Para Ilmuwan Yakin India Telah Mencapai Puncak Pandemi Corona

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 11:12 WIB
India mencatat sekitar 7,5 juta kasus Covid-19 sejauh ini. (Reuters)
Jakarta -

Apakah pandemi virus corona telah mencapai puncaknya di India? Dan apakah penyebarannya dapat diatasi pada awal tahun depan?

Sejumlah ilmuwan terkenal di India yakin akan hal itu. Model matematika mereka menunjukkan India telah melalui puncak penularan terjadi bulan September dan pandemi dapat diatasi pada Februari tahun depan.

Semua model matematika ini menggunakan asumsi bahwa orang mengenakan masker, tidak berada di kerumunan besar, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

India mencatat sekitar 7,5 juta kasus Covid-19 dan lebih dari 114.000 kematian sejauh ini.

Namun, India hanya mencatat sekitar 10% dari kematian secara global. Risiko kematian, atau (case fatality ration), CFR yang menghitung pasien Covid yang meninggal, kurang dari 2%, atau salah satu yang terendah di dunia.

India mencatat puncak pada pertengahan September saat melaporkan lebih dari satu juta kasus. Sejak itu, jumlah kasus terus menurun.

Minggu lalu, India melaporkan rata-rata 62.000 kasus dan 784 angka kematian setiap hari.

Angka kematian terus menurun di sebagian besar negara bagian.

Tes yang dilakukan juga tetap konsisten, dengan rata-rata lebih dari satu juta sampel dilakukan setiap hari pekan lalu.

Tujuh ilmuwan yang terlibat dalam studi matematika yang dibentuk oleh pemerintah termasuk Dr Gagandeep Kang, pakar mikrobiologi dan perempuan India pertama yang terpilih sebagai anggota di Royal Society of London, atau akademi sains Inggris.

Model matematika yang dibentuk mengkaji angka orang yang terkena virus corona, angka orang yang sembuh dan meninggal, dan sebagian orang yang tertular dengan gejala yang cukup berat.

Mereka juga memetakan orang yang tertular tanpa gejala.

Super spreader Covid-19

Para ilmuwan mengatakan tanpa karantina pada akhir Maret, jumlah kasus di India dapat mencapai 14 juta dan lebih dari 2,6 orang meninggal, atau sekitar 23 kali lebih tinggi dari jumlah kematian saat ini.

Berdasarkan studi di dua Negara Bagian Bihar dan Uttar Pradesh, para ilmuwan menyimpulkan bahwa dampak pergerakan para migran dari kota ke desa setelah karantina cukup "minimal" dari sisi jumlah kasus.

"Puncak bisa terjadi pada bulan Juni dan dampaknya adalah rumah sakit yang membludak dan kepanikan besar. Karantina membantu menekan angka kurva," kata Mathukumalli Vidyasagar, profesor di Institut Teknologi Hyderabad, yang juga merupakan anggota pakar sains di Royal Society of London. Vidyasagar memimpin penelitian ini.

Namun sejumlah perayaan akan berlangsung. Perayaan adalah saatnya para keluarga berkumpul.

Acara-acara yang dapat dikategorikan sebagai "super spreader" atau memicu penularan besar dan meningkatnya mobilitas warga, dapat mengubah perkembangan pandemi dalam dua minggu.

Kerala, misalnya, mencatat kenaikan kasus tinggi pada September menyusul perayaan agama, Onam.

ChartBBC

Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan pelonjakan kasus bila warga tidak mengindahkan protokol. Jumlah kasus baru diperkirakan bisa mencapai 2,6 juta pada akhir Oktober, naik dari sekitar 773.000 saat ini.

"Perkiraan kami akan tetap bila warga mematuhi protokol keamanan. Kami percaya bahwa India telah melewati puncak (penularan kasus) pada September. Namun kami tak boleh berdiam. Ada kecenderungan orang untuk memperkirakan bahwa masa terburuk telah lewat," kata Prof Vidyasagar.

Namun sebagian besar pakar epidemiologi percaya puncak berikutnya akan terjadi dan bahwa India utara akan mengalami terjadinya peningkatan tajam kasus selama musim dingin yang dimulai pada November.

Mereka mengatakan penurunan kasus dan angka kematian baru-baru ini memang petunjuk yang menjanjikan namun terlalu awal untuk mengatakan bahwa penularan berkurang.

Dr Bhramar Mukherjee, profesor biostatistik dan pakar epidemiologi di Universitas Michigan, Amerika Serikat, memperhatikan pandemi di India dan mengatakan bahwa India "telah melalui gelombang pertama."

Namun ia yakin bahwa kenaikan kematian akan terjadi pada musim dingin karena polusi, khususnya bagi mereka yang rentan dan memiliki penyakit pernafasan.

India is doing more than 1m testsBBC

Namun, satu hal yang kritis, menurutnya, adalah tetap melakukan survei antibodi dan memonitor kota-kota dan desa-desa dengan proporsi orang yang terkena sedikit, karena daerah itu bisa menjadi tempat penyebaran virus.

"Menilik dari perkembangan kasus dunia sejauh ini, akan ada puncak lagi, dan sulit untuk mengatakan kapan dan seberapa tinggi kasus yang akan muncul. Kuncinya adalah untuk tetap menekan kasus dan jumlah orang yang masuk rumah sakit lebih sedikit dibandingkan kapasitas rumah sakit di satu lokasi tertentu. Dan panduan kesehatan harus terus diterapkan," kata Mukerjee.

Grafik oleh Shadab Nazmi

virus coronaBBC

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

IKUTI LAPORAN KHUSUS TERKAIT VIRUS CORONA

Sudah pernah menyimak saluran YouTube BBC Indonesia? Silakan berlangganan

https://www.youtube.com/watch?v=RzOY5BQdEgo

https://www.youtube.com/watch?v=oXJph0Ixr0o&t=9s

https://www.youtube.com/watch?v=EJb082dBR1s&feature=youtu.be

(ita/ita)