Perang Bikin 5 Anak-anak Afghanistan Tewas Atau Cacat Tiap Hari

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 13:29 WIB
Save the Children mengatakan Afghanistan adalah salah satu tempat paling bahaya untuk anak-anak.
Jakarta -

Lima anak meninggal atau terluka setiap hari dalam 14 tahun terakhir di negara yang tercabik perang Afghanistan, menurut penghitungan rata-rata lembaga amal.

Data dari PBB menunjukkan paling tidak 26.025 anak meninggal atau cacat dari 2005 sampai 2019, menurut Save the Children.

Badan amal ini mendesak negara-negara donor untuk melindungi masa depan anak-anak Afghanistan menjelang pertemuan negara-negara donor di Jeneva, Swiss yang dimulai Senin (23/11).

Kekerasan meningkat di Afghanistan di tengah perundingan damai yang terhenti dan ditariknya pasukan Amerika Serikat.

Afghanistan termasuk satu dari 11 negara paling bahaya di dunia untuk anak-anak, menurut Save the Children.

Dalam laporan yang diterrbitkan Jumat (20/11), lembaga ini mencatat Afghanistan sebagai tempat paling parah terjadinya kekerasan yang menimpa anak, dengan jumlah 874 meninggal dan 2.275 cacat pada 2019.

Lebih dari dua pertiga anak yang meninggal atau cacat tahun lalu adalah anak laki, menurut lembaga itu.

"Penyebabnya adalah bentrokan antara pasukan pro dan antipemerintah atau akibat ledakan, baik ledakan bunuh diri atau ledakan lain."

Laporan badan itu juga menyebutkan sekolah-sekolah secara rutin diserang dalam konflik yang terus berlanjut antara pasukan pemerintah Afghanistan - yang didukung oleh pasukan AS, melawan Taliban atau kelompok lain.

Save the Children mengatakan antara 2017 dan 2019, terjadi lebih dari 300 serangan terhadap sekolah-sekolah.

"Bayangkan hidup dengan kondisi ketakutan konstan dan membayangkan hari ini mungkin anak kita meninggal dunia dalam serangan bunuh diri atau serangan udara. Inilah kenyataan suram bagi puluhan ribu orang tua Afghanistan yang anak-anaknya meninggal atau terluka," kata Chris Nyamandi, direktur Save the Children untuk Afghanistan.

Seruan meningkatkan bantuan

Menjelang pertemuan Afghanistan 2020 - pertemuan negara donor internasional di Jenewa, Swiss pada Senin (23/11), badan amal untuk anak-anak ini mendesak negara donor menyelamatkan masa depan anak-anak negara itu dengan meningkatkan jumlah bantuan kemanusiaan.

Badan ini juga menyerukan kepada pemerintah Inggris dan sekutu untuk menghindari penggunaan bahan peledak di daerah padat penduduk.

Pejabat badan pengungsi PBB, UNHCR, Filippo Grandi, mendesak komunitas internasional untuk tetap membantu Afghanistan dan menyerukan bantuan lebih banyak untuk pengungsi.

Serangan di Kabul.

Serangan roket di daerah padat penduduk di Kabul pada Sabtu lalu menewaskan paling tidak delapan orang dan melukai lebih dari 30 lainnya. (Getty Images)

Afghanistan mengalami konflik puluhan tahun yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggal.

Pasukan AS telah berada di negara itu sejak 2001 dalam operasi untuk menggulingkan Taliban setelah serangan 11 September di New York.

Taliban digulingkan dari kekuasaan namun kemudian bangkit kembali dan kini menguasai lebih banyak kawasan dibandingkan saat awal konflik dengan Amerika.

Pada Februari lalu, AS mulai menarik pasukan setelah menandatangani kesepakatan dengan kelompok itu.

Namun kekerasan di negara itu kembali meningkat karena Taliban menggencarkan serangan di tengah terhentinya perundingan dengan pemerintah Afghanistan.

Akhir pekan lalu, serangan roket di Kabul menewaskan paling tidak delapan orang dan melukai lebih dari 30 lainnya.

Penyelidikan BBC tahun lalu menunjukkan kekerasan terjadi di hampir seluruh wilayah Afghanistan dengan korban yang berjatuhan setiap hari pada bulan Agustus 2019.

Banyak pengamat memperingatkan bahwa tentara Afghanistan tidak begitu kuat untuk memerangi pemberontakan sendiri setelah pasukan asing ditarik.

Tapi minggu lalu, AS mengumumkan pengurangan lebih lanjut, dengan penarikan 2.000 pasukan dari Afghanistan pada pertengahan Januari. Hanya sekitar 2.500 tentara yang tersisa.

Selama 13 tahun, antara tahun 2001 dan 2014, Inggris terlibat dalam konflik di Afghanistan dalam menghadapi Taliban dan kelompok al-Qaida. Pasukan tempur terakhir Inggris meninggalkan Afghanistan pada Oktober 2014.

(ita/ita)