Kimetsu no Yaiba, Film Pembantai Iblis Bangkitkan Bisnis Bioskop Jepang

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 18:32 WIB
Jakarta -

Pandemi virus corona membuat bioskop di seluruh dunia sepi pengunjung. Kecuali di Jepang, tempat satu film membawa banyak penonton kembali ke bioskop.

Kimetsu no Yaiba The Movie: Mugen Train menjadi film terlaris dalam sejarah perfilman Jepang, menghasilkan 10 miliar yen (Rp1,4 miliar) hanya dalam sepuluh hari mengalahkan film anime klasik Spirited Away yang membutuhkan waktu 25 hari untuk mencapai tonggak yang sama.

Saking larisnya film ini, beberapa bioskop di Jepang memutarnya lebih dari 40 kali sehari.

Jepang sekarang menyaksikan peningkatan relatif jumlah kasus Covid, dengan lebih dari 200 kasus dilaporkan di ibu kota Tokyo pada hari Kamis.

Jadi, ada apa dengan film ini yang membuat orang Jepang kembali ke bioskop meskipun ada risiko infeksi?

Serial populer

Film ini diangkat dari komik Jepang - atau manga - yang sangat populer dengan nama sama.

Kimetsu no Yaiba, dikenal secara internasional sebagai Demon Slayer, berkisah tentang Tanjiro, seorang anak laki-laki yang menjadi pembantai iblis setelah hampir semua anggota keluarganya terbunuh, dan adik perempuannya berubah menjadi iblis.

Film terbaru ini menceritakan Tanjiro menghadapi kawanan iblis di atas kereta yang bergerak.

Buku komiknya, yang terdiri dari 22 jilid, telah tersirkulasi lebih dari 100 juta eksemplar, menurut situs berita Mainichi, yang mengutip penerbit Shueisha Inc.

Awal tahun lalu, ia diadaptasi menjadi serial televisi anime - yang lagi-lagi menjadi sangat populer, dengan pemirsa Jepang menyebutnya serial anime favorit mereka sepanjang masa, menurut survei oleh operator seluler NTT Docomo.

Popularitasnya melonjak secara global ketika serial tersebut diambil oleh raksasa streaming Netflix.

Jadi, tidak mengherankan jika film tersebut diterima dengan baik - meskipun melampaui ekspektasi, meraup $44 juta (Rp649 miliar) dari penjualan tiket dalam tiga hari pertama pemutarannya.

"Untuk menjawab pertanyaan mengapa film itu begitu populer, kita harus kembali ke alasan mengapa serial manga dan animenya begitu populer," kata Profesor Northrop Davis dari Universitas South Carolina kepada BBC.

"Karakter antagonis dalam komik barat secara tradisional satu dimensi (hitam-putih). Tapi manga mendalami kepribadian antagonis untuk membantu pembaca memahami motivasi mereka. Bisa disebut ada "kedekatan". Para karakternya, termasuk iblis, punya cerita latar belakang yang ditulis dengan baik. "

Minim kompetisi

Film ini selalu menarik perhatian itu sudah jelas dari banyaknya penggemar, baik dari serial TV maupun manga.

Tetapi ada juga fakta bahwa di Jepang tidak ada persaingan sama sekali.

Puluhan film telah ditunda rilisnya, atau produksinya dihentikan sama sekali karena pandemi. Film seperti waralaba James Bond dan Fast and Furious telah ditunda di Jepang, dan bahkan film lokal seperti seri Detective Conan juga ditunda.

Satu-satunya film Hollywood besar yang diputar di bioskop Jepang saat ini adalah Tenet, arahan Christopher Nolan.

Bioskop Jepang sedang berjuang keras untuk bertahan, seperti kebanyakan jaringan bioskop lain di seluruh dunia. Pemerintah memerintahkan mereka untuk tetap buka, tetapi tidak banyak memberikan bantuan keuangan.

Jadi wajar saja, jaringan bioskop memanfaatkan peluang emas ini untuk menarik kembali penonton.

Pada hari penayangan perdana, salah satu jaringan bioskop terbesar di Jepang, Toho, memutar film tersebut sebanyak 42 kali di cabang Shinjuku jumlah yang sangat tinggi menurut standar Jepang.

Beberapa bioskop lain juga menjadwalkan lebih dari 40 penayangan hanya dalam satu hari.

Menurut surat kabar Asahi Shimbun, beberapa orang di media sosial berkomentar bahwa jadwal pemutaran film tersebut lebih seperti "jadwal kereta dan bus".

Sejak itu, jumlah pemutaran perlahan-lahan turun sekitar 20 pemutaran per hari pada hari kerja, dan 30 pada akhir pekan.

Amankah pergi ke bioskop?

Bioskop di Jepang saat ini diizinkan untuk buka dengan kapasitas 50% jika mereka juga menjual makanan dan minuman, atau dengan kapasitas 100% tanpa menjual makanan dan minuman artinya, penonton tidak diwajibkan menjaga jarak.

Namun semua penonton bioskop harus mengenakan masker dan tidak berbicara saat berada di dalam aula, sementara staf bioskop juga mengenakan alat pelindung.

Seorang pengunjung bioskop mengatakan kepada Mainichi bahwa aula tidak terlalu penuh karena ada beberapa layar yang menayangkan film tersebut. Ia menambahkan bahwa dia tidak terlalu khawatir tentang risiko infeksi.

Dan para pejabat di Jepang jelas ada di pihak para penonton bioskop.

Bahkan, juru bicara utama pemerintah, Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato dilaporkan mengatakan dalam konferensi pers hariannya bahwa film tersebut telah "memberikan kontribusi besar bagi industri film" menambahkan bahwa dia sendiri telah menonton serial tersebut.

Tapi bukan hanya bioskop Jepang yang mendulang untung.

Toko pakaian, toko makanan, toko alat tulis, dan toko mainan semuanya telah memanfaatkan demam Kimetsu no Yaiba.

Toko pakaian populer Uniqlo menjual barang dagangan bertema Kimetsu no Yaiba, dan jaringan swalayan Lawson meletakkan makanan ringan Kimetsu no Yaiba di rak-raknya.

Peliputan tambahan oleh Sakiko Shiraishi

(ita/ita)