Iran Akan Membalas Jika AS Serang Fasilitas Nuklirnya

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 09:25 WIB
Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dila;orkan menghadiri pertemuan dengan Presiden Trump bahas kemungkinan serangan terhadap Iran. (Getty Images)
Jakarta -

Juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, mengatakan segala serangan Amerika Serikat terhadap Iran akan dibalas dengan aksi yang menghancurkan, setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.

"Saya secara pribadi tidak memperkirakan itu akan terjadi, saya tidak melihat kemungkinan mereka ingin mengganggu keamanan dunia dan kawasan," ujar juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, pada Selasa (17/11).

"Tapi bagaimanapun juga, tanggapan kami secara singkat adalah setiap aksi terhadap rakyat Iran akan dibalas dengan aksi yang menghancurkan," lanjutnya kemudian.

Pernyataan Ali Rabiei mengemuka menyusul laporan surat kabar New York Times bahwa Trump telah meminta para penasihat keamanan nasional untuk memberikan saran terkait kemungkinan dan skenario serangan terhadap Iran.

Ia dilaporkan memutuskan untuk membatalkan rencana mengingat risiko konflik lebih luas di Timur Tengah.

Gedung Putih sejauh ini belum memberikan komentar.

Itu terjadi sehari setelah pengawas nuklir global mengatakan cadangan uranium yang tidak diperkaya (low enriched uranium) milik Iran mencapai 12 kali lipat dari yang diizinkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015.

Kesepakatan penting itu sempat membuat AS dan lima kekuatan dunia lainnya memberikan bantuan kepada Iran, dengan syarat Iran membatasi kegiatan sensitif guna menunjukkan bahwa mereka tidak mengembangkan senjata nuklir.

Presiden Trump mengabaikan kesepakatan ini pada 2018, dengan mengatakan bahwa perjanjian itu "cacat pada intinya", dan menerapkan kembali sanksi untuk memaksa para pemimpin Iran menegosiasikan kesepakatan penggantinya.

Akan tetapi para pemimpin Iran menolak melakukannya dan membalas dengan membatalkan sejumlah komitmen utama, termasuk dengan memperbanyak produksi uranium.

Presiden terpilih AS Joe Biden, yang akan menjabat pada 20 Januari, mengatakan dia akan mempertimbangkan untuk kembali melakukan kesepakatan nuklir, selama Iran kembali pada kepatuhan penuh dan berkomitmen untuk negosiasi lebih lanjut.

Rabu pekan lalu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) merilis sebuah laporan yang mengatakan cadangan uranium yang tidak diperkaya Iran mencapai 2.442,9 kg - jauh di atas batas 202.8kg yang ditetapkan di bawah kesepakatan nuklir dan secara teoritis cukup untuk menghasilkan dua senjata nuklir.

Uranium yang tidak diperkaya - yang biasanya memiliki konsentrasi 3-5% uranium-235, isotop yang paling cocok untuk fisi nuklir - dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Uranium tingkat senjata diperkaya 90% atau lebih.

IAEA juga mengatakan Iran telah selesai memindahkan aliran pertama sentrifugal canggih, yang digunakan untuk memperkaya uranium, dari pabrik di fasilitas pengayaan Natanz ke pabrik bawah tanah. Kesepakatan nuklir mengatakan pabrik bawah tanah tidak dapat digunakan untuk sentrifugal canggih.

New York Times melaporkan pada Senin (16/11) bahwa Trump telah membahas bagaimana menanggapi laporan IAEA pada pertemuan di Gedung Putih dengan penasihat keamanan nasional, termasuk Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, penjabat Menteri Pertahanan Christopher Miller dan Jenderal Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan militer AS.

Pejabat AS yang mengetahui pertemuan itu mengatakan presiden meminta untuk diberi pengarahan tentang opsi untuk serangan di situs nuklir utama Iran, yang merujuk pada fasilitas pengayaan Natanz.

Para penasihat berargumen bahwa tindakan militer dapat menyebabkan konflik yang lebih luas di wilayah tersebut pada pekan-pekan terakhir masa kepresidenannya, menurut para pejabat.

"Dia menanyakan opsi-opsi. Mereka memberinya sejumlah skenario dan dia akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya," ujar seorang pejabat kepada kantor berita Reuters.

Pejabat lainnya mengatakan kepada Wall Street Journal, bahwa "sebuah konflik dengan Iran akan berakhir buruk bagi siapapun yang terlibat".

AS dan Iran hampir berperang Januari ini, setelah Trump memerintahkan serangan pesawat tak berawak di Irak yang menewaskan komandan tinggi Iran, Qasem Soleimani. Trump mengatakan jenderal Garda Revolusi itu bertanggung jawab atas kematian ratusan tentara Amerika.

Iran menanggapi dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS. Tidak ada orang Amerika yang terbunuh, tetapi lebih dari 100 orang didiagnosis dengan cedera otak traumatis.

Map showing changes agreed under Iran deal to limit nuclear programmeBBC

Tonton video 'Menanti Sikap Joe Biden di Kesepakatan Nuklir Iran':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)