Tokoh Penting Meninggal karena Corona, Palestina Berkabung 3 Hari

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 13:50 WIB
Saeb Erekat merupakan tokoh penting Palestina dalam 30 tahun terakhir. (Reuters)
Jakarta -

Salah seorang tokoh politik penting Palestina dalam 30 tahun terakhir, Saeb Erekat meninggal dunia dalam usia 65 tahun, setelah terkena Covid-19.

Erekat meninggal di rumah sakit Israel di Yerusalem, tempat ia dirawat dalam sekitar satu bulan terakhir.

Kondisinya sempat dilaporkan kritis setelah terinfeksi Covid-19 dan dirawat dengan bantuan ventilator, menurut rumah sakit Israel.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menggambarkan kematiannya merupakan kehilangan besar bagi rakyat Palestina dan menetapkan hari berkabung selama tiga hari.

Sejumlah tokoh Israel yang bekerja sama dengan Erekat dalam perundingan, menyatakan duka.

Pejabat itu termasuk mantan menteri luar negeri Tzip Livni dan mantan menteri Yossi Beilin.

Saeb Erekat menjadi juru runding dalam pembicaraan dengan Israel selama lebih dari dua dekade, dan memperjuangkan negara Palestina secara penuh.

Erekat termasuk salah seorang pencetus perjanjian Oslo 1995, perjanjian damai pertama antara Israel dan Palestina.

Ia juga sangat menentang rencana perdamaian Presiden Donald Trump terkait Timur Tengah.

Erekat pernah menjabat sebagai sekretaris jendral Organisasi Pembebasan Palestina, PLO dan anggota faksi terkuat Palestina, Fatah.

Dibawa ke rumah sakit bulan lalu

Pada pertengahan Oktober lalu, Erekat dilarikan ke rumah sakit Hadassah di Yerusalem dari rumahnya di Jericho, Tepi Barat, kawasan yang diduduki.

Saat itu kondisinya digambarkan "serius tapi stabil" dan dia diberi oksigen tambahan.

"Karena kesulitan bernafas, ia ditempatkan dengan bantuan ventilator dan secara medis dibuat koma," kata rumah sakit pada pertengahan Oktober.

Rumah sakit yang merawat Erekat mengatakan kondisinya "merupakan tantangan besar" karena ia pernah menjalani transplantasi paru-paru tiga tahun lalu dan memiliki "sistem kekebalan lemah serta mengalami infeksi bakteri, selain terkena virus corona."

Erekat adalah sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, dan menjabat sebagai penasihat Presiden Mahmoud Abbas dan menjadi juru runding Palestina selama sekitar 25 tahun.

Ia mengumumkan tanggal 9 Oktober lalu bahwa ia dinyatakan positif terkena Covid-19.

Melalui cuitannya ia mengatakan bahwa ia mengalami "gejala berat karena kurangnya kekebalan akibat transplantasi paru". Namun ia menambahkan bahwa "semuanya terkendali. Alhamdulilah."

Hari Minggu (18/10), PLO mengatakan ia dipindahkan ke Hadassah Medical Centre karena "masalah kronis yang ia hadapi dalam sistem pernapasan."

Para saksi mata mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka melihat Erekat dipandu ke luar rumahnya di Jericho, dan ditempatkan di ambulans Israel.

Saudara kandung laki-lakinya mengatakan kepada kantor berita AFP, "Kondisinya tidak bagus."

Direktur Hadassah Medical Centre, Prof Zeev Rothstein, mengatakan, "Erekat mendapat perawatan profesional utama seperti halnya pasien serius virus corona di Hadassah, dan staf akan melakukan apapun untuk membantu pemulihannya."

"Di Hadassah, kami merawat setiap pasien, seolah dia adalah pasien satu-satunya," tambahnya.

Sejak pandemi terjadi, lebih dari 58.000 orang dipastikan terinfeksi virus corona di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serta Jalur Gaza, dan 478 orang meninggal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara Israel mengumumkan lebih dari 303.000 kasus dan 2.209 orang meninggal.

Pemerintah Israel melonggarkan karantina nasional kedua yang diterapkan selama satu bulan, setelah memastikan ada penurunan kasus.

Warga Israel kini diizinkan untuk keluar rumah lebih dari satu kilometer untuk membeli keperluan penting. Restoran telah dibuka untuk menerima pesanan.

Pantai dan taman nasional juga telah dibuka untuk pengunjung.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Kamis (15/10), langkah yang diambil "berhasil" namun mengatakan langkah membuka pembatasan wilayah perlu dilakukan "bertahap, berhati-hati dan bertanggung jawab."

(ita/ita)