China dan Rusia Terpilih Jadi Anggota Dewan HAM PBB, Arab Saudi Gagal

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 08:48 WIB
Jenewa -

China dan Rusia terpilih untuk duduk di Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meski dua negara tersebut menghadapi tuduhan sebagai negara dengan catatan pelaksanaan HAM yang paling buruk di dunia.

Arab Saudi, yang juga mencalonkan diri untuk masuk ke Dewan HAM PBB, gagal mendapatkan suara.

Sejumlah pihak memprotes masuknya China atas perlakuan terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Sementara, Rusia menghadapi tuduhan telah meracuni orang-orang yang kritis terhadap pemerintah.

Tidak diketahui apakah kritik terhadap Riyadh terhadap pembunuhan jurnalis senior, Jamal Khashoggi dua tahun lalu menjadi faktor penyebab negara itu tidak mendapatkan kursi.

Kelompok pegiat HAM, Human Rights Watch, mengatakan kegagalan Arab Saudi untuk memenangkan cukup suara adalah pengingat perlunya lebih banyak persaingan untuk memblokir kandidat yang tidak layak.

Anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB harus menjunjung standar tertinggi.

Sebelumnya, Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa (13/10) diagendakan memilih 15 dari 47 kursi anggota yang ada.

Negara anggota baru akan menduduki kursi di Dewan HAM selama masa bakti tiga tahun terhitung mulai Januari 2021.

Pemilihan ini melibatkan kesepakatan-kesepakatan di belakang layar. Negara calon anggota dinyatakan kalah jika mengantongi kurang dari 97 suara dalam pemilihan rahasia.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyerukan kepada anggota PBB untuk mempertimbangkan ulang posisi ketiga negara itu ketika pemungutan suara digelar.

Mereka kembali mengangkat perlakuan Beijing terhadap kelompok-kelompok minoritas, termasuk Muslim Uighur di Xinjiang, dan pemberlakuan undang-undang keamanan di Hong Kong.

Dalam hal Rusia, mereka menggarisbawahi bahwa Moskow kerap dicurigai meracuni para pengkritiknya.

Adapun Arab Saudi terlibat dalam skandal pembunuhan wartawan pembangkang, Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada tahun 2018.

Dalam berbagai kesempatan terpisah, ketiga negara selalu mempertahankan catatan HAM mereka.

'Penyulut api ditempatkan di pemadam kebakaran'

UN Watch, salah satu kelompok yang menentang tiga negara itu menduduki Dewan HAM PBB, mengatakan pemilihan mereka bertentangan dengan apa yang mereka praktikkan.

"Memilih kediktatoran sebagai hakim-hakim PBB untuk masalah hak asasi manusia bagaikan menempatkan sekelompok penyulut api sebagai penanggung jawab di bagian pemadam kebakaran," kata direktur eksekutif UN Watch, Hillel Neuer.

Polisi Hong Kong, bendera China, Uighur

Polisi antihuru-hara di Hong Kong menahan seorang pengunjuk rasa setelah bendera China diturunkan dari tiang dalam demonstrasi pada Desember 2019 untuk mendukung hak-hak Muslim Uihgur di Xinjiang, China. (Reuters)

Kursi keanggotaan Dewan HAM dikelompokkan ke dalam lima kawasan.

Untuk kawasan Asia Pasifik, negara-negara yang juga mencalonkan diri adalah Arab Saudi, China, Nepal, Pakistan dan Uzbekistan untuk mengisi empat kursi.

"Pelanggar HAM berulang-ulang seharusnya tak dihadiahi dengan kursi di Dewan HAM," Demikian pesan Louis Charbonneau dari Human Rights Watch (HRW).

Dua kursi kelompok Eropa timur yang kosong dibidik oleh Rusia dan Ukraina. Kelompok Eropa barat akan diduduki oleh Prancis dan Inggris.

Rusia, Navalny

Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny mengaku diracuni oleh pemerintah negaranya. Ia sempat menjalani perawatan di Berlin, Jerman. (Reuters)

Pantai Gading, Senegal, Malawi dan Gabon mencalonkan diri untuk mengisi empat kursi kawasan Afrika.

Kawasan Amerika Latin dan Karibia akan ditempati oleh Meksiko, Kuba dan Bolivia untuk tiga kursi yang ada.

Presiden Donald Trump menarik keanggotaan Amerika Serikat dari Dewan HAM PBB pada tahun 2018 dan mengejeknya "munafik".

(nvc/nvc)