Armenia-Azerbaijan-Rusia Sepakat Berdamai Atas Sengketa Nagorno-Karabakh

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 13:59 WIB
Kesepakatan muncul setelah enam minggu pertempuran antara Azerbaijan dan separatis Armenia di wilayah yang disengketakan. (Reuters)
Moskow -

Armenia, Azerbaijan, dan Rusia menandatangani perjanjian untuk mengakhiri konflik militer atas wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.

Perdana Menteri (PM) Armenia, Nikol Pashinyan, menyebut kesepakatan itu "sangat menyakitkan bagi saya dan rakyat kami".

Perjanjian itu disepakati setelah enam minggu pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia.

Wilayah itu diakui secara internasional sebagai bagian Azerbaijan, tetapi telah dikendalikan oleh etnis Armenia sejak 1994.

Pada tahun itu, gencatan senjata ditandatangani menyusul pertempuran, namun tidak ada kesepakatan damai.

Sejumlah perjanjian gencatan senjata telah ditengahi sejak pertempuran pecah lagi pada bulan September, tetapi semuanya gagal.

Apa yang sudah disepakati?

Kesepakatan damai itu mulai berlaku pada Selasa (10/11) dari pukul 01:00 waktu setempat.

Berdasarkan kesepakatan baru tersebut, Azerbaijan akan mempertahankan wilayah Nagorno-Karabakh yang telah direbut selama konflik.

Armenia juga setuju untuk menarik diri dari beberapa daerah lain yang berdekatan selama beberapa minggu ke depan.

Saat pidato daring yang disiarkan televisi, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa 1.960 penjaga perdamaian Rusia akan dikerahkan untuk berpatroli di garis depan.

Turki juga akan mengambil bagian dalam proses pemeliharaan perdamaian, menurut Presiden Azeri Ilham Aliyev, yang bergabung dengan Presiden Putin selama pidatonya.

Presiden Putin mengatakan perjanjian itu akan mencakup pertukaran tawanan perang, disertai "semua kontak ekonomi dan transportasi tidak akan diblokir."

Bagaimana reaksi dari kesepakatan?

Presiden Aliyev mengatakan perjanjian itu "penting secara historis", dan berujung pada "penyerahan" oleh Armenia.

Perdana Menteri Armenia Pashinyan mengatakan bahwa keputusannya didasarkan pada "analisis mendalam tentang situasi pertempuran dan dalam diskusi dengan para ahli terbaik di lapangan".

A still image taken from video footage published 20 October 2020 on the official website of the Azerbaijan's Defence Ministry shows allegedly artillery units of the Azerbaijani army fire during military combat with forces of the Nagorno-Karabakh

Pasukan separatis Armenia terus kehilangan wilayahnya kepada Azerbaijan sejak pertempuran pecah. (EPA)

"Ini bukan kemenangan, tapi tidak ada kekalahan sampai Anda menganggap diri Anda kalah," kata Pashinyan.

Pemimpin etnis Armenia di Nagorno-Karabakh, Arayik Harutyunyan, mengatakan dia memberikan persetujuannya "untuk mengakhiri perang secepat mungkin".

Di ibu kota Armenia, Yerevan, kerumunan besar berkumpul untuk memprotes kesepakatan tersebut, menurut media lokal.

Apa yang terjadi selama konflik?

Pihak Armenia terus kehilangan wilayah dan selama akhir pekan lalu, pasukan Azeri mengambil alih kota terbesar kedua di wilayah itu, Shusha, yang dikenal sebagai Shushi di Armenia.

Azerbaijan juga mengaku telah salah menembak jatuh helikopter militer Rusia di atas wilayah Armenia, yang menewaskan dua awak pesawat dan melukai yang ketiga.

People attend the funeral of seven-year-old Aysu Iskenderova who was killed on 27 October allegedly by Armenian shelling, in the village of Garayusifli near Barda, Azerbaijan, 28 October 2020. Armed clashes erupted on 27 September 2020 in the simmering territorial conflict between Azerbaijan and Armenia over the Nagorno-Karabakh territory along the contact line of the self-proclaimed Nagorno-Karabakh Republic

Kedua belah pihak saling menuduh melakukan penembakan di wilayah sipil (EPA)

Tidak jelas persis berapa banyak yang tewas selama konflik berjalan. Kedua belah pihak menyangkal menargetkan warga sipil tetapi menuduh pihak seberang melakukannya.

Otoritas Nagorno-Karabakh mengatakan hampir 1.200 pasukan pertahanannya tewas dalam pertempuran itu, dan warga sipil juga tewas atau terluka.

Azerbaijan belum merilis angka korban militernya tetapi mengatakan lebih dari 80 warga sipil tewas dalam pertempuran itu - termasuk 21 orang dalam serangan rudal di kota Barda bulan lalu.

Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu mengatakan bahwa hampir 5.000 orang tewas dalam pertempuran itu.

Bagaimana konteks geopolitik di Kaukasus Selatan?

Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia, dan kedua negara tersebut adalah anggota Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif yang dipimpin Moskow.

Perjanjian tersebut menyiapkan dukungan militer Rusia jika Armenia diserang - tetapi tidak termasuk Nagorno-Karabakh atau wilayah Azerbaijan lain di sekitarnya yang direbut oleh pasukan Armenia.

Pada saat yang sama, Moskow juga memiliki ikatan yang kuat dengan Azerbaijan, yang secara terbuka didukung oleh Turki, salah satu anggota NATO.

Rusia telah menjual senjata ke Armenia dan Azerbaijan.

Nagorno-Karabakh conflict map

BBC

(nvc/nvc)