Presiden Iran Sebut Trump Dilengserkan Secara Hina

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 12 Nov 2020 09:08 WIB
Jakarta -

Ketika para pemimpin dunia memberi ucapan selamat kepada presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, Presiden Iran Hassan Rouhani justru memberikan penilaian atas kekalahan Presiden Donald Trump.

Dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung oleh televisi Iran, Hassan Rouhani mengejek Trump yang kalah dalam pemilihan presiden.

"Rezim yang memimpikan kehancuran Iran dengan sendirinya dilengserkan secara hina, dan sekarang semua negara - kecuali beberapa yang selalu membuntuti rezim tersebut - melihat keadaan yang berbeda di masa depan," kata Rouhani, Rabu (11/11).

Lebih lanjut Presiden Rouhani mengatakan pemerintahan Trump adalah "aktor yang menjengkelkan yang mempunyai peran negatif" terkait hubungan Iran dengan negara-negara tetangganya.

"Rezim yang akan berakhir dalam hitungan bulan ini tidak tahu banyak tentang hubungan internasional dan didikte oleh ekstremis dalam negeri dan rezim Zionis (Israel)."

Pada bagian lain, Rouhani menegaskan siapa pun yang menjadi presiden AS tidak akan mengubah kebijakan Iran dan tergantung pada AS apakah akan menempuh jalur diplomasi atau tidak, termasuk apakah AS akan kembali ke perjanjian nuklir antara Iran dan beberapa negara besar lainnya yang diraih pada tahun 2015.

"Ini tergantung mereka. Jika mereka memenuhi tanggungjawab maka mereka bisa memilih jalur baru," kata Rouhani.

Di antara pemimpin negara penting yang baru belakangan memberikan ucapan selamat kepada Joe Biden adalah presiden Turki.

"Saya sampaikan ucapan selamat atas keberhasilan Anda dan saya sampaikan doa tulus bagi perdamaian dan kesejahteraan rakyat Amerika," kata Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (10/11).

Lebih dari itu, Erdogan mengatakan pihaknya ingin "lebih lanjut mengembangkan dan memperkuat" hubungan.

Biden pernah menggambarkan Erdogan "autokrat" dan Erdogan membalas komentar itu dengan menyebut Biden "suka mengintervensi".

Setelah kepastian kemenangan Biden, Wapres Turki, Fuat Oktay, mengatakan kemenangan Biden tak akan mengubah hubungan antara Ankara dan Washington.

Meski demikian, kata Oktay, Turki akan tetap menekan Amerika untuk sejumlah isu penting, seperti Suriah.

Sejauh ini pemimpin China dan Rusia belum memberikan selamat kepada Joe Biden dengan alasan masih menunggu proses hukum yang ditempuh Presiden Trump terkait hasil pemilihan presiden.

Dalam beberapa bulan terakhir, AS terlibat perang dagang dengan China, sementara Rusia dituduh mengintervensi pilpres AS pada 2016.

Ucapan selamat dari kepala negara-negara lain

Dalam beberapa hari ini, banyak orang di seluruh dunia menyaksikan persaingan sengit untuk mendapatkan jabatan di Gedung Putih.

Presiden baru yang terpilih tidak hanya berdampak pada AS, tapi juga kebijakan luar negeri negara itu serta pendekatannya terhadap para mitra dan lawan-lawannya.

Tim kampanye Trump telah memberi sinyal bahwa kandidat mereka tidak berencana mengakui kekalahan.

Tapi ini tidak menghentikan beberapa pemimpin negara di seluruh dunia memberikan ucapan selamat kepada Biden dan Harris sejak media memberitakan kemenangan pasangan kandidat dari partai Demokrat itu, setelah perolehan suara elektoralnya diproyeksikan melampaui ambang batas 270.

Berikut ini beberapa reaksi pemimpin dunia:

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bergabung dengan jajaran pemimpin dunia yang mengucapkan selamat kepada Joe Biden dan Kamala Harris atas kemenangan mereka dalam Pilpres AS 2020.

Ucapan selamat pemerintah Indonesia ditulis oleh Presiden Joko Widodo melalui akun Instagram, hari Minggu (08/11).

"Ucapan selamat terhangat untuk Joe Biden dan Kamala Harris atas kemenangan kalian yang bersejarah. Tingginya partisipasi pemilih adalah cerminan dari harapan pada demokrasi," kata Jokowi dalam bahasa Inggris.

"[Saya] menanti kerja sama yang erat dengan Anda dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS dan mendorong kerja sama kita dalam ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk manfaat kedua rakyat kita dan lebih dari itu," imbuh Jokowi.

https://www.instagram.com/p/CHUMXivBYZY/?utm_source=ig_web_copy_link

Macron, Merkel dan Trudeau

Macron, Merkel dan Trudeau merupakan sebagian pemimpin dunia yang langsung memberikan selamat kepada Joe Biden dan Kamala Harris. (Reuters)

Sekitar 12 jam setelah proyeksi kemenangan Biden-Harris, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengucapkan selamat kepada Joe Biden, serta mengucapkan terima kasih kepada Donald Trump untuk empat tahun ke belakang.

Netanyahu berkata bahwa ia dan Biden telah menjalin hubungan pribadi yang "hangat" selama hampir 40 tahun, dan menyebut sang presiden terpilih "teman baik Israel".

"Saya menantikan kerja sama dengan kalian berdua (Biden dan Harris) untuk memperkuat aliansi spesial antara AS dan Israel," imbuhnya.

Adapun kepada Presiden Trump, Netanyahu berterima kasih atas "persahabatan" yang telah ditunjukkan kepada negara Israel dan kepadanya sebagai pribadi. Ia juga berterima kasih atas berbagai kebijakan pemerintahan Trump yang memihak Israel, antara lain mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel serta membantu normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara di Liga Arab termasuk UEA dan Bahrain.

https://twitter.com/netanyahu/status/1325302956363812864?s=20

https://twitter.com/netanyahu/status/1325306327476867078?s=20

Ucapan selamat juga datang dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang terutama menyebut terpilihnya Kamala Harris sebagai wakil presiden "pencapaian historis".

Ucapan yang secara khusus ditujukan kepada Harris juga disampaikan PM India Narendra Modi dan PM Jamaika Andrew Holness. Seperti diketahui, sang politikus Demokrat lahir di Oakland, California, dari dua orang tua imigran: seorang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika.

"Kesuksesan Anda membuka jalan, dan merupakan kebanggaan tidak hanya bagi chitti Anda, tapi juga bagi semua warga India-Amerika. Saya yakin bahwa hubungan India-AS yang bergairah akan semakin kuat dengan dukungan dan kepemimpinan Anda," kata Modi, menggunakan kata chitti yang berarti "bibi" untuk menekankan hubungan uniknya sebagai orang India dengan Harris.

"Amerika akan punya wakil presiden perempuan pertama dalam sosok Kamala Harris, dan kami bangga ia memiliki darah Jamaika," kata PM Andrew Holness.

"Kenaikannya sampai peran ini adalah pencapaian monumental bagi perempuan di seluruh dunia dan saya memberi hormat kepadanya."

Pemimpin negara tetangga paling dekat dengan Amerika Serikat (AS), Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan ia "benar-benar menantikan" untuk bekerja sama dengan Biden dan wakil presiden Kamala Harris, dan menggarisbawahi hubungan dekat antara kedua negara.

https://twitter.com/JustinTrudeau/status/1325121342568505346

Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan selamat kepada Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris.

"Saya menanti-nantikan kerja sama di masa depan dengan Presiden Biden," kata Merkel pada Sabtu (07/11).

"Persahabatan trans-Atlantik kami tidak tergantikan jika kami ingin mengatasi tantangan-tantangan besar di sekarang ini."

Tak lupa, Merkel, pemimpin perempuan pertama di Jerman, menekankan bahwa Kamala Harris tercatat sebagai wakil presiden perempuan terpilih pertama di AS.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mencuit ucapan selamatnya. "Kita menghadapi banyak tantangan dewasa ini. Mari bekerja bersama-sama".

Dari Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson juga menyampaikan selamat kepada Joe Biden kemenangannya dalam pemilihan presiden AS dan kepada Kamala Harris atas pencapaiannya, seraya menekankan pentingnya hubungan Inggris-AS.

"Amerika Serikat adalah sekutu paling penting kami dan saya menanti-nantikan bekerja erat dalam masalah-masalah prioritas bersama,mulai dari perubahan iklim hingga perdagangan dan keamanan."

Sedangkan pemimpin Partai Buruh dan pemimpin oposisi Inggris, Keir Starmer mengatakan Biden melakukan kampanye berlandaskan "nilai-nilai yang sama-sama dianut di Inggris - kesopanan, integritas, belas kasih dan kekuatan".

Perdana Menteri Irlandia Michel Martin menyebut Demokrat, partai yang mengusung Biden, sebagai "kawan sejati bagi bangsa ini". Nenek moyang Biden berasal dari Irlandia.

https://twitter.com/MichealMartinTD/status/1325115676873388035

Tak semua pemimpin dunia ucapkan selamat

Ketika sebagian besar pemimpin dunia memberikan sambutan hangat atas kemenangan Biden, reaksi dingin disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.

Ayatollah Khamenei mengejek demokrasi ala Amerika Serikat dengan mengatakan, "Situasi di AS dan apa yang mereka katakan sendiri tentang pemilu adalah pertunjukkan besar! Ini adalah contoh dari wajah buruk demokrasi liberal di AS."

"Terlepas dari hasilnya, satu hal benar-benar jelas yaitu kemunduran politik, sipil, dan moral dari rezim AS."

Adapun Perdana Menteri Slovenia Janez Jana, yang awal pekan ini tercatat sebagai salah satu segelintir pemimpin dunia yang secara terbuka mendukung Presiden Trump - dengan mengatakan presiden petahana telah memenangi pemilihan ketika penghitungan suara masih berlangsung - sejauh ini diam.

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador berkata masih terlalu dini untuk mengucapkan selamat. Ia ingin mengunggu semua "masalah hukum" diselesaikan, merujuk pada gugatan hukum yang diajukan tim kampanye Trump, atas tuduhan ketidakberesan dalam penghitungan suara. Trump belum memberikan bukti atas klaim tersebut.

"Kami akan berhati-hati," kata sang presiden kepada wartawan pada hari Sabtu (07/11).

"Kami tidak mau bertindak sembrono dan kami ingin menghormati hak-hak rakyat [Amerika]," imbuhnya.

Hingga Minggu (08/11) sore, belum ada reaksi dari Rusia.

Demikian pula pemimpin China belum memberikan pernyataan resmi, tetapi media pemerintah setempat pada umumnya menyambut kemenangan Biden dengan optimisme yang hati-hati seperti Global Times dan People's Daily.

https://twitter.com/PDChina/status/1325113686462181379

Masyarakat dunia selalu mempunyai minat besar terhadap pemilu Amerika Serikat, terlebih tahun ini ketika Donald Trump berpotensi tercatat sebagai presiden pertama sejak awal tahun 1990-an yang menjabat untuk satu periode saja.

Tonton video 'Reaksi Iran di Pilpres AS 2020':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)