Polisi Pakistan Selamatkan Bocah 13 Tahun yang Dipaksa Menikah

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 16:04 WIB
Menurut sebuah penelitian PBB, hampir seperempat wanita berusia awal 20-an di Pakistan menikah pada usia 18 tahun (Getty Images)
Jakarta -

Seorang anak perempuan beragama Kristen berusia 13 tahun di Pakistan yang diduga diculik dan dipaksa untuk pindah agama kemudian menikah dengan seorang pria Muslim telah diselamatkan, kata pihak berwenang.

Perempuan itu dibebaskan setelah hampir satu bulan sejak orang tuanya menuduh dia diculik oleh Ali Azhar, 44 tahun.

Pengadilan sebelumnya gagal bertindak lebih cepat karena mereka menerima pernyataan dari perempuan itu yang mengatakan bahwa ia berusia 18 tahun dan menikah atas kemauannya sendiri.

Akan tetapi tekanan dari kelompok aktivis dan protes dari publik mendorong pihak berwenang untuk bertindak.

Para pemimpin dari Gereja Katolik di Pakistan dan kelompok hak asasi manusia menuntut agar putusan pengadilan dipertimbangkan kembali, dengan alasan bahwa gadis itu dipaksa untuk memberikan pernyataannya setelah memasuki pernikahan anak.

Para pengunjuk rasa juga turun ke jalan-jalan di Karachi, ibu kota Pakistan, .

Seperti apa perkembangan terakhir kasus ini?

Pada hari Senin, Pengadilan Tinggi Sindh memerintahkan polisi untuk mencari remaja tersebut.

Ia diamankan pada hari itu juga dan akan tetap dalam tahanan pelindung sampai sidang pengadilan pada 5 November.

Penculiknya ditangkap pada malam yang sama dan dijadwalkan hadir di pengadilan pada hari Selasa.

Keluarga si perempuan pertama kali melaporkan bahwa ia hilang pada 13 Oktober.

Dua hari kemudian, menurut Organisasi Kristen Pusat Bantuan Hukum, Bantuan dan Penyelesaian, ayahnya diberitahu bahwa Ali telah menunjukkan akta nikah yang menyatakan bahwa ia berusia 18 tahun dan telah masuk Islam.

Keluarga tersebut mengklaim bahwa dokumen identitas itu palsu, tetapi ketika kasus tersebut dibawa ke pengadilan pada 27 Oktober.

Pengadilan Tinggi Sindh memberikan hak asuh kepada tersangka penculik gadis itu. Pengadilan juga menawarkan perlindungan dari keluarga gadis itu.

Keputusan tersebut dikecam oleh kelompok hak asasi manusia dan agama.

"Ini adalah tanggung jawab negara untuk ... melindungi warganya, terutama perempuan di bawah umur," kata Joseph Arshad, uskup agung setempat, kepada outlet berita Crux Now pada saat itu.

'Seorang anak 13 tahun tidak dapat putuskan agamanya'

Pastor Saleh Diego, vikar jenderal Keuskupan Agung Karachi, juga membahas masalah pindah agama secara paksa dan mengatakan kepada Catholic News Agency bahwa "seorang anak berusia 13 tahun tidak dapat memutuskan tentang agamanya. Ia adalah gadis yang tidak bersalah ... masih banyak yang harus dipelajari tentang agamanya sendiri. "

Pada akhir Oktober, pengacara keluarga Jibran Nasir mengatakan orang tua gadis itu telah mengajukan petisi pelecehan atas namanya.

https://twitter.com/MJibranNasir/status/1322516343686647808

Pengadilan Tinggi Sindh awalnya menolak permohonan ini, tetapi kemudian membatalkan keputusan tersebut menyusul serangkaian protes.

Gadis itu sekarang berada di bawah perlindungan pengadilan, meskipun Nasir berharap dia segera dikembalikan ke keluarganya.

"[Tempat] paling aman untuk seorang anak adalah bersama orang tuanya," katanya dalam sebuah twit.

"Mudah-mudahan pengadilan akan mengembalikannya ke orang tuanya segera setelah sidang berikutnya."

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini, pernikahan anak masih biasa di Asia Selatan. Di Pakistan, hampir 25% wanita berusia awal 20-an menikah pada saat mereka berusia 18 tahun, menurut laporan tersebut.

(ita/ita)