Pengakuan Penyelundup di Balik Perdagangan Manusia dari Afghanistan ke Eropa

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 10:38 WIB
Penyelundup manusia 'Elham Noor' mendapatkan US$3.500 untuk setiap migran yang berhasil diselundupkan di Italia. Tapi beberapa dari migran, tak berhasil mencapai tujuan mereka. (Elham Noor)
Jakarta -

Sebelum naik ke kapal untuk melakukan penyeberangan rahasianya, Shafiullah memberitahu keluarganya di Afghanistan bahwa dia baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan. Itu adalah kali terakhir keluarganya mendengar kabar darinya.

Kapal feri yang dipilih penyelundup untuk membawa rombongan mereka - termasuk setidaknya 32 orang Afghanistan, tujuh orang Pakistan, dan satu orang Iran - tenggelam di Danau Van di Turki pada Juni lalu. Banyak di antara mereka dinyatakan hilang hingga kini.

Pihak berwenang Turki mengatakan kepada BBC bahwa beberapa jenazah bisa jadi berada di kedalaman 100 meter di bawah permukaan air, membuat pencarian mereka sangat menantang.

Setidaknya empat dari mereka yang diperkirakan tewas - termasuk Shafiullah - dikirim oleh seorang penyelundup, yang setuju untuk berbicara dengan BBC Afghan dengan syarat identitasnya disamarkan.

'Elham Noor' mengisahkan bagaimana dia melakukan bisnis ilegal ini dan bagaimana perasaanya ketika kliennya meninggal di tengah perjalanan mereka.

Risiko dan rasa bersalah

Shaifullah, 16 tahun, membayar Noor agar menyelendupkannya ke Eropa.

Shaifullah, 16 tahun, membayar Noor agar menyelundupkannya ke Eropa. (Sher Afzal)

BBC bertanya ke Noor apakah dia merasa bersalah ketika mendengar orang-orang yang dia selundupkan tenggelam, dan apakah dia merasa bertanggungjawab atas kematian mereka.

"Menyakitkan bagi saya ketika keluarga mereka menanyakan tentang orang-orang yang mereka cintai. Dua mayat ditemukan dari kapal [yang tenggelam], sementara dua orang masih hilang," ujar sang penyelundup.

"Mereka cukup muda dan mencari keamanan serta masa depan yang lebih baik, yang merupakan hak semua orang, saya pikir," lanjutnya.

Namun, meskipun pelaku perdagangan orang itu menunjukkan duka atas kematian mereka, dia enggan menerima tanggung jawab atas tragedi itu.

"Saya minta maaf berkali-kali kepada para keluarga, kerap kali berbicara kepada mereka," katanya.

"Tapi keluarga tahu bahwa [kematian] itu bukan niat saya - saya sudah memberitahu mereka di awal, banyak hal bisa terjadi di tengah perjalanan."

"Mereka bisa ditangkap dan dideportasi oleh polisi, diculik oleh milisi dan bahkan meninggal karena kecelakaan. Mereka telah menerima ini," tegasnya.

"Tuhan yang akan memutuskan untuk memaafkan saya atau tidak."

Kejahatan yang terorganisir

Migrants walking along the road in northern Iran towards Turkish border

Para migran harus mempersiapkan semuanya, termasuk berjalan dengan jarak yang jauh. (Getty Images)

Noor adalah satu dari sekian banyak penyelundup orang yang beroperasi secara terang-terangan di ibu kota Afghan, Kabul. Dia mengklaim memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam hal menyelundupkan orang ke Italia, Prancis, dan Inggris dengan dukungan jaringan yang sudah terbangun baik bersama para pelaku kriminal lain.

"Penyelundupan bukan bisnis perorangan, namun sebuah jaringan yang besar. Kami memiliki hubungan satu sama lain. Kendati begitu, saya tidak pergi bersama para migran - semuanya diatur melalui telepon," ujarnya.

Noor tak pernah kekurangan klien karena banyak orang Afghanistan yang putus asa dan ingin meninggalkan negara mereka: PBB mengatakan 2,7 juta orang Afghanistan saat ini tinggal di luar negeri sebagai pengungsi - dengan jumlah dibawah Suriah dan Venezuela sebagai negara sumber pengungsi.

Dengan kondisi itu, Noor tak perlu mempromosikan jasanya - para kliennya menelponnya dan dia melakukannya dengan sangat baik hanya dengan mengandalkan dari mulut ke mulut.

Para pemuda Afghanistan yang akan melakukan perjalanan selalu akan mencari penyelundup yang telah berhasil mengirim orang lain dari negara mereka, dan Noor telah melakukan bisnis ini sangat lama.

Namun hanya sebagian yang mencoba mencapai Eropa berhasil dalam upaya pertamanya, dan beberapa dari mereka bahkan menghilang selamanya.

'Kami ingin melihat jasadnya'

"Kami tahu bahwa perjalanan ini berbahaya, dan kami tidak mengantisipasinya," tutur paman Shafiullah, Sher Afzal kepada BBC.

Workers bury the bodies of unidentified victims recovered from Lake Van

Beberapa dari migran yang pergi dengan Shafiullah dimakamkan di pemakaman ini yang berada di dekan Danau Van. (Getty Images)

Dia sedang berduka, tetapi dengan rasa sedih yang aneh dan hampa tanpa kepastian - Shafiullah adalah salah satu dari mereka yang terdaftar hilang setelah tragedi di Danau Van.

"Sekarang kami ingin melihat jasadnya. Kami tidak berharap dia masih hidup," ujar Afzal.

Keluarga akan menggelar upacara peringatan bagi Shaifullah - sebelumnya sudah ada dua perayaan bagi dua migran yang jasadnya telah ditemukan.

Ayah dari penyelundup orang-orang tersebut bahkan mengunjungi keluarga bersama sekelompok tetua untuk menyampaikan belasungkawa.

Shafiullah pergi pada Juni demi kehidupan yang lebih baik di negara-negara Barat. Dia tak melihat prospek masa depan yang lebih baik di Jalalabad, yang terletak di Afghanistan bagian timur, dan menghubungi Noor agar bisa ke Italia.

Dia membayar penyelundup uang senilai US$1.000, atau sekitar Rp14,2 juta rupiah sebagai uang muka. Dia dikelompokkan dengan migran lain dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dengan mobil, truk, dan terkadang dengan berjalan kaki.

A diver looks at colleagues in the water by an overturned boat

Para migran menyeberangi Danau Van untuk menghindari blokade polisi, tapi beberapa kapal gagal melakukannya - ini adalah kapal yang tenggelam pada Desember 2019. (Getty Images)

Shafiullah menyeberangi Iran dan tiba di Turki, jarak terjauh yang ia tempuh dalam perjalanannya. Dia kemudian menelpon keluarganya dari Danau Van terjadi pada 26 Juni.

Noor mengatakan dia mengembalikan uang perjalanannya ke keluarga Syafiul - mereka mengkonfirmasikan ini ke BBC - dan kepada orang lain yang perjalanannya dipersingkat.

Bisnis yang menguntungkan

Tragedi itu menambah keraguan Noor tentang profesinya. Dia mengatakan dia tahu itu ilegal dan mengakui ada korban manusia ketika suatu hal yang buruk terjadi.

Tapi bagi Noor, tak mudah untuk meninggalkan jaringan perdagangan manusia setelah menjadi bagian dari profesi yang menguntungkan ini selama bertahun-tahun.

"Kami mengenakan biaya US$1.000 (sekitar Rp14,2 juta) untuk Afghanistan ke Turki," kata Noor.

"Dari Turki ke Serbia, biayanya US$4.000 (Rp56,7 juta). Dari sana ke Italia, kami menagih US$3.500 (Rp49,6 juta) lagi. Semuanya US$8.500 (Rp120 juta)."

Ini adalah jumlah uang yang sangat besar di negara di mana pendapatan tahunan per kapita rata-rata hanya di atas US$500 (Rp7,1 juta).

Noor mengantongi mulai dari US$3.000 (Rp42,6 juta) hingga US$3.500 (Rp49,7) untuk setiap migran yang berhasil mencapai Italia.

Noor counting cash

Penyelundupan orang telah membuat Elham Noor kaya raya, tapi dia berhati-hati untuk menyembunyikan identitasnya. (Elham Noor)

Yang harus dia lakukan adalah mengangkat telepon, mengatur pengiriman uang, dan sesekali membayar suap kepada pihak berwenang Afghanistan.

Dia tidak pernah bertemu seseorang secara langsung yang tidak dikenalnya atau kerabat dekat atau teman mereka.

Dia mengandalkan reputasinya untuk mendatangkan klien dan berhati-hati dalam berbicara dengan orang asing.

Ini adalah kehidupan yang nyaman (yang tidak mudah didapat di Afghanistan) dan ornamen kekayaan terlihat jelas - mobil, pakaian, rumah.

BBC mengetahui ada penyelundup manusia lain yang memutuskan untuk berhenti melakukan bisnis ini, tetapi kembali pada jaringan penyelundupan hanya setahun kemudian.

Rumah-rumah aman

Sang penyelundup mengakui bahwa para migran menghadapi perjalanan ilegal yang berisiko tanpa dokumen perjalanan, dan mengatakan mereka harus bersembunyi di siang hari dan baru bisa melanjutkan perjalanan pada malam hari.

Jaringannya menggunakan rumah-rumah aman yang ada di sepanjang perjalanan, seperti yang ada di kota Teheran dan Istanbul, katanya.

Mereka tak diperbolehkan membawa barang berharga seperti perhiasan atau jam tangan mahal yang bisa menarik perhatian para pencuri.

Noor biasanya berkata pada para migran untuk tidak membawa uang tunai lebih dari $100 (Rp1,4 juta).

"Saya tidak bertanggung jawab kalau mereka tertangkap polisi, tapi jika mereka diculik milisi atau kelompok bersenjata kami membayar tebusan agar mereka dilepaskan," ujar Noor.

Tergantung pada intensitas patroli polisi, perjalanan ke Turki bisa ditempuh sekitar sepekan hingga dua bulan.

Negara itu menjadi pusat dari pejalanan orang-orang Afghanistan ke Eropa.

Melarikan diri dari Taliban

Three migrants pose in a selfie on some railtracks (faces are obscured to prevent identification)Hazrat ShahHazrat Shah (kanan) melarikan diri dari Taliban di Afghanistan dan saat ini sedang dalam perjalanan ke Italia.

Salah satu migran yang berhasil mencapai Istanbul dalam perjalanannya ke Barat adalah Hazrat Shah, mantan tentara Afghanistinan.

Setelah desanya dikuasai Taliban, pria berusia 25 tahun takut akan serangan balasan terhadap keluarganya, jadi dia meninggalkan unitnya di militer dan memutuskan untuk meninggalkan negara itu.

Dia berangkat dari Nangarhar di Afghanistan timur awal tahun ini dan mengatakan kepada BBC tentang usahanya untuk mencapai Italia melalui rute yang dilaluinya.

Meskipun dia tidak dikirim oleh Noor, dia punya banyak kisah tentang penyelundup orang.

"Setelah tiba di perbatasan (antara Turki dan Iran), butuh waktu satu bulan untuk mencapai Istanbul. Saya tinggal di sana selama beberapa bulan dan bekerja di hotel demi mendapat uang untuk membayar para penyelundup," tutur Shah kepada BBC.

Rute Mediterania timur, yang melibatkan penyeberangan laut antara Turki dan Yunani, sangat populer di kalangan orang Afghanistan.

Badan perbatasan Eropa memperkirakan bahwa dalam delapan bulan pertama tahun ini, lebih dari 14.000 orang menyeberang ke Eropa melalui rute ini - dan hampir seperempat dari jumlah tersebut dianggap orang Afghanistan.

A rubber dinghy full of migrants crossing to the Greek island of Lesvos at nightGetty ImagesSebuah perahu karet penuh dengan migran menyeberang ke pulau Lesvos di Yunani pada malam hari - rute yang banyak dipilih untuk memasuki Eropa bagi para migran Afghanistan

Sangat sulit menempuh perjalanan dari Yunani ke Bosnia - Shah dideportasi beberapa kali sebelum akhirnya berhasil - tapi upayanya melanjutkan perjalanan dari Bosnia kerap menemui kegagalan.

"Itu mengerikan. Dalam upaya terakhir saya juga terluka. Polisi memukuli saya berkali-kali. Mereka mengambil sepatu dan baju hangat kami. Kami dipaska untuk kembali dalam kondisi gelap gulita. Sangat sulit untuk melaluinya," kenangnya.

'Penyelundup tak bisa membantu'

Dia tak yakin apakah dia bisa mencapai Italia, tapi Shah tidak berminat memanggil penyelundup manusia di Afghanistan untuk meminta bantuan.

Dia mengatakan mereka menghilang begitu saja saat tanda pertama ada masalah, dan banyak yang melakukan perjalanan menyesal mempercayai mereka.

"Ada kemungkinan Anda bisa mati atau terluka atau diculik di setiap tahap perjalanan - dan tidak ada yang bisa membantu Anda," katanya.

"Tidak mungkin bagi mereka (para penyelundup manusia) untuk membantu karena mereka takut pada polisi. Ini permainan kotor."

Migrants are stopped by the Bosnian police 200 metres from the borderGetty ImagesPerbatasan antara Bosnia dan Kroasia telah menyaksikan banyak konfrontasi antara polisi dan migran

Dia telah hidup dalam kondisi yang mengerikan selama berbulan-bulan dan telah melihat banyak yang meninggal dalam perjalanan.

"Anda hanya memiliki sedikit makanan dan air agar bisa bertahan hidup. Saya melihat orang-orang sekarat karena kehausan tanpa air. Migran lainnya tak bisa menolongnya karena jika Anda memberikan air kepada mereka, Anda akan menghadapi situasi yang sama."

Menurut IOM, sedikitnya 672 orang telah meninggal di Mediterania tahun ini, terutama karena mereka terpaksa menempuh perjalanan dalam kapal yang penuh sesak ketika kondisi cuaca buruk.

Yang lain, seperti Shaifullah, meninggal sebelum mencapai Mediterania, dan tidak termasuk dalam angka itu.

ShafiullahSher AfzalKeluarga Shaifullah berharap dengan membuat foto ini dipublikaskan dapat membantu identifikasi di masa mendatang.

"Banyak orang meninggal, tentu saja. Kecuali Anda benar-benar putus asa, Anda seharusnya tak menempuh perjalanan berbahaya ini sama sekali," kata Shah.

Tapi tidak Afghanistan yang tidak putus asa.

Menyusul ledakan besar di dekat kedutaan besar Jerman di Kabul pada tahun 2017 yang menewaskan sedikitnya 150 orang, sebagian besar negara Eropa menutup pusat aplikasi visa mereka di Afghanistan, yang membuat perjalanan secara legal ke Eropa menjadi sangat bermasalah.

Ini hanya meningkatkan arus klien yang mencari layanan penyelundup seperti Noor, terlepas dari risikonya.

Dari migran menjadi penyelundup

Noor sendiri dulu menghadapi situasi yang sama.

Seperti orang-orang lainya, dia bermimpi memiliki kehidupan yang nyaman di Inggris dan menempuh perjalanan yang sama ketika dia berusisa 14 tahun. Ayahnya membayar $5,000 (Rp71 juta) untuk penyelundup.

Migrants cycle through smoke from a fire burning rubbish at the Jungle migrant camp on September 6, 2016 in Calais, France.Getty ImagesNoor memperkenalkan migran kepada penyelundup di kamp migran 'Hutan Calais', yang dibongkar pada Oktober 2016

"Saya masih ingat kesulitan yang saya hadapi dalam perjalanan saya, terutama di Bulgaria di mana kami disembunyikan di dalam kereta api - Saya bahkan dipaksa untuk lompat dari kereta yang berjalan," kenang Noor.

Dia melihat banyak kematian sebelum akhirnya berhasil mencapai kota Calais di pesisir Prancis. Di sana, dia melihat kesempatan untuk menghasilkan uang dengan mudah.

"Saya memperkenalkan migran kepada penyelundup lain di kamp Calais. Saya diberi komisi 100 Euro (Rp1,6 juta)per migran."

Begitulah cara Noor memulai bisnis perdagangan manusia.

Dia mencapai Inggris secara ilegal dan terus bekerja dengan penyelundup. Namun dia mengatakan dia kembali ke Afghanistan pada usia 21 tahun karena dia menyadari polisi sedang mencarinya.

"Karena saya sudah terkenal saat melakukan bisnis ini dari Inggris, banyak yang mendekati saya dan meminta bantuan saya setelah saya kembali," katanya.

Beberapa migran yang berhasil tiba di Eropa melalui jaringan Noor memberi tahu orang lain. Itu membuat reputasi Noor dan jaringannya terus berkembang.

"Terlepas dari ketidakpastian dari rute yang sulit, orang-orang tetap mempercayai saya untuk membawa mereka keluar dari negara ini," kata dia.

Sebanyak 100 orang dari mereka yang mempercayakan Noor untuk mengirim mereka dengan selamat demi kehidupan yang lebih baik, saat ini sedang dalam perjalananya, namun Noor berkata ini akan menjadi terakhir kalinya dia melakukannya.

Dia mengatakan berhenti dari bisnisnya selamana setelah dia mendapat kabar bahwa mereka selamat tiba di tujuan mereka.

Di ujung jalan?

Tragedi di Danau Van telah menggoyahkan hati nurani Noor.

Dia mengatakan bahwa empat orang yang berada di kapal yang terbalik itu adalah klien-klien yang meninggal dunia dalam aktivitasnya selama bertahun-tahun sebagai pedagang manusia, dan hal itu telah menyebabkan perselisihan dan masalah dengan keluarganya.

Noor with his back to the cameraElham NoorNoor berharap untuk melepaskan diri dari bisnis penyelundupan manusia

Sekarang dia ingin keluar, dan berpikir bahwa dia bisa mengakhiri urusannya dengan penyelundupan manusia akhir tahun ini.

Namun, seorang rekannya mengatakan kepada BBC bahwa dia terkejut dengan keputusan Noor, dan menurutnya penyelundup itu akan kesulitan untuk meninggalkan bisnisnya.

Orang-orang akan terus meneleponnya selama bertahun-tahun yang akan datang, dan kesempatan untuk menghasilkan uang tidak akan hilang begitu saja begitu dia berhenti.

Masih harus dilihat apakah Noor bisa keluar dari bisnisnya, tetapi dengan atau tanpa dia, lalu lintas manusia pasti akan terus berlanjut.

Di Jalalabad, persiapan sudah dilakukan. Meskipun mengetahui apa yang terjadi pada Shafiullah, dua kerabatnya akan melakukan perjalanan berbahaya ini, berharap bisa sampai ke Eropa.

(ita/ita)