Pelaku Pemenggalan Guru Prancis Minta Bantuan Murid untuk Temukan Samuel Paty

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 10:56 WIB
Bunga-bunga ditaruh di sekolah tempat guru yang dibunuh itu mengajar (Getty Images)
Jakarta -

Pelaku pemenggalan kepala seorang guru di Prancis menunggu di luar sekolah dan meminta sejumlah murid untuk mengidentifikasi targetnya, menurut lembaga antiterorisme Prancis.

Pria itu kemudian mengunggah foto korban yang telah meninggal ke media sosial.

Korban bernama Samuel Paty, 47 tahun, yang sebelumnya menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Si penyerang kemudian menembak polisi dengan senapan udara sebelum ditembak mati.

Jumlah orang yang ditangkap bertambah menjadi 10 pada hari Sabtu (17/10), dan polisi menyelidiki kemungkinan kaitan dengan kelompok ekstremis Islam.

Serangan itu terjadi pada sekitar pukul 17:00 waktu setempat pada hari Jumat (16/10) dekat College du Bois d'Aulne, tempat Paty mengajar, di Kota Conflans-Sainte-Honorine, yang berjarak sekitar 30km dari barat-laut Paris pusat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan serangan itu menunjukkan semua ciri "serangan teroris Islamis" dan guru itu dibunuh karena ia "mengajarkan kebebasan berekspresi".

Acara penghormatan nasional akan digelar untuk Paty pada hari Rabu (21/10).

prancis, guru dipenggal, charlie hebdo, kartun nabi Muhammad, foto: 16 OktoberPembunuhan guru itu dinyatakan Presiden Macron sebagai serangan teroris (Reuters)

Pembunuhan ini terjadi pada saat persidangan atas serangan tahun 2015 terhadap majalah satire Prancis Charlie Hebdo tengah berlangsung. Majalah Charlie Hebdo menjadi target karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang kontroversial.

Tiga minggu lalu, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah Charlie Hebdo.

Charlie Hebdo, karikatur nabi Muhammad

Sebuah mural korban serangan di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2015. (Getty Images)

Kronologi serangan

Perincian tentang penyerangan dan penyelidikan diberikan oleh jaksa penuntut antiterorisme, Jean-Franois Ricard.

Ia mengungkap nama tersangka adalah Abdoulakh A. - seorang pria berusia 18 tahun, lahir di Moskow dan berdarah Chechnya. Ia datang ke Prancis dengan status pengungsi sebagai anak-anak dan tidak dikenal oleh polisi antiterorisme.

Ia hidup di kota vreux, Normandy, yang berjarak sekitar 100km dari TKP dan tidak memiliki kaitan jelas dengan sang guru atau sekolah tempat ia mengajar.

Pria itu pernah beberapa kali tersangkut masalah hukum, dan diadili, tapi hanya dengan dakwaan pelanggaran ringan.

Ia pergi ke kampus pada Jumat siang dan meminta para siswa untuk menunjuk yang mana Samuel Paty itu, kata Ricard.

Si penyerang kemudian membuntuti Paty, yang berjalan kaki pulang ke rumahnya setelah sekolah, melukai kepala korban dengan pisau dan kemudian memenggal kepalanya.

Ricard menyebut saksi mata mendengar si penyerang berteriak "Allahu Akbar", atau "Allah Maha Besar".

Laki-laki itu kemudian mengunggah foto korban ke akun Twitter, bersama cacian untuk PM Macron dan para "kafir" dan "anjing" di Prancis.

Polisi di lokasi pembunuhan guru di Conflans-Sainte-Honorine pada 16 Oktober 2020.

Lokasi pembunuhan telah disegel dan penyelidikan tengah dilakukan. (Getty Images)

Ketika polisi mendekati si penyerang, ia menembakkan senapan udara ke arah polisi, kata Ricard.

Polisi balas menembak. Tersangka berusaha bangun dan ditembak lagi, sampai sembilan kali.

Sebilah pisau dengan panjang 30cm ditemukan di dekat si penyerang.

Perkembangan penyelidikan

Ricard mengatakan Paty telah menjadi sasaran berbagai ancaman sejak menunjukkan kartun Nabi Muhammad dalam kelas tentang kebebasan berekspresi, dalam kaitan dengan kasus Charlie Hebdo.

Undated photo of Samuel Paty

Samuel Paty, seorang guru yang disukai, mendapat banyak ancaman karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad. (AFP)

Majalah satire Prancis itu menjadi sasaran serangan mematikan pada 2015 setelah mempublikasikan kartun tersebut. Persidangan tentang serangan itu masih berlangsung.

Paty, guru sejarah dan geografi, menyarankan para murid yang beragama Islam untuk memalingkan pandangan jika mereka merasa akan tersinggung.

Orang tua salah seorang murid marah karena insiden tersebut. Ia menuduh Paty menunjukkan gambar telanjang Nabi Muhammad.

Sang ayah mengajukan komplain secara formal dan membuat video yang menunjukkan kemarahan pada tindakan Paty, serta menyerukan agar orang-orang datang beramai-ramai ke sekolah untuk protes.

Sang ayah adalah salah satu orang yang kini dalam tahanan polisi, kata Ricard. Ia menambahkan bahwa saudari ipar pria itu bergabung dengan kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam di Suriah pada 2014.

Sedikitnya satu dari orang yang ditangkap dikenali oleh polisi antiterorisme, ujarnya, dan kaitan lainnya sedang diselidiki.

Dan setidaknya empat dari 10 yang ditangkap adalah kerabat si penyerang.

Ricard mengatakan ini adalah serangan kedua sejak persidangan Charlie Hebdo dimulai. Sebelumnya, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah itu.

Ricard berkata ada "ancaman terorisme tingkat tinggi yang sedang berlangsung di tanah Prancis".

Reaksi masyarakat Prancis

Para siswa dikabarkan sangat kaget akan pembunuhan brutal guru yang disukai banyak murid. Seorang ayah menulis di Twitter bahwa anak perempuannya "hancur, ketakutan oleh kekerasan tindakan itu. Bagaimana saya bisa menjelaskan kepadanya hal yang tidak pernah terbayangkan?"

Seorang mantan murid Paty, Martial, 16 tahun, berkata sang guru mencintai pekerjaannya: "Ia sungguh-sungguh ingin mengajari kami banyak hal - kadang-kadang kami berdebat".

Presiden Prancis berkata acara penghormatan nasional akan diselenggarakan untuk Paty, dan tagar #JeSuisSamuel (Saya Samuel) menjadi tren di media sosial, mirip dengan seruan solidaritas #JeSuisCharlie serangan terhadap Charlie Hebdo.

prancis, guru dipenggal, charlie hebdo, kartun nabi MuhammadPresiden Macron menyatakan guru itu dibunuh karena mengajarkan 'kebebasan berekspresi' (EPA)

Berbicara di lokasi kejadian beberapa jam setelah insiden, Presiden Macron menekankan pentingnya persatuan nasional. "Mereka tidak akan menang, mereka tidak akan memecah-belah kita," ujarnya.

Charlie Hebdo pada hari Jumat menyatakan dalam akun twitternya, "Intoleransi baru saja mencapai level baru dan tampaknya terus menebarkan teror di negara kita."

Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer, yang menemui para pemimpin dari serikat guru pada Sabtu, berkata dalam pernyataan yang direkam bahwa Paty telah dibunuh oleh "musuh kebebasan" dan Prancis "tidak akan pernah mundur ketika dihadapkan dengan teror dan intimidasi".

Para pemimpin umat Islam di Prancis juga mengutuk serangan itu. "Masyarakat yang beradab tidak membunuh orang yang tidak bersalah, barbarismelah yang melakukannya," kata Tareq Oubrou, imam masjid di Bordeaux, kepada France Inter.

Majelis rakyat Chechnya yang berbasis di Strasbourg, Eropa, berkata dalam sebuah pernyataan: "Seperti semua orang Prancis, komunitas kami merasa ngeri dengan kejadian ini."

(ita/ita)