adalah salah satu perancang Kesepakatan Iklim Paris, yang ditarik mundur Presiden Trump. Kerry mengatakan dunia harus "bersatu padu guna mengakhiri krisis iklim".

Avril Haines, direktur perempuan pertama untuk intelijen nasional. Haines adalah mantan wakil direktur CIA dan wakil penasihat keamanan nasional. Biden berkata: "Saya memilih seorang profesional seorang advokat yang gigih untuk membeberkan kebenaran."

Alejandro Mayorkas, orang keturunan Latin pertama sebagai menteri keamanan dalam negeri. Dia sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri keamanan dalam negeri di bawah Presiden Obama. Mayorkas mengatakan departemennya punya "misi mulia, untuk membantu menjaga kita tetap aman dan memajukan sejarah yang kita banggakan sebagai negara yang menyambut".

Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Gedung Putih. Sullivan menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Biden selama masa jabatan kedua Obama. Sullivan menyanjung Biden, yang menurutnya telah mengajarkan pemerintahan dan "paling penting sifat manusia".

Linda Thomas-Greenfield, duta besar AS untuk PBB. Dia juga pernah menjabat di bawah Presiden Obama, termasuk sebagai asisten menteri luar negeri urusan Afrika pada 2013 hingga 2017.

Satu sosok lainnya yang diperkirakan akan dipilih tapi belum diumumkan secara resmi adalah mantan ketua Federal Reserve, Janet Yellen, sebagai menteri keuangan.

Biden memproyeksikan stabilitas dan keakraban

Analysis box by Barbara Plett-Usher, State Department correspondent

BBC

Dalam pilihannya untuk tim keamanan nasional, Joe Biden telah mengisyaratkan bahwa AS akan melanjutkan peran internasionalnya yang konvensional, setelah empat tahun yang penuh gejolak di bawah kepemimpinan Donald Trump yang mengedepankan Amerika melalui pendekatan "America First".

Biden menunjuk para veteran pemerintahan Obama untuk posisi-posisi teratas dan mengangkat seorang diplomat karir yang dikesampingkan oleh pemerintahan Trump.

Pilihannya untuk menteri luar negeri, Antony Blinken, adalah seorang pendukung pendekatan aliansi global. Blinken akan memimpin upaya untuk membangun kembali hubungan dengan sekutu-sekutu dan bergabung kembali dalam berbagai perjanjian dan institusi yang ditolak oleh Trump. Dan tidak ada keraguan bahwa dia akan berbicara mewakili Biden di dalam Gedung Putih: Blinken telah menasihati Biden tentang kebijakan luar negeri selama periode yang cukup lama, bahkan digambarkan sebagai seorang alter ego.

Wajah familier lainnya adalah mantan Menteri Luar Negeri John Kerry. Keputusan Biden untuk memberi Kerry posisi baru setingkat menteri sebagai utusan khusus iklim menunjukkan dia akan menanggapi masalah perubahan iklim sebagai ancaman keamanan nasional yang signifikan.

Namun, bahkan dengan tim lama, ini tidak akan menjadi Obama 2.0: lanskap telah berubah, baik di Amerika maupun dunia, selama empat tahun terakhir. Meski demikian, Biden tetap memproyeksikan stabilitas dan keakraban, serta, para pemimpin internasional tahu apa yang akan mereka hadapi.

Bagaimana dengan seruan agar Trump menyerah?

Donald Trump sekarang telah menerima bahwa transisi kepemimpinan secara formal sudah harus dimulai untuk Presiden terpilih Joe Biden menjabat.

Tetapi Trump berjanji untuk terus memperjuangkan kekalahannya dalam pemilihan. Sejauh ini, dia telah menempuh jalur hukum di beberapa negara bagian dengan tujuan membalikkan kekalahannya. Namun, tidak ada yang membuahkan hasil.

Kemunduran terbaru yang dia alami terjadi pada Sabtu lalu, ketika seorang hakim menolak upayanya untuk mendapatkan jutaan suara melalui pos di Pennsylvania yang sebelumnya sudah dinyatakan tidak valid.

Keputusan itu datang di tengah seruan yang semakin keras agar Trump menerima kekalahan.

Mantan Gubernur New Jersey, Chris Christie, seorang sekutu Trump yang terkemuka, menyebut tim hukum presiden sebagai "aib nasional".

"Saya menjadi pendukung presiden. Saya memilihnya dua kali. Tetapi pemilihan memiliki konsekuensi, dan kami tidak dapat terus bertindak seolah-olah sesuatu yang terjadi di sini tidak terjadi," katanya kepada ABC.

Seorang pendukung Trump yang terkenal lainnya, Stephen Schwarzman, CEO perusahaan investasi Blackstone, juga mengatakan sudah waktunya bagi Trump untuk menerima kekalahannya.

"Seperti banyak komunitas bisnis, saya siap membantu Presiden terpilih Biden dan timnya saat mereka menghadapi tantangan signifikan dalam membangun kembali ekonomi pasca-COVID," katanya dalam pernyataan yang dilaporkan oleh media AS.

Beberapa anggota parlemen dari Partai Republik juga mengakui kekalahan Trump dalam pemilihan presiden.

(nvc/nvc)