IMF: Asia Menderita Akibat Resesi Terburuk Sepanjang Ingatan

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 18:14 WIB
Jakarta -

Asia Pasifik menderita akibat resesi terburuk sepanjang ingatan masyarakat, namun kini berupaya pulih, kata Dana Moneter Internasional (IMF).

Perkiraan pertumbuhan di kawasan itu kembali diturunkan dari 1.6% ke -2.2% untuk tahun ini.

Akan tetapi, menurut IMF, ada secercah harapan untuk bangkit hingga mencapai hampir 7% tahun depan.

China akan memainkan peranan besar dalam pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik tahun depan, seiring munculnya data terbaru yang menunjukkan pemulihan setelah keterpurukan akibat virus corona.

Meski demikian, masih ada banyak awan hitam mengingat sejumlah negara, seperti India, Filipina, dan Malaysia, masih berjuang memerangi penularan Covid-19.

"Lukanya akan dalam," sebut IMF, seraya merujuk investasi rendah yang bakal terkena dampak tidak langsung hingga pertengahan dekade.

Ketegangan AS-China

Tak hanya berurusan dengan imbas pandemi, negara-negara di kawasan Asia Pasifik juga terpengaruh perang dagang AS-China serta ketegangan antara kedua negara adidaya ekonomi tersebut.

Berbicara kepada BBC pada Kamis (22/10), Jonathan Ostry selaku direktur pelaksana IMF untuk Asia dan Pasifik, mengatakan: "Untuk kawasan yang sangat berorientasi ekspor, ini akan menjadi risiko besar ke depannya.

"Kami khawatir adanya decoupling pusat-pusat teknologi besar tidak hanya di China dan AS tapi lebih luas, yang bakal membuat perdagangan hi-tech memudar dan menyebabkan ketidakefisienan produksi."

Awal pekan ini, China merilis data kuartal Juli-September yang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9% jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

China dipandang IMF sebagai "angka positif yang langka di lautan negatif".

Pertumbuhan pada 2021

Berita baiknya adalah IMF mengestimasi pertumbuhan kawasan Asia Pasifik mencapai 6,9% pada 2021, namun hal ini bergantung pada banyak faktor, termasuk pemutusan penyebaran virus corona.

"Dengan rangkaian kebijakan yang tepat dan sokongan internasional ketika diperlukan, mesin-mesin Asia bisa kembali bekerja sama dan memberi tenaga terhadap kawasan untuk menuju ke depan," kata Ostry.

Salah satu tantangannya adalah mendiversifikasi ekonomi negara-negara Asia dari ketergantungan pada ekspor, yang disebut IMF "dalam tahap pengembangan".

(ita/ita)