Memakai Helm untuk Menangkal Virus Corona, Efektif atau Berlebihan?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 17:55 WIB
Yezin Al-Qaysi mengatakan orang-orang sering bertanya soal helmnya (VZYR Technologies)
Toronto -

Selama dua bulan terakhir, Yezin Al-Qaysi menggunakan kereta bawah tanah di Toronto di Kanada dengan mengenakan sebuah "helm gila" besar berwarna hitam.

Helm hazmat itu benar-benar menutupi kepala hingga tubuh bagian atasnya. Helm itu juga memiliki pelindung wajah yang memanjang hingga ke dadanya.

Di bagian belakang terdapat kipas bertenaga baterai dan filter pernapasan yang memurnikan udara yang tersedot masuk dan mendorong udara "pengap" keluar.

Ia tampak seperti sosok distopia dari film apokaliptik. Pria berusia 32 tahun itu mendapatkan berbagai reaksi dari orang yang melihatnya.

"Seseorang berteriak: 'Dari mana kamu mendapatkan itu!' dan banyak orang mendekati saya karena penasaran," ujarnya.

"Yang lain kagum .. Mereka tidak tertawa, tetapi bahkan jika mereka tertawa, saya tidak bisa melihat mulut mereka karena semua orang memakai masker."

A man wearing the BioVYZR in a shop

Helm BioVYZR bisa dipakai ketika Anda berbelanja (VZYR Technologies)

Al-Qaysi adalah salah satu dari sejumlah desainer dan pengusaha di seluruh dunia yang bergegas untuk merilis helm hazmat, atau PAPR (alat pemurni udara bertenaga), yang ditujukan untuk orang-orang yang mencari perlindungan lebih terhadap virus Corona daripada hanya memakai masker.

Alat ini disebut BioVYZR, dan baterainya disebut bisa bertahan hingga 12 jam. Ia mengatakan angka penjualan bisnisnya -VZYR technologies- telah mencapai "puluhan ribu".

Veteran Angkatan Laut AS Chris Ehlinger, adalah pencipta helm hazmat lainnya.

"Helm-helm ini secara psikologis mempersiapkan kita untuk masa depan spesies kita," kata pria berusia 35 tahun itu.

Perusahaannya, Valhalla Medical Design yang berpusat di Austin, Texas, telah meluncurkan produk bernama NE-1, yang bentuknya mirip helm sepeda motor.

Selain sistem penyaringan udara bertenaga, helm itu memiliki mikrofon dan speaker internal dan eksternal, sehingga pemakainya dapat lebih mudah berbicara dengan orang di sekitarnya.

The NE-1 helmet

Helm NE-1 memiliki mikrofon dan speaker internal dan eksternal, sehingga pemakainya dapat lebih mudah berbicara dengan orang di sekitarnya. (Valhalla Medical Design)

Helm itu bahkan memiliki fitur audio Bluetooth yang bisa Anda gunakan untuk melakukan panggilan telepon atau mendengarkan musik.

Tetapi dengan vaksin virus Corona yang telah diumumkan minggu lalu, apakah helm seperti ini benar-benar diperlukan?

Michael Hall, yang perusahaannya menjual helm PAPR bernama Air, yakin helm itu akan populer dalam jangka panjang karena sejumlah orang khawatir dengan kualitas udara yang buruk.

Perusahaannya, Hall Labs yang berbasis di Utah, mengatakan sejauh ini telah menjual 3.000 buah helm.

Perusahaan itu juga mengembangkan teknologi tinggi, yang akan mengubah penutup wajah menjadi layar, sehingga pengguna bisa menonton video.

"Untuk penerbangan, kami akan membuat helm yang berfungsi seperti headphone peredam bising," kata pria berusia 44 tahun itu. "Kami pikir ada pasar untuk ketenangan semacam itu."

Namun, tidakkah helm seperti itu berlebihan?

Natasha Duwin, pemilik perusahaan Octo Safety Devices berbasis di Florida yang membuat masker respirator, mengatakan dia dapat melihat daya tariknya.

Tobias Franoszek and Natasha Duwin

Natasha Duwin, berfoto bersama mitra bisnisnya Tobias Franoszek. Ia mengatakan masker respirator yang tepat dapat berfungsi seperti helm. (Octo Safety Devices)

"Helm memiliki keuntungan karena dapat menunjukkan wajah orang," katanya. "Anda dapat melihat senyuman dan ekspresi orang, Anda juga akan merasa aman."

"Namun karena masing-masing helm ini bergantung pada setidaknya dua sistem filtrasi, baterai, dan [hal lainnya], semua item ini dapat rusak. Ketika salah satu rusak, Anda berada dalam masalah serius."

Dia juga memperingatkan bahwa helm perlu dibersihkan secara menyeluruh sebelum digunakan.

Duwin mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang, yang mereka butuhkan hanyalah masker respirator pas yang memenuhi standar kualitas di negara itu.

Masker respirator memiliki filter bawaan dan lebih ketat. Masker itu, katanya, bekerja lebih efektif, daripada masker wajah berbahan kain sederhana.

Harga tiga helm di atas berkisar antara $ 149- $ 379 (Rp 2,1 juta hingga Rp 5,3 juta), tetapi belum ada yang mendapatkan sertifikasi.

Namun, masing-masing dari tiga perusahaan tersebut mengatakan mereka mendekati tahap sertifikasi itu.

Michael Hall

Michael Hall yakin helm seperti itu tetap akan populer setelah pandemi COVID-19 lewat. (Hall Labs)

Suzanne Pham, direktur medis tim respons COVID-19 di Weiss Memorial Hospital di Chicago, mengatakan: "Masih harus dilihat apakah helm yang menarik ini efektif melawan COVID, karena saat ini tidak ada cukup penelitian tentang itu.

Dr Pham juga prihatin bahwa helm dapat menyebabkan keretakan sosial.

"Ini akan menciptakan perpecahan dalam masyarakat antara mereka yang mampu membeli sesuatu yang tampaknya mungkin lebih melindungi mereka dan mereka yang tidak mampu."

"Mereka yang tak bisa membeli akan merasa 'Oh, apakah saya cukup terlindung dengan hanya memakai masker bedah?'"

Namun, menurutnya helm seperti itu akan laku karena rasa aman yang mereka tawarkan pada para pembeli.

"Bagaimanapun, pandemi itu terkait dengan hal medis, tetapi secara mutlak terkait juga dengan psikologis."

(nvc/nvc)