Teknologi Deteksi Suara Tembakan Bisa Selamatkan Spesies Terancam

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 21 Nov 2020 14:37 WIB
London -

Analisis rekaman tembakan senapan dapat menyelamatkan spesies terancam punah di seluruh dunia dengan mengidentifikasi lokasi pemburu liar.

Teknologi baru ini telah dikembangkan oleh lembaga amal konservasi internasional Zoological Society of London (ZSL) dan Google Cloud.

Sensor akustik yang ditaruh di wilayah suaka alam atau safari mampu merekam peristiwa yang terjadi hingga 1 km jauhnya.

Ia menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi suara tembakan, dan memperingatkan patroli anti pemburu liar.

Para pelestari alam saat ini mengandalkan perangkap kamera untuk melacak pemburu liar. Perangkap itu diaktifkan oleh gerakan, dan jangkauannya terbatas pada jarak pandang.

Namun sensor akustik lebih murah, dapat merekam terus-menerus dan mampu mendeteksi peristiwa lebih jauh dengan radius 360 derajat.

Proyek perintis

Google Cloud dan ZSL menguji coba teknologi ini di Dja Faunal Reserve di Kamerun.

Mereka menaruh 69 perangkat perekam audio di taman nasional itu selama satu bulan, menghasilkan rekaman suara terus-menerus dengan durasi ekuivalen 267 hari.

Rekaman ini kemudian dianalisis oleh kecerdasan buatan (AI) Google untuk mendeteksi suara tembakan, yang kemudian dikaitkan dengan lokasi di dalam taman nasional.

Anthony Dancer, pemimpin divisi teknologi konservasi di ZSL, berkata identifikasi lokasi favorit pemburu liar dapat mencegah perburuan di masa depan.

"Staf taman nasional bisa menggunakan [informasi ini] untuk mengembangkan respons terhadap ancaman tersebut," imbuhnya. "Merencanakan tempat mereka akan memusatkan patroli dan pada waktu ketika Anda memperkirakan aktivitas ilegal mungkin terjadi."

Langkah selanjutnya adalah penggalangan dana dan kemudian ekspansi ke area-area konservasi, ujarnya, seraya menambahkan bahwa masing-masing perangkat ini bisa didapatkan dengan harga sekitar 50 Poundsterling (Rp 940.000).

Saat ini, proyek berfokus pada suara tembakan, namun Dancer berharap di masa depan mereka juga bisa mengidentifikasi percakapan manusia, yang bisa mengindikasikan kehadiran pemburu liar atau gangguan manusia - atau suara spesies yang terancam punah, untuk memantau jumlah mereka, serta kesehatan mereka.

"Perburuan liar hewan masih menjadi masalah global dan dengan penurunan populasi yang begitu katastrofik pada beberapa spesies, ini persoalan yang tidak bisa diabaikan," kata Omer Mahmood, kepala divisi teknik konsumen di Google.

Ia menjelaskan bahwa dengan menggunakan pembelajaran mesin dalam teknologi ini, komputer dapat memangkas waktu kerja dari hitungan bulan hingga hitungan jam, karena manusia tidak perlu mendengarkan semua rekaman suara secara manual.

"Kami berkomitmen untuk mendukung ZSL dan organisasi konservasi lainnya dengan perangkat terbaik untuk mengatasi krisis saat ini," imbuhnya.

Penggunaan sebelumnya

Teknologi deteksi tembakan telah digunakan oleh polisi di AS.

Pada 2010, kepolisian West Midlands menguji cobanya di Birmingham namun menghentikan proyek perintis itu dua tahun kemudian karena "masalah teknis".

Waktu itu, teknologi dari ShotSpotter disebut memiliki tingkat efektivitas 85%.

"Salah satu hal paling menantang dari identifikasi suara tembakan ialah suaranya terpantul dari permukaan," Profesor Mark Plumbley, dari University of Surrey's Centre for Vision, Speech and Signal Processing, menjelaskan.

"Di kota seperti ini biasanya gedung, mobil, atau manusia. Jadi teknologi bisa jadi tidak akurat."

"Saya pikir ini adalah aplikasi yang sangat bagus untuk teknologi ini, menggunakannya dalam konservasi, tempat ada ruang terbuka yang luas dan lebih sedikit polusi udara. Namun masih ada tumbuh-tumbuhan atau hal-hal lain yang bisa mengganggu."

(nvc/nvc)