Azerbaijan Rebut Kota Penting dalam Pertempuran dengan Armenia

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 10:07 WIB
Perebutan wilayah yang disengketakan di Nagorno-Karabakh tersebut pecah pada akhir September lalu. (EPA)
Jakarta -

Azerbaijan telah merebut salah satu kota penting di wilayah separatis Nagorno-Karabakh, menurut presiden negara itu.

Ilham Aliyev mengumumkan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu (08/11) bahwa pasukan Azerbaijan telah merebut Shusha, atau dikenal sebagai Shushi dalam bahasa Armenia.

Namun, Armenia membantah pengambilalihan kota itu dan mengatakan pertempuran masih berlangsung.

Merebut kota yang penting secara strategis itu dapat menjadi kemenangan besar bagi Azerbaijan dalam konflik atas wilayah yang disengketakan itu.

Nagorno-Karabakh secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, namun berada di bawah pengendalian etnis Armenia dan didukung pemerintah Armenia.

Perang antara kedua negara atas wilayah itu berakhir pada 1994 dengan gencatan senjata namun tanpa kesepakatan perdamaian.

Pertempuran dimulai kembali pada bulan September lalu, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan atas pecahnya kekerasan.

Apa yang terbaru di lapangan?

Shusha terletak di daerah perbukitan di atas ibu kota wilayah itu, Stepanakert (dikenal sebagai Khankendi di Azerbaijan), dan berada di jalan yang menghubungkan kota dengan wilayah Armenia. Jika direbut, kota itu bisa berfungsi sebagai pos persiapan penyerangan ibu kota.

Presiden Aliyev mengatakan "pembebasan" Shusha akan "dicatat dalam sejarah rakyat Azerbaijan".

"Tidak ada kekuatan di dunia yang dapat menghentikan kami," katanya, dan berjanji untuk merebut kembali Nagorno-Karabakh untuk negaranya.

Dalam sebuah wawancara sebelum perkembangan terbaru dari Susha, Aliyev mengatakan kepada wartawan BBC Orla Guerin bahwa Armenia sudah kehabisan waktu.

"Peluang mereka untuk berkompromi terus menyusut karena kami sedang merebut kembali wilayah-wilayah itu secara paksa," katanya.

Azerbaijan teru melaju memasuki Nagorno-Karabakh dalam beberapa pekan terakhir, seperti yang ditunjukkan peta BBC pada 27 Oktober.

A map showing where fighting has been taking place in and around the disputed territory of Nagorno-KarabakhBBC

Namun Armenia membantah kota itu telah direbut. "Pertempuran di Shushi berlanjut, tunggu dan percayalah pada pasukan kami," tulis pejabat kementerian pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan di Facebook.

Dan David Babayan, penasihat kebijakan luar negeri untuk presiden Arayik Harutyunyan, yang mendeklarasikan sendiri sebagai presiden Nagorno-Karabakh, mengatakan kepada BBC: "Kami dapat mengatakan bahwa Shushi adalah medan perang dan ada pasukan Azeri dan pasukan Karabakh di sana, yang saling berperang untuk setiap gedung."

Sebelum pengumuman Azerbaijan, juru bicara kementerian pertahanan Armenia, Shushan Stepanyan, menulis bahwa "pertempuran paling ganas" telah terjadi di sekitar Shusha semalam.

Dia mengatakan sejumlah tentara Azerbaijan, tank, dan kendaraan lain hancur dalam pertempuran itu.

Shusha memiliki makna bagi kedua sisi. Penduduknya sebagian besar adalah orang Azerbaijan sebelum perang pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang memaksa ratusan ribu orang mengungsi.

Bagi orang Armenia, kota itu menampung Katedral Ghazanchetsots (Juruselamat Suci), sebuah situs ikonik untuk Gereja Apostolik Armenia. Armenia menuduh Azerbaijan menargetkan gedung itu bulan lalu.

Kedua belah pihak menyangkal menargetkan warga sipil tetapi saling menuduh pihak seberang melakukannya.

Tidak jelas persis berapa banyak orang yang tewas. Otoritas Nagorno-Karabakh mengatakan hampir 1.200 pasukan pertahanannya tewas dalam pertempuran itu, dan warga sipil juga terbunuh atau terluka di sana.

Azerbaijan belum merilis angka korban militernya tetapi mengatakan lebih dari 80 warga sipil tewas dalam pertempuran itu - termasuk 21 orang dalam serangan rudal di kota Barda bulan lalu.

Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu mengatakan bahwa hampir 5.000 orang tewas dalam pertempuran itu.

Bagaimana reaksi sejauh ini?

Orang-orang turun ke jalan di ibu kota Azerbaijan, Baku, untuk merayakan, membunyikan klakson mobil, meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera nasional.

https://twitter.com/Ozkok_A/status/1325387282506010625

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memberi selamat kepada "saudara-saudara Azeri saya", dan mengatakan kepada kerumunan di provinsi Kocaeli Turki bahwa menurutnya apa yang terjadi di Shusha adalah "sebuah tanda bahwa sisa tanah yang diduduki akan segera dibebaskan juga".

Azerbaijan adalah sekutu Turki, dan Erdogan telah menjanjikan dukungan penuh negaranya untuk Azerbaijan dalam konflik tersebut.

Pada hari Sabtu, presiden Turki mengatakan kepada presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa Armenia harus mundur dari tanah Azerbaijan dan "harus diyakinkan untuk duduk di meja perundingan".

Sebuah pernyataan dari Kremlin sebut Putin telah mengatakan kepada Erdogan bahwa dia telah berbicara dengan para pemimpin, baik dari Armenia maupun Azerbaijan, dengan fokus pada "menemukan opsi untuk penghentian segera permusuhan dan penyelesaian secara politik dan diplomatik".

Kekuatan-kekuatan internasional telah berulang kali mencoba untuk menengahi gencatan senjata dalam beberapa pekan terakhir.

Rusia - yang bersekutu dengan Armenia tetapi memiliki hubungan dekat dengan Azerbaijan - merundingkan dua gencatan senjata bulan lalu yang keduanya segera gagal, sementara kedua belah pihak menuduh yang lain melanggar gencatan senjata yang ditengahi AS yang diumumkan pada 25 Oktober dalam beberapa menit setelah diberlakukan.

(ita/ita)