Meninggal di Usia 15 Tahun, Carlo Acutis Jadi Santo Milenial Pertama

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 19:00 WIB
Orang tua Carlo Acutis menghadiri pemberkatan beatifikasi pada Sabtu (10/10). (PA Media)
Jakarta -

Seorang remaja Italia yang menggunakan internet untuk menyebarkan imannya kemungkinan akan menjadi santo milenial pertama Gereja Katolik.

Carlo Acutis, yang meninggal dunia karena leukimia di usia 15 tahun pada 2006, mendapat julukan sebagai "santo pelidung internet".

Dia diyakini sebagai orang modern termuda yang dibeatifikasi - tahap terakhir sebelum menjadi santo.

Upacara beatifikasi untuk Acutis dilakukan di Asisi, Italia pada Sabtu (10/10).

Beatifikasi adalah salah satu tahap untuk menjadikan seseorang yang telah meninggal menjadi santo atau orang suci dalam Gereja Katolik,

Remaja ini tinggal selangkah lagi untuk dinobatkan sebagai santo.

Carlo Acutis adalah seorang remaja Italia kelahiran Inggris, penganut Katolik taat, yang memiliki bakat dalam bidang pemrograman komputer. Dia juga membantu menjalankan situs untuk organisasi Katolik.

Vatikan memberikan gelar Beato kepada Acutis karena dia dianggap telah melakukan mukjizat menyelamatkan nyawa anak laki-laki lain.

Gereja mengklaim dia menjadi "perantara dari surga" pada 2013 dalam menyembuhkan seorang anak laki-laki Brasil yang menderita penyakit pankreas langka.

Proses pemberkatan Carlo Acutis menjadi Beato dipimpin oleh Kardinal Agostino Vallini yang memuji amal yang telah dilakukan Acutis.

"Carlo menggunakan internet untuk mengabarkan Injil, untuk menjangkau sebanyak mungkin orang," kata Kardinal Agostino Vallini pada upacara pemberkatan.

"Orang-orang muda mungkin telah bosan dengan pelayanan pastoral yang mungkin sedikit tidak sejalan dengan waktu meskipun telah dilakukan semua upaya," kata juru bicara Gereja Enzo Fortunato, menurut kantor berita AFP.

"Namun Tuhan melakukan campur tangan dalam sejarah dan urusan manusia dan memberi kita lampu petunjuk ini," tambahnya.

Supaya bisa menjadi seorang santo, Vatikan harus memverifikasi mukjizat kedua atas namanya.

Tapi Paus Fransiskus telah mengesampingkan persyaratan ini.

Acutis lahir di London pada Mei 1991 dari orang tua berwarga negara Italia. Keluarganya kemudian pindah ke Milan, dan dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota itu.

"Ada dalam dirinya kecenderungan alami akan [sesuatu] yang suci," kata ibunya, Antonia Salzano, kepada surat kabar Corriere della Sera awal tahun ini.

Remaja itu memiliki minat besar terhadap komputer dan dilaporkan belajar secara otodidak untuk membuat kode di usia muda.

"Dia dianggap sebagai seorang jenius [di bidang] komputer," kata Salzano dalam sebuah wawancara dengan Vatican News.

"Apa yang sudah dia lakukan? Dia tidak menggunakan [komputer] untuk mengobrol atau bersenang-senang."

Justru, Acutis mengelola situs untuk organisasi Katolik lokal dan mengembangkan situsnya sendiri.

Dia disebut menyadari akan bahaya teknologi, sesuatu yang disebut oleh Paus Fransiskus ketika dia berbicara tentang anak-anak remaja tahun lalu.

"[Acutis] melihat bahwa banyak anak-anak muda, yang ingin tampil berbeda, akhirnya benar-benar menjadi seperti orang lain, mengejar apa pun yang diatur untuk mereka dengan mekanisme konsumerisme dan distraksi," kata Paus.

Acutis juga terlibat dalam kerja amal dan menghabiskan uangnya membantu orang-orang tak mampu di tempat dia tinggal. Dia juga menjadi relawan di dapur umum di Milan.

"Dengan tabungannya, dia membeli kantong tidur untuk para tunawisma dan pada malam hari dia membawakan mereka minuman panas," kata ibunya kepada Catholic News Agency.

Bagaimana seseorang bisa menjadi santo?

Ada beberapa langkah yang diperlukan bagi seseorang bisa menjadi santo di Gereja Katolik.

1) Masa tunggu

Proses untuk menjadikan seseorang sebagai santo biasanya tidak dapat dimulai hingga setidaknya lima tahun setelah kematian mereka. Tetapi masa tunggu ini, dalam beberapa keadaan, dapat dicabut oleh Paus.

2) Menjadi 'hamba Tuhan'

Sebuah penyelidikan kemudian dilakukan untuk memeriksa apakah orang tersebut menjalani hidup mereka secara kudus. Bukti dikumpulkan, dan jika kasus diterima individu tersebut disebut "hamba Tuhan".

3) Bukti 'kebajikan heroik'

Departemen yang membuat rekomendasi kepada Paus tentang santo kemudian meneliti buktinya.

Jika kasusnya disetujui, itu diteruskan ke Paus yang memutuskan apakah orang tersebut menjalani kehidupan "kebajikan heroik". Jika demikian, mereka bisa disebut "terhormat".

4) Verifikasi mukjizat

Tahap selanjutnya, beatifikasi, yang membutuhkan mukjizat terkait dengan doa yang dibuat untuk calon santo setelah kematian mereka.

Mukjizat itu perlu "diverifikasi" dengan bukti sebelum diterima. Setelah beatifikasi, calon diberi gelar "diberkati".

5) Kanonisasi

Ini adalah langkah terakhir seseorang yang telah meninggal dijadikan santo. Untuk mencapai tahap ini, biasanya dibutuhkan bukti mukjizat lain yang berkaitan individu yang bersangkutan.

(ita/ita)