Alami Gelombang Ketiga Corona, Iran Memasuki Hari-hari Paling Sulit

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 13:32 WIB
Menurut para pejabat Iran, negara itu telah memasuki gelombang ketiga Covid-19. (EPA)
Jakarta -

Di tengah penyebaran virus corona yang memasuki "gelombang kedua" di banyak negara, terutama di Eropa, Iran telah mencatat kematian dalam gelombang ketiga Covid-19.

Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang paling banyak mencatat infeksi virus corona dan "gelombang ketiga" yang tengah dialami negara itu, sejauh ini yang paling banyak orang meninggal.

Iran mencatat rekor infeksi dalam 24 jam pada pertengahan minggu ini dengan 4.830 kasus baru pada Rabu (14/10) lalu, menurut data dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Sampai Jumat (16/10), angka total infeksi di Iran mencapai lebih dari 522.000 dan angka kematian hampir 30.000. Angka infeksi dunia, sejauh ini mencapai lebih dari 39 juta dan kematian hampir 1,1 juta.

Negara Persia ini telah mencatat rekor sejak tanggal 22 September lalu, dengan melewati 3.574 kasus dalam 24 jam, angka yang tercatat paling tinggi pada awal Juni, pada "gelombang kedua."

"Walaupun gelombang kedua berhasil ditekan, gelombang ketiga ini muncul karena protokol keberhasilan tidak diindahkan," kata Menteri Kesehatan Saeed Namaki pada akhir September seperti dikutip kantor berita resmi Iran Press.

Pada tanggal 5 Oktober lalu, Iran telah mencatat angka kematian seperti yang terdata pada Juli lalu.

Jumlah kematian sebanyak 279 pada Rabu (14/10) lalu juga merupakan angka tertinggi dalam 24 jam yang terjadi.

Namun angka kematian yang sebenarnya jauh lebih tinggi.

Bulan Agustus lalu BBC seksi Persia menerima bocoran laporan pemerintah yang menunjukkan pada tanggal 20 Juli, hampir 42.000 orang meninggal dengan gejala Covid-19. Namun Kementerian Kesehatan hanya melaporkan kematian sebanyak 14.405.

Jumlah orang yang terinfeksi dalam dokumen yang dibocorkan itu juga dua kali lipat dibandingkan dengan data yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan.

Penggunaan masker di ibu kota Tehran wajib sejak 7 Oktober.Penggunaan masker di ibu kota Tehran wajib sejak 7 Oktober. (EPA)

Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Haririchi akhirnya mengakui bahwa angka kematian sebenarnya "secara signifikan" lebih tinggi dari angka resmi yang dikeluarkan.

Menurut BBC Persia, Haririchi menerangkan bahwa statistik resmi didasarkan pada jumlah kematian orang yang telah dinyatakan positif melalui uji PCR. Namun ia memperkirakan jumlah korban virus corona - tergantung pada tiap provinsi - sekitar 1,5 dan 2,2 lebih tinggi dibandingkan dengan data yang dikeluarkan.

Wakil menteri juga memperingatkan petugas kesehatan mengalami kesulitan dan pasok medis hampir habis di tengah situasi yang semakin parah di Tehran dan sejumlah daerah lain.

Tehran "ditutup" - "Hari-hari paling sulit dalam gelombang ketiga"

Pemakaman di Iran.

Jumlah kematian di Iran dalam gelombang ketiga ini dilaporkan sudah tinggi. (Getty Images)

Saat ini, 27 dari 31 provinsi di negara itu disebut pemerintah Iran sebagai "zona merah" karena pesatnya kenaikan angka infeksi.

Kondisi di ibu kota Tehran dan sekitarnya digambarkan para pejabat "sangat kritis."

Dr Alireza Zali, ketua gugus tugas virus corona di provinsi Tehran, memperingatkan Rabu (14/10) lalu, bahwa pihaknya mengalami "hari-hari paling sulit dalam gelombang ketiga" virus corona.

"Bila tidak dilakukan intervensi segera, kenaikan kasus tidak akan menurun dan kondisi akan tetap seperti itu," tambah Zali dalam pernyataan yang diberikan kepada BBC Persia.

Peringatan bagi yang tidak menuruti protokol kesehatan

warga IranPemerintah Iran memperingatkan mereka yang tidak mengikuti protokol kesehatan akan dikenakan hukuman lebih berat. (Reuters)

Dalam upaya menekan penyebaran virus, penggunaan masker di ibu kota Tehran diwajibkan sejak Sabtu lalu (10/10) dan pemerintah Iran mengumumkan denda sebesar Rp97.000 bagi yang keluar rumah tanpa masker.

Presiden Hassan Rouhani, minggu lalu menetapkan bahwa siapapun yang menyembunyikan fakta bahwa mereka tertular Covid-19 dan tidak menjalani karantina mandiri selama 14 hari harus dikenakan "hukuman yang lebih berat."

Presiden juga memperingatkan para pejabat pemerintah yang berulang kali melanggar aturan dapat dikenakan sanksi dan bisnis yang melanggar akan ditutup.

Peraturan dan pernyataan pemerintah itu menunjukkan sikap resmi pihak berwenang yang menuding penyebaran virus karena kurang disiplinnya masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, khususnya penggunaan masker dan menjaga jarak.

virus coronaBBC

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

IKUTI LAPORAN KHUSUS TERKAIT VIRUS CORONA

Sudah pernah menyimak saluran YouTube BBC Indonesia? Silakan berlangganan

https://www.youtube.com/watch?v=RzOY5BQdEgo

https://www.youtube.com/watch?v=oXJph0Ixr0o&t=9s

https://www.youtube.com/watch?v=EJb082dBR1s&feature=youtu.be

(ita/ita)