Suu Kyi Diprediksi Menangkan Pemilu Myanmar, Rohingya Tak Bisa Berikan Suara

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 11:13 WIB
Jakarta -

Penghitungan hasil pemilu Myanmar sedang berlangsung dan Aung San Suu Kyi diprediksi akan menang, meski sebagian wilayah termasuk daerah etnis Rohingya di Rakhine tidak menyelenggarakan pemungutan suara karena alasan keamanan.

Myanmar menyelenggarakan pemilu pada Minggu (08/11) lalu, yang merupakan kali kedua sejak pemerintahan militer berakhir pada 2011.

Jutaan orang memberikan suara dan Suu Kyi diprediksi akan menang telak. Hasil pemilihan diharapkan akan diumumkan paling cepat Senin (09/11) ini.

Suu Kyi mendominasi pemilihan sebelumnya dengan kemenangan telak dan ia berbagi kekuasaan dengan para jenderal yang masih memegang kekuasaan besar.

Pada Minggu (08/11) malam, ribuan pendukung Suu Kyi berkumpul di luar markas partainya sambil mengibarkan bendera dan bernyanyi.

Voters queue up to cast their ballots in Yangon, Myanmar

Para pemilih mengenakan masker saat mereka memberikan suara mereka di ibu kota Yangon. (Reuters)

Terlepas dari popularitas Suu Kyi, pamor internasional pemenang Hadiah Nobel dan ikon global itu telah secara dramatis jatuh akibat tanggapannya terhadap krisis Rohingya.

Ratusan ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari penumpasan tentara pada tahun 2017 dalam apa yang digambarkan PBB sebagai pembersihan etnis. Tentara di Myanmar mengatakan mereka menargetkan militan.

Para pengamat mempertanyakan kredibilitas pemilu karena pencabutan hak pilih dari hampir semua Rohingya.

Pemungutan suara dibatalkan di sebagian besar negara bagian yang dilanda konflik termasuk Rakhine, Shan dan Kachin - daerah etnis minoritas - karena para pejabat mengutip masalah keamanan.

Suu Kyi, 75, memberikan suaranya pekan lalu ketika negara itu mengadakan pemungutan suara terlebih dahulu untuk orang tua dalam upaya melindungi mereka dari virus corona.

Penantang utama partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang didirikan Suu Kyi adalah Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan sokongan militer, yang bersama dengan 23 partai oposisi lainnya telah menyerukan agar pemungutan suara ditunda karena lonjakan kasus Covid-19.

Tetapi dalam sebuah siaran pada Oktober lalu, Suu Kyi mengatakan pemilihan itu "lebih penting daripada Covid".

Dia telah mendesak orang-orang untuk memilih saat dia mencoba untuk mempertahankan mayoritas mutlak partainya.

Pemungutan suara dibuka pada pukul 06:00 waktu setempat dan ditutup pada pukul 16:00, meskipun orang-orang yang masih mengantre pada waktu itu diizinkan untuk memberikan suara.

Mengapa etnis Rohingya tidak bisa memilih?

Hak pilih para penduduk minoritas Rohingnya dicabut menjelang pemilihan umum pada 2015 setelah dokumen sementara yang dipegang banyak orang tidak lagi dianggap valid.

Lebih dari 740.000 telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak tindakan keras tentara pada 2017, tetapi beberapa ratus ribu lainnya masih tinggal di negara bagian Rakhine barat.

Pada bulan September, penyelidik hak asasi manusia PBB untuk Myanmar mengatakan pemilihan sulit bebas dan adil karena pencabutan hak pilih dari sebagian besar minoritas Muslim.

Keturunan etnis Rohingya, yang dapat ditelusuri kembali nenek moyang mereka di Rakhine selama berabad-abad, digambarkan sebagai salah satu minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Tetapi pemerintah Myanmar, yang mayoritas beragama Buddha, tidak mengakui Rohingya, menyangkal kewarganegaraan mereka, dan mencemooh mereka sebagai "imigran ilegal" dari Bangladesh.

Pada bulan Januari, pengadilan tinggi PBB memerintahkan negara tersebut untuk mengambil tindakan untuk melindungi Rohingya dari genosida.

Suu Kyi menolak tuduhan genosida tersebut sambil mengatakan bahwa kejahatan perang mungkin telah dilakukan.

Awal tahun ini, enam dari setidaknya 12 orang Rohingya yang mengajukan diri sebagai kandidat dalam pemilu dilarang mencalonkan diri.

Bagaimana cara kerja pemilu?

Tempat pemungutan suara dibuka pada hari Minggu dengan sejumlah tindakan khusus untuk mencegah penularan virus - seperti pemeriksaan suhu dan penyediaan pembersih tangan.

Pemilihan sedang berlangsung untuk majelis tinggi dan rendah dari pemerintah nasional, negara bagian dan daerah.

Sebanyak 1.171 kursi sedang diperebutkan, kata Carter Center yang berbasis di AS, di bawah sistem first-past-the-post.

A woman in a mask, hair net and wearing gloves puts her vote in a ballot box while holding her child in Myanmar

Ini merupakan pemilihan umum kedua sejak berakhirnya kekuasaan militer pada tahun 2011. (Reuters)

Para pemilih dapat memilih lebih dari 6.900 kandidat dari 92 partai politik dan kandidat independen, tambahnya.

Tapi seperempat kursi parlemen dicadangkan untuk militer sesuai konstitusi tahun 2008 yang kontroversial yang dibentuk selama pemerintahan junta militer.

Konstitusi itu juga memberikan kendali militer atas tiga kementerian utama - urusan dalam negeri, pertahanan, dan urusan perbatasan.

Siapa lagi yang tidak bisa memberikan suara?

Pada bulan Oktober, komisi pemilihan Myanmar membatalkan pemungutan suara di sebagian besar negara bagian Rakhine - tempat pertempuran antara militer dan Tentara Arakan, yang sebagian besar terdiri dari kelompok etnis Buddha Rakhine, telah menewaskan puluhan orang dan membuat puluhan ribu lainnya mengungsi.

Ia juga membatalkan pemilihan di beberapa bagian negara bagian yang dilanda konflik termasuk Shan dan Kachin, dengan mengatakan bahwa beberapa daerah "tidak dalam posisi untuk mengadakan pemilihan yang bebas dan adil".

Pembatalan massal itu membuat marah partai-partai etnis minoritas dan berarti ada hampir dua juta orang dicabut haknya di negara dengan sekitar 37 juta pemilih terdaftar.

Tonton juga video 'Pembelaan Suu Kyi di Mahkamah Internasional':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)